<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>fiqh &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/fiqh/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "fiqh"</description>
	<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 10:31:30 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Fiqh]]></title>
<link>http://kampungsalaf.wordpress.com/?p=319</link>
<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 08:34:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Fathan As Salafy</dc:creator>
<guid>http://kampungsalaf.da.wordpress.com/2008/10/08/fiqh/</guid>
<description><![CDATA[Mandi Besar
Kawin Campur
Tayamum
Fatwa Ramadhan
Larangan Bagi Wanita
Kemungkaran-kemungkaran Di Hari]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.salafishare.com/18LYV4GYW8PO/6KRXCKR.pdf" target="_blank">Mandi Besar</a><br />
<a href="http://www.salafishare.com/18WGT76QGVHJ/ZIQVVM1.pdf" target="_blank">Kawin Campur</a><br />
<a href="http://www.salafishare.com/19VJR3W5BDF7/V4WESPH.pdf" target="_blank">Tayamum</a><br />
<a href="http://www.salafishare.com/19IWJG490LCC/Q5S4ABR.pdf" target="_blank">Fatwa Ramadhan</a><br />
<a href="http://www.salafishare.com/19BIMLXTK7PH/RX84W2U.pdf" target="_blank">Larangan Bagi Wanita</a><br />
<a href="http://www.salafishare.com/19VREBBCOT6E/L40YJ6W.pdf" target="_blank">Kemungkaran-kemungkaran Di Hari Raya</a><br />
<a href="http://www.salafishare.com/19OHD9WR9LV1/BWVPM7K.pdf" target="_blank">Suci Dengan Air</a><br />
<a href="http://www.salafishare.com/19Q6LCVXOA47/I9SLKXA.pdf" target="_blank">Mahrom Bagi Wanita Bagian ke 1</a><br />
<a href="http://viewer.zoho.com/docs/yx4c9" target="_blank">Mahrom Bagi Wanita Bagian ke 2</a><br />
<a href="http://www.salafishare.com/17UO9CTXCVP3/2PLEAVT.pdf" target="_blank">Bagaimana Kita Merawat Jenazah</a><br />
<a href="http://www.salafishare.com/17JXLDG3YDO9/9ZXXC2Q.pdf" target="_blank">Poligami</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Syariat Poligami]]></title>
<link>http://jacksite.wordpress.com/?p=499</link>
<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 07:39:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
<guid>http://jacksite.da.wordpress.com/2008/10/08/syariat-poligami/</guid>
<description><![CDATA[ 
Syariat Poligami
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/10/syariat-poligamitaaddud-pro-kontra-di.html" target="_blank">Syariat Poligami</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hukuman Bagi Pencuri]]></title>
<link>http://jacksite.wordpress.com/?p=497</link>
<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 07:38:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
<guid>http://jacksite.da.wordpress.com/2008/10/08/hukuman-bagi-pencuri/</guid>
<description><![CDATA[ 
Hukuman Bagi Pencuri
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/10/hukuman-bagi-pencuri.html" target="_blank">Hukuman Bagi Pencuri</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sholat dan Hukumnya]]></title>
<link>http://abdulloh.wordpress.com/?p=207</link>
<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 07:31:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
<guid>http://abdulloh.da.wordpress.com/2008/10/08/sholat-dan-hukumnya/</guid>
<description><![CDATA[Sholat dan Hukumnya
Penulis : Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

Shalat, ibadah yang demikian uta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Sholat dan Hukumnya</p>
<p style="text-align:center;"><em><span class="atas">Penulis : Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span class="fnu">Shalat, ibadah yang demikian utama ini ternyata banyak yang meninggalkannya. Sebagian besar memang dilatari kemalasan, namun tak sedikit yang mengingkari kewajibannya. Yang disebut belakangan kebanyakan menjangkiti sebagian dari mereka yang belajar “Islam” ke negara-negara Barat.</span></p>
<p><span class="fnu">Shalat sebagaimana yang kita ketahui merupakan <strong>tiang agama</strong>, seperti dinyatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya:</span><!--more--><span class="fnu"><br />
</span><span class="fnu"><br />
</span><span class="fnu">رَأْسُ اْلأَمْرِ اْلإِسْلاَمُ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ، وَذَرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ“Pokok dari perkara ini adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad fi sabillah.” (HR. Ahmad 5/231, At-Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3979, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi dan Shahih Ibnu Majah)</p>
<p></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span class="fnu"><strong>Secara bahasa, shalat berarti doa dengan kebaikan</strong>. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ</p>
<p>“Shalatlah untuk mereka karena sesungguhnya shalatmu adalah ketenangan1 bagi mereka.” (At-Taubah: 103)</p>
<p>Makna “bershalatlah untuk mereka” adalah berdoalah untuk mereka.2</p>
<p>Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ، فَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ، وَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ</p>
<p>“Apabila salah seorang dari kalian diundang (untuk makan) maka hendaklah ia memenuhi undangan tersebut. Bila ia dalam keadaan tidak berpuasa, hendaklah ia makan (jamuan yang disediakan oleh tuan rumah, pen.). Namun bila ia sedang berpuasa maka hendaknya ia mendoakan tuan rumah.” (HR. Muslim no. 1431)</p>
<p>Ibadah yang disyariatkan ini dinamakan dengan nama doa/shalat karena tercakup di dalamnya doa-doa.</p>
<p></span>
</p>
<p style="text-align:justify;"><span class="fnu"><strong> Adapun makna shalat dalam syariat adalah peribadatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ucapan dan perbuatan yang telah diketahui, diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, disertai syarat-syarat yang khusus dan dengan nia</strong>t. (Al-Fiqhu ‘Alal Madzhabil Arba’ah, 1/160, Subulus Salam, 1/169, Asy-Syarhul Mumti’, 1/343, Taudhihul Ahkam, 1/469, Taisirul ‘Allam, 1/109)</p>
<p>Ibnu Qudamah rahimahullahu menyatakan, bila dalam syariat disebutkan perkara shalat atau hukum yang berkaitan dengan shalat maka shalat ini dipalingkan dari maknanya secara bahasa kepada pengertian shalat secara syar’i3.</p>
<p></span>
</p>
<p style="text-align:justify;"><span class="fnu">Shalat ini hukumnya <strong>wajib</strong> menurut Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin.</p>
<p>Dari Al-Qur`an, kita dapatkan kewajibannya antara lain dalam:</p>
<p>وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ</p>
<p>“Tidaklah mereka itu diperintah kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuknya dalam keadaan hanif (condong kepada tauhid dan meninggalkan kesyirikan) dan agar mereka menegakkan shalat serta membayar zakat. Yang demikian itu adalah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5)</p>
<p>Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتَابًا مَوْقُوْتًا</p>
<p>“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa`: 103)</p>
<p>Dari As-Sunnah, shalat termasuk rukun Islam yang tersebut dalam hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:</p>
<p>بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقاَمِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ</p>
<p>“Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu syahadat laa ilaaha illallah dan Muhammadan Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 113)</p>
<p>Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu saat mengutusnya ke negeri Yaman untuk mendakwahkan Islam kepada ahlul kitab yang tinggal di negeri tersebut:</p>
<p>فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ</p>
<p>“Ajarkanlah kepada mereka bahwa Allah memfardhukan kepada mereka lima shalat dalam sehari semalam.” (HR. Al-Bukhari no. 1395 dan Muslim no. 121)</p>
<p>Dari sisi ijma’, umat ini telah sepakat akan wajibnya shalat lima waktu sehari semalam. Tak ada seorang pun yang menentang kewajibannya, sampai-sampai ahlul bid’ah pun mengakui kewajibannya. (Maratibul Ijma’, Ibnu Hazm, hal. 47, Al-Mughni, kitab Ash-Shalah, Asy-Syarhul Mumti’, 1/345)</p>
<p>Ibadah yang satu ini memiliki banyak faedah yang tak terbatas, baik dari sisi agama maupun dunia. Ibadah ini sangat bermanfaat bagi kesehatan, memberi dampak positif dalam hubungan kemasyarakatan dan keteraturan hidup (Taisirul ‘Allam, 1/109). Di dalamnya pun tercakup banyak macam ibadah. Selain doa, di dalamnya terdapat dzikrullah, ada tilawah Al-Qur`an, berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, ruku’, sujud, tasbih dan takbir. Karenanya, shalat merupakan induk/ puncak ibadah badaniyyah (ibadah yang dilakukan oleh tubuh). (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 1/79)</p>
<p></span>
</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> Penyebutan Shalat dalam Al-Qur`an</strong></p>
<p>Banyak sekali ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyebutkan tentang shalat. Terkadang digabungkan penyebutannya dengan dzikir (mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala) seperti dalam ayat berikut ini:</p>
<p>إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ</p>
<p>“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, dan untuk mengingat Allah (berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) dengan banyak.” (Al-‘Ankabut: 45)</p>
<p>وَأَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِي</p>
<p>“Tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Thaha: 14)</p>
<p>Terkadang penyebutannya digandengkan dengan zakat seperti dalam ayat:</p>
<p>وَأَقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ</p>
<p>“Tegakkanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” (Al-Baqarah: 110)</p>
<p>Terkadang pula digandengkan dengan kesabaran:</p>
<p>وَاسْتَعِيْنُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ</p>
<p>“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong kalian….” (Al-Baqarah: 45)</p>
<p>Dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> Keutamaan Shalat dan Kedudukannya dalam Islam</strong></p>
<p>Shalat yang selalu kita kerjakan setiap hari, memiliki kedudukan yang besar dan agung dalam agama ini. Ibadah yang mulia ini disyariatkan pada seluruh umat, tidak hanya pada umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Maryam ibunda ‘Isa ‘alaihissalam:</p>
<p>يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِيْنَ</p>
<p>“Wahai Maryam, taatilah Rabbmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (Ali ‘Imran: 43)</p>
<p>Hal ini menunjukkan pentingnya keberadaan shalat, juga karena <strong>shalat merupakan penghubung antara seseorang dengan Rabbnya</strong>. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima kewajiban ibadah ini langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa perantara, pada malam Mi’raj di Sidratul Muntaha di langit ketujuh, sekitar tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/344, Taudhihul Ahkam, 1/469)</p>
<p>Begitu pentingnya shalat ini, sampai-sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk menjaganya baik di waktu muqim (menetap di kediaman, tidak bepergian) maupun di waktu safar (bepergian jauh/keluar kota), baik dalam keadaan aman maupun dalam keadaan mencekam seperti situasi perang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُوْمُوا لِلهِ قَانِتِيْنَ. فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالاً أَوْ رُكْبَانًا فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَا لَمْ تَكُوْنُوا تَعْلَمُوْنَ</p>
<p>“Jagalah oleh kalian semua shalat dan jagalah pula shalat wustha (shalat ‘Ashar). Berdirilah karena Allah dalam shalat kalian dengan khusyu’. Jika kalian dalam keadaan takut (bahaya) maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kalian telah aman, sebutlah/ingatlah Allah sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kalian apa yang belum kalian ketahui.” (Al-Baqarah: 238-239)</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengancam orang-orang yang menyia-nyiakan shalat:</p>
<p>فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاَةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا</p>
<p>“Lalu datanglah setelah mereka, pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:</p>
<p>فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّيْنَ. الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُوْنَ</p>
<p>“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang melalaikan shalat mereka.” (Al-Ma’un: 4-5)</p>
<p>Yang perlu diketahui, shalat ini merupakan <strong>kewajiban pertama</strong> yang harus ditunaikan seorang hamba <strong>setelah ia mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala</strong>. Sebagaimana hal ini ditunjukkan dalam ayat:</p>
<p>فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيْلَهُمْ</p>
<p>“Apabila telah habis bulan-bulan Haram, bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kalian menjumpai mereka, tangkaplah mereka, kepung dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dari kesyirikan mereka dan mendirikan shalat serta menunaikan zakat maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.” (At-Taubah: 5)</p>
<p>Shalat yang dikerjakan dengan benar akan mencegah dari perbuatan kemungkaran:</p>
<p>إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ</p>
<p>“Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Al-‘Ankabut: 45)</p>
<p>Mengerjakan shalat juga akan <strong>menghapuskan kesalahan-kesalahan</strong>. Karena shalat <strong>merupakan kebajikan utama, sementara kebajikan akan menghapus kejelekan</strong>:</p>
<p>إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ</p>
<p>“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan kesalahan-kesalahan.” (Hud: 114)</p>
<p>Di antara bukti yang menunjukkan bahwa shalat merupakan amalan yang tinggi dan utama bila dibandingkan amalan-amalan lain adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang seseorang melakukannya sampai ia mencuci anggota-anggota wudhunya, ditambah dengan memerhatikan kebersihan badan seluruhnya. Demikian pula pakaian dan tempat shalat harus suci/bersih dari kotoran/najis. Bila tidak mendapatkan air atau udzur untuk menggunakannya, maka ia dapat menggantinya dengan tayammum. (Ta’zhim Qadri Ash-Shalah, Al-Imam Al-Marwazi, 1/170)</p>
<p>Banyak hadits yang menyebutkan keutamaan dan tingginya kedudukan shalat dalam agama ini, di antaranya:</p>
<p>Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلاَةُ، فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ</p>
<p>“Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Bila shalatnya baik maka baik pula seluruh amalnya, sebaliknya jika shalatnya rusak maka rusak pula seluruh amalnya.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Ausath, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1358 karena banyak jalannya)</p>
<p>Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيْهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا، مَا تَقُوْلُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ؟ قَالُوْا: لاَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئاً. قَالَ: فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا</p>
<p>“Apa pendapat kalian bila ada sebuah sungai di depan pintu salah seorang dari kalian, di mana dalam setiap harinya ia mandi di sungai tersebut sebanyak lima kali, apa yang engkau katakan tentang hal itu apakah masih tertinggal kotoran padanya?” Para sahabat menjawab, “Tentu tidak tertinggal sedikitpun kotoran padanya.” Rasulullah bersabda, “Yang demikian itu semisal shalat lima waktu. Allah menghapus kesalahan-kesalahan dengan shalat tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 528 dan Muslim no. 1520)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> Jumlah Shalat Fardhu</strong></p>
<p>Shalat diwajibkan setiap malam dan siangnya sebanyak <strong>lima kali</strong>. Inilah yang dikatakan shalat fardhu4 atau shalat wajib. Shalat fardhu ini disebutkan dalam hadits Thalhah bin ‘Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkisah:</p>
<p>جَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرُ الرَّأْسِ يُسْمَعُ دَوِيُّ صَوْتِهِ وَلاَ يُفْقَهُ مَا يَقُوْلُ حَتَّى دَنَا، فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَمْسُ صَلَوَاتٍ فيِ الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ. فَقَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرَهُنَّ؟ قَالَ: لاَ، إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ</p>
<p>“Datang seorang lelaki dari penduduk Najd dengan rambut yang kusut masai, terdengar pekik suaranya yang keras (dari kejauhan) namun tidak dapat dipahami apa yang ia katakan, hingga ia mendekat. Ternyata ia bertanya tentang Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda, ‘Shalat lima waktu sehari semalam.’ Orang itu bertanya lagi, ‘Apakah ada shalat lain yang wajib aku tunaikan selain shalat lima waktu tersebut?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, kecuali bila engkau hendak mengerjakan shalat tathawwu’ (shalat sunnah)…’.” (HR. Al-Bukhari no. 46 dan Muslim no. 100)</p>
<p>Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu berkata, “Hadits ini menunjukkan tentang shalat yang difardhukan kepada para hamba (yaitu shalat lima waktu, pent.).” (Nailul Authar,1/398)</p>
<p>Lima shalat yang diwajibkan tersebut adalah <strong>shalat Subuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan ‘Isya</strong>. Kelima shalat ini hukumnya <strong>fardhu ‘ain</strong>, dibebankan kepada setiap <strong>muslim yang mukallaf, laki-laki ataupun perempuan</strong>,<strong> orang merdeka ataupun budak</strong>. Di sana ada pula shalat yang hukumnya <strong>fardhu kifayah</strong> yaitu <strong>shalat</strong> <strong>jenazah</strong>. Shalat ini hanya dibebankan kepada orang yang hadir di tempat tersebut, bila sudah ada yang menunaikannya maka gugurlah kewajiban bagi yang lain. (Al-Muhalla, 2/3)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> Kepada Siapa Shalat Ini Diwajibkan?</strong></p>
<p>Shalat diwajibkan kepada <strong>setiap muslim yang mukallaf</strong>, yakni <strong>yang telah baligh dan berakal</strong>. Adapun orang yang belum baligh dan tidak berakal <strong>gugurlah</strong> darinya kewajiban tersebut. Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:</p>
<p>رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الْمُبْتَلَى حَتَّى يَبْرَأَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَكْبُرَ</p>
<p>“Diangkat pena dari tiga golongan: orang yang tidur sampai ia bangun, orang gila sampai kembali akalnya atau sadar, dan anak kecil hingga ia besar.” (HR. Abu Dawud no. 4398 dan selainnya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Irwa`ul Ghalil no. 297)</p>
<p>Dengan demikian orang yang<strong> tidur dan pingsan, orang gila, dan anak kecil, tidak dibebankan kewajiban shalat atas mereka sampai hilang penghalang yang ada</strong>. Yakni orang yang <strong>tertidur telah bangun dari tidur</strong>, <strong>orang yang pingsan telah siuman dari pingsannya</strong>, <strong>orang gila telah pulih dari sakit gilanya atau telah kembali akalnya, sedangkan anak kecil telah datang masa balighnya</strong>, di antaranya dengan tanda mimpi basah (keluar mani) bagi anak laki-laki dan haid bagi anak perempuan5.</p>
<p>Digugurkan kewajiban shalat ini dari wanita yang sedang <strong>haid dan nifas</strong>. Bahkan haram bagi mereka mengerjakan shalat sampai suci dari haid atau nifas. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika ada yang bertanya sebab kaum wanita dikatakan kurang agama dan akalnya:</p>
<p>أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ، فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِيْنِهَا</p>
<p>“Bukankah jika wanita itu haid ia tidak melaksanakan shalat dan tidak puasa. Maka itulah yang dikatakan kurang agamanya6.” (HR. Al-Bukhari no. 304 dan Muslim no. 238)</p>
<p>Terhadap shalat yang mereka tinggalkan dalam masa keluarnya darah tersebut, tidak ada keharusan untuk menggantinya (meng-qadha) di hari yang lain saat suci, berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ada seorang wanita bertanya kepadanya: “Apakah salah seorang dari kami harus mengqadha shalatnya bila telah suci dari haid?” Aisyah pun bertanya dengan nada mengingkari: “Apakah engkau wanita Haruriyah? Kami dulunya haid di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam namun beliau tidak memerintahkan kami untuk mengganti shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 321 dan Muslim no. 709)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> Faedah </strong></p>
<p>Orang yang tertidur atau lupa hingga terluputkan shalat wajib darinya, maka ia mengerjakan shalat yang luput tersebut <strong>ketika terbangun atau ketika ia ingat</strong>. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p>مَنْ نَسِيَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا</p>
<p>“Siapa lupa dari mengerjakan satu shalat (fardhu) maka hendaklah ia kerjakan shalat tersebut ketika ingat.” (HR. Al-Bukhari no. 572 dan Muslim no. 684)</p>
<p>Dalam riwayat Muslim (no. 1567):</p>
<p>إِذَا رَقَدَ أَحَدُكُمْ عَنِ الصَّلاَةِ أَوْ غَفَلَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا</p>
<p>“Apabila salah seorang dari kalian tertidur hingga luput dari mengerjakan satu shalat atau ia lupa, maka hendaklah ia menunaikan shalat tersebut ketika ia ingat (terjaga dari tidur).”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> Shalat Anak Kecil</strong></p>
<p>Walaupun anak kecil belum diwajibkan mengerjakan shalat hingga ia besar atau baligh, namun dituntut dari walinya (orangtua atau pihak yang bertanggung jawab mengasuh anak tersebut) agar memerintahkan si anak mengerjakan shalat ketika telah mencapai <strong>usia tujuh tahun</strong>, dan <strong>menghukumnya dengan pukulan</strong> bila ia meninggalkannya ketika telah berusia sepuluh tahun dalam rangka pengajaran dan latihan, bukan karena pewajiban. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p>مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ. وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ. وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ</p>
<p>“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila meninggalkan shalat pada saat mereka telah berusia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud no. 495 dan lainnya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud dan Irwa`ul Ghalil no. 247)</p>
<p>Al-Imam As-Syaukani rahimahullahu berkata, “Hadits ini menunjukkan wajibnya memerintahkan anak kecil untuk mengerjakan shalat bila mereka telah mencapai usia tujuh tahun, dan mereka dipukul bila tidak mau mengerjakannya pada usia sepuluh tahun….” (Nailul Authar,1/413)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> Hukum Meninggalkan Shalat</strong></p>
<p>Bila yang meninggalkan shalat tersebut <strong>tidak meyakini kewajiban shalat</strong> maka ulama sepakat <strong>bahwa orang tersebut kafir menurut nash/dalil yang ada7 dan ijma</strong>’. Namun bila meninggalkannya karena <strong>malas</strong> maka ada perbedaan pendapat dalam hal ini.</p>
<p>Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata, “Orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya maka orang itu kafir menurut kesepakatan kaum muslimin. Ia keluar dari Islam8, kecuali jika orang itu baru masuk Islam dan tidak berkumpul dengan kaum muslimin sesaatpun yang memungkinkan sampainya berita tentang wajibnya shalat padanya dalam masa tersebut. Bila ia meninggalkan shalat karena malas-malasan sementara ia meyakini akan kewajibannya –sebagaimana keadaan kebanyakan manusia, mereka tidak mengerjakan shalat karena malas padahal tahu hukum shalat tersebut– maka ulama berbeda pendapat dalam masalah ini9.” (Al-Minhaj, 2/257)</p>
<p>Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.</p>
<p style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Keterangan Catatan Kaki :</strong></span><em>1 “Ketenangan bagi mereka”, maksudnya kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Rahmat bagi mereka.” (Tafsir Ath-Thabari, 6/465)2 Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 589.</p>
<p>3 Sehingga dalam hal ini, batil dan sesatlah bila ada yang memaknakan shalat dengan doa. Akibatnya ia enggan mengerjakan shalat sebagaimana yang dituntunkan, sembari mengatakan, “Cukup bagi kita berdoa, tanpa melakukan gerakan-gerakan berdiri, rukuk, dan sujud serta tanpa membaca bacaan-bacaan shalat.”</p>
<p>4 Karena ada yang dinamakan shalat nafilah atau shalat tathawwu’ atau yang lebih kita kenal dengan shalat sunnah.</p>
<p>5 Tanda-tanda baligh tidak terbatas dengan hal ini, karena ada anak perempuan telah mencapai usia dewasa namun belum baligh karena mungkin ada penyakit pada dirinya, maka masa balighnya dilihat pada tanda yang lain. Demikian pula anak laki-laki, ada tanda baligh yang lainnya seperti suaranya berubah, tumbuh rambut pada kemaluan, dan sebagainya.</p>
<p>6 Adapun wanita nifas hukumnya sama dengan wanita haid.</p>
<p>7 Seperti hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p></em></p>
<p></span></p>
<p><em>“Sesungguhnya antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 242)8 Orang yang menentang kewajiban shalat dihukumi kafir karena ia mendustakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ijma’ kaum muslimin.</p>
<p>9 Akan datang pembahasan tersendiri dalam edisi mendatang –Insya Allah– tentang hukum orang yang meninggalkan shalat karena malas-malasan. إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ</p>
<p></em>
</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sumber : <a href="http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&#38;id_online=494">Shalat dan Hukumnya </a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Membayar Hutang Puasa (Qadha') Sesegera Mungkin]]></title>
<link>http://almuslimah.wordpress.com/?p=680</link>
<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 04:27:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>Admin</dc:creator>
<guid>http://almuslimah.da.wordpress.com/2008/10/08/membayar-hutang-puasa-qadha-sesegera-mungkin/</guid>
<description><![CDATA[Penulis: Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid
1. Qadha&#8217; (Penunaian, r]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><i>Penulis: Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid</i></p>
<p align="justify"><b>1. Qadha' (Penunaian, red) tidak wajib segera dilakukan</b></p>
<p align="justify">Ketahuilah wahai sauadaraku se-Islam -mudah-mudahan Allah memberikan pemahaman agama kepada kita- bahwasanya mengqdha' puasa Ramadhan tidak wajib dilakukan segera, kewajibannya dengan jangka waktu yang luas berdasarkan satu riwayat dari Sayyidah Aisyah <i>Radhiyallahu 'anha</i> (yang artinya): <i>"Aku punya hutang puasa Ramadhan dan tiak bisa mengqadha'nya kecuali di bulan Sya'ban"</i> [Hadits Riwayat Bukhari 4/166, Muslim 1146, Dikatakan oleh Syaikh Al-Albani di dalam <b>Tamamul Minnah</b> hal.422. setelah membawakan hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Muslim bahwasanya beliau (yakni Aisyah) tidak mampu dan tidak dapat mengqadha' pada bulan sebelum Sya'ban<!--more-->, dan hal ini menunjukkan bahwa beliau kalaulah mampu niscaya dia tidak akan mengakhirkan <i>qadha'</i> (sampai pada ucapan Syaikh) maka menjadi tersamar atasnya bahwa ketidakmampuan Aisyah adalah merupakan <i>udzur</i> (alasan) Maka perhatikanlah, -pent] </p>
<p align="justify">Berkata Al-Hafidz di dalam <b>Al-Fath</b> 4/191: "Dalam hadits ini sebagai dalil atas bolehnya mengakhirkan <i>qadha'</i> Ramadhan secara mutlak, baik karena <i>udzur</i> ataupun tidak".</p>
<p align="justify">Sudah diketahui dengan jelas bahwa bersegera dalam mengqadha' lebih baik daripada mengakhirkannya, karena masuk dalam keumuman dalil yang menunjukkan untuk bersegera dalam berbuat baik dan tidak menunda-nunda, hal ini didasarkan ayat dalam Al-Qur'an (yang artinya): <i>"Bersegeralah kalian untuk mendapatkan ampunan dari Rabb kalian"</i> [<b>Ali Imran: 133</b>] </p>
<p align="justify">Firman ALLAH (yang artinya): <i>"Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya"</i> [<b>Al-Mu'minuun: 61</b>] </p>
<p align="justify">2. <b>Tidak wajib berturut-turut dalam mengqadha'</b> karena ingin menyamakan dengan sifat penunaiannya.</p>
<p align="justify">Berdasarkan firman Allah pada surah Al-Baqarah ayat 185 (yang artinya): <i>"Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain".</i></p>
<p align="justify">Dan Ibnu Abbas berkata: (yang artinya): "Tidak mengapa dipisah-pisah (tidak berturut-turut)" [Dibawakan oleh Bukhari secara <i>mu'allaq</i>, dimaushulkan oleh Abdur Razak, Daruquthni, Ibnu Abi Syaibah dengan sanad Shahih. Lihat <b>Ta'ghliqut Ta'liq</b> (3/186).</p>
<p align="justify">Abu Hurairah berkata: "Diselang-selingi kalau mau" [Lihat <b>Irwaul Ghalil</b> 4/95]</p>
<p align="justify">Adapun yang diriwayatkan Al-Baihaqi 4/259, Daruquthni 2/191-192 dari jalan Abdurrahman bin Ibrahim dari Al'Ala bin Abdurrahman dari bapaknya dan Abu Hurairah secara <i>marfu'</i> "Artnya: <i>Barangsiapa yang punya hutang puasa Ramadhan, hendaknya diqadha' secara berturut-turut tidak boleh memisahnya"</i> Ini adalah riwayat yang Dhaif. Daruquthni bekata: Abdurrahman bin Ibrahim Dhaif. Al-Baihaqi berkata: Dia (Abdurrahman bin Ibrahim) di dhaifkan oleh Ma'in, Nasa'i dan Daruquthni".</p>
<p align="justify">Ibnu Hajar menukilkan dalam <b>Talkhisul Habir</b> 2/206 dari Abi Hatim bahwa beliau mengingkari hadits ini karena Abdurrahman.</p>
<p align="justify">Syaikh kami Al-Albany <i>Rahimahullah</i> telah membuat penjelasan dhaifnya hadits ini dalam <b>Irwa'ul Ghalil</b> no. 943. <b>Adapun yang terdapat dalam <b>Silsilah Hadits Dhaif</b> 2/137 yang terkesan bahwa beliau menghasankannya dia <i>ruju'</i> dari pendapatnya.</b></p>
<p align="justify"><b>Peringatan.</b></p>
<p align="justify">Kesimpulannya, tidak ada satupun hadits yang <i>marfu'</i> dan shahih -menurut pengetahuan kami- yang mejelaskan keharusan memisahkan atau secara berturut-turut dalam mengqadha', namun yang lebih mendekati kebenaran dan mudah (dan tidak memberatkan kaum muslimin, -ed) adalah dibolehkan kedua-duanya. Demikian pendapatnya Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hanbal <i>Rahimahullah</i>. Abu Dawud berkata dalam <b>Al-Masail</b>-nya hal. 95: "Aku mendengar Imam Ahmad ditanya tentang <i>qadha'</i> Ramadhan" Beliau menjawab: "Kalau mau boleh dipisah, kalau mau boleh juga berturut-turut". <i>Wallahu 'alam</i>.</p>
<p align="justify">Oleh karena itu dibolehkannya memisahkan tidak menafikan dibolehkannya secara berturut-turut.</p>
<p align="justify"><b>3. Ulama telah sepakat bahwa barangsiapa yang wafat dan punya hutang shalat, maka walinya apalagi orang lain tidak bisa mengqadha'nya.</b></p>
<p align="justify">Begitu pula orang yang tidak mampu puasa, tidak boleh dipuasakan oleh anaknya selama dia hidup, tapi dia harus mengeluarkan makanan setiap harinya untuk seorang miskin, sebagaimana yang dilakukan Anas dalam satu atsar yang kami bawakan tadi.</p>
<p align="justify">Namun barangsiapa yang wafat dalam keadaan mempunyai hutang nadzar puasa, harus dipuasakan oleh walinya berdasarkan sabda Rasulullah <i>Shallallahu 'alaihi wa sallam</i>. <i>"Barangsiapa yang wafat dan mempunyai hutang puasa nadzar hendaknya diganti oleh walinya"</i> [Bukhari 4/168, Muslim 1147]</p>
<p align="justify">Dan dari Ibnu Abbas <i>Radhiyallahu 'anhuma</i>, ia berkata: <i>"Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya ibuku wafat dan dia punya hutang puasa setahun, apakah aku harus membayarnya?" Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Ya, hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar"</i> [Bukhari 4/168, Muslim 1148]</p>
<p align="justify">Hadits-hadits umum ini menegaskan disyariatkannya seorang wali untuk puasa (mempuasakan) mayit dengan seluruh macam puasa, demikian pendapat sebagian Syafi'iyah dan madzhabnya Ibnu Hazm (7/2,8).</p>
<p align="justify">Tetapi hadits-hadits umum ini dikhususkan, seorang wali tidak puasa untuk mayit kecuali dalam puasa nadzar, demikian pendapat Imam Ahmad seperti yang terdapat dalam <b>Masa'il Imam Ahmad</b> riwayat Abu Dawud hal. 96 dia berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hambal berkata: "Tidak berpuasa atas mayit kecuali puasa nadzar". Abu Dawud berkata, "Puasa Ramadhan?" Beliau menjawab, "Memberi makan".</p>
<p align="justify">Inilah yang menenangkan jiwa, melapangkan dan mendinginkan hati, dikuatkan pula oleh pemahaman dalil karena memakai seluruh hadits yang ada tanpa menolak satu haditspun dengan pemahaman yang selamat khususnya hadits yang pertama. Aisyah tidak memahami hadits-hadits tersebut secara mutlak yang mencakup puasa Ramadhan dan lainnya, tetapi dia berpendapat untuk memberi makan <i>(fidyah)</i> sebagai pengganti orang yang tidak puasa Ramadhan, padahal beliau adalah perawi hadits tersebut, dengan dalil riwayat 'Ammarah bahwasanya ibunya wafat dan punya hutang puasa Ramadhan kemudian dia berkata kepada Aisyah: "Apakah aku harus mengqadha' puasanya?" Aisyah menjawab: "Tidak, tetapi bersedekahlah untuknya, setiap harinya setengah gantang untuk setiap muslim".</p>
<p align="justify">Diriwayatkan Thahawi dalam <b>Musykilat Atsar</b> 3/142, Ibnu Hazm dalam <b>Al-Muhalla</b> 7/4, ini lafadz dalam <b>Al-Muhalla</b>, dengan sanad sahih.</p>
<p align="justify">Sudah disepakati bahwa rawi hadits lebih tahu makna riwayat hadits yang ia riwayatkan. Yang berpendapat seperti ini pula adalah <i>Hibrul Ummah</i> Ibnu Abbas <i>Radhiyallahu 'anhu</i>, beliau berkata: "Jika salah seorang dari kalian sakit di bulan Ramadhan kemudian wafat sebelum sempat puasa, dibayarkan <i>fidyah</i> dan tidak perlu qadha', kalau punya hutang nadzar diqadha' oleh walinya" Diriwayatkan Abu Dawud dengan sanad shahih dan Ibnu Hazm dalam <b>Al-Muhalla</b> 7/7, beliau menshahihkan sanadnya.</p>
<p align="justify">Sudah maklum bahwa Ibnu Abbas <i>Radhiyallahu 'anhuma</i> adalah periwayatan hadits kedua, lebih khusus lagi beliau adalah perawi hadits yang menegaskan bahwa wali berpuasa untuk mayit puasa nadzar. Sa'ad bin Ubadah minta fatwa kepada Nabi <i>Shallallahu 'alaihi wa sallam</i> <i>"Ibuku wafat dan beliau punya hutang puasa nadzar?"</i> Beliau bersabda: <i>"Qadha'lah untuknya".</i> Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta lainnya.</p>
<p align="justify">Perincian seperti ini sesuai dengan kaidah ushul syari'at sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam <b>I'lamul Muwaqi'in</b> dan ditambahkan lagi penjelasannya dalam <b>Tahdzibu Sunan Abi Dawud</b> 3/279-282. (Wajib) atasmu untuk membacanya karena sangat penting. Barangsiapa yang wafat dan punya hutang puasa nadzar dibolehkan diqadha' oleh beberapa orang sesuai dengan jumlah hutangnya.</p>
<p align="justify">Al-Hasan berkata: <i>"Kalau yang mempuasakannya tiga puluh orang seorangnya berpuasa satu hari diperbolehkan"</i> [Bukhari 4/112 secara <i>mu'allaq</i>, dimaushulkan oleh Daruquthni dalam <b>Kitabul Mudabbij</b>, dishahihkan sanadnya oleh Syaikhuna Al-Albany dalam <b>Mukhtashar Shahih Bukhari</b> 1/58] Diperbolehkan juga memberi makan kalau walinya mengumpulkan orang miskin sesuai dengan hutangnya, kemudian mengenyangkan mereka, demikian perbuatan Anas bin Malik <i>Radhiyallahu 'anhu</i>.</p>
<p align="justify"><i>Judul Asli: <b>Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan</b>, penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Ke 5 th 1416 H. Edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR), penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H.</i></p>
<p align="justify"><i>Sumber URL: http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=320</i></p>
<p align="justify"><b>Artikel terkait:</b></p>
<p align="justify"><a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/10/04/bersegeralah-mengqadha-puasa-ramadhan-sebelum-puasa-6-hari-bulan-syawal">Bersegeralah Mengqadha Puasa Ramadhan sebelum Puasa 6 Hari Bulan Syawal</a><br />
<a href="http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=383">Hukum dalam Puasa Sunnah 6 Hari Bulan Syawal</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[]]></title>
<link>http://dispensary.wordpress.com/?p=4</link>
<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 03:58:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>thebookofgod</dc:creator>
<guid>http://dispensary.da.wordpress.com/2008/10/08/4/</guid>
<description><![CDATA[Shirts
1)
2)
3)
4)
kflsdjfklsdjflsdj fksjdk lfjsdk sl kljf
______
aljfaksdfjl aksj fasd j
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Shirts</p>
<p>1)<br />
2)<br />
3)<br />
4)</p>
<p>kflsdjfklsdjflsdj fksjdk lfjsdk sl kljf</p>
<p>______</p>
<p>aljfaksdfjl aksj fasd j</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ushul Fiqh Dan Ulama Ekonomi Syariah]]></title>
<link>http://yananto.wordpress.com/?p=441</link>
<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 12:41:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>yananto</dc:creator>
<guid>http://yananto.da.wordpress.com/2008/10/06/ushul-fiqh-dan-ulama-ekonomi-syariah/</guid>
<description><![CDATA[Perkembangan ekonomi syariah saat ini secara terus menerus mengalami kemajuan yang sangat pesat, bai]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Perkembangan ekonomi syariah saat ini secara terus menerus mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik di panggung internasional, maupun di Indonesia. Perkembangan ekonomi syariah tersebut meliputi perbankan syariah, asuransi syariah, pasar modal syariah,  reksadana syariah, obligasi syariah, leasing syariah, Baitul Mal wat Tamwil, koperasi syariah, pegadaian syariah dan berbagai bentuk bisnis syariah lainnya.<br />
Dalam mengembangkan dan memajukan  lembaga tersebut, sehingga dapat bersaing dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat bisnis modern, dibutuhkan inovasi-inovasi produk dengan tetap mematuhi prinsip-prinsip syariah. Selain itu, ekonomi syariah bukan saja dalam bentuk lembaga-lembaga keuangan, tetapi juga meliputi aspek dan cakupan yang sangat luas, seperti ekonomi makro ( kebijakan ekonomi negara, ekonomi pemerintah daerah,  kebijakan fiskal, public finance, strategi mengatasi kemiskinan dan pengangguran, inflasi, kebijakan moneter), dan permasalahan ekonomi lainnya, seperti  upah dan perburuhan, dan sebagainya.<br />
Sepanjang subjek  itu terkait dengan ekonomi syariah, maka keterlibatan ulama syariah menjadi niscaya. Ulama ekonomi syariah berperan : 1. berijtihad memberikan solusi bagi permasalahan ekonomi keuangan  yang muncul baik skala mikro maupun makro. 2. Mendesign akad-akad syariah untuk kebutuhan produk-produk bisnis di berbagai lembaga keuangan syariah, 3. Mengawal dan menjamin seluruh produk perbankan dan keuangan syariah dijalankan sesuai syariah.</p>
<p>Untuk menjadi ulama ekonomi syariah dengan tugas seperti itu, diperlukan sejumlah syarat/kualifikasi. Kualifikasi ini diperlukan, karena ulama ekonomi syariah berperan mengeluarkan fatwa-fatwa yang terkait dengan ekonomi syariah melalui ijtihad. Ijtihad merupakan pekerjaan para ulama dalam menjawab persoalan-persoalan hukum syariah dan  memberikan solusi terhadap permasalahan yang muncul.<br />
Menurut disiplin ilmu ushul fiqh, salah satu syarat yang harus dimiliki ulama yang bertugas  berijtihad adalah menguasai ilmu ushul fiqh. Tanpa mengetahui ilmu ushul fiqh, maka keberadaannya sangat diragukan, bahkan tidak memenuhi syarat sebagai ulama ekonomi syariah. Demikian pula halnya dengan figur  yang duduk sebagai majlis fatwa, dewan syariah atau dewan pengawas syariah yang senantiasa menghadapi masalah-masalah ekonomi syariah, dibutuhkan pengetahuan yang mendalam dan luas tentang ilmu ushul fiqh dan perangkat ilmu syariah yang terkait.</p>
<p><strong>Urgensi dan kedudukan ilmu ushul fiqh</strong><br />
Semua ulama sepakat bahwa ushul fiqh menduduki posisi yang sangat penting dalam ilmu-ilmu syariah. Imam Asy-Syatibi (w.790 H), dalam Al-Muwafaqat, mengatakan, mempelajari ilmu ushul fiqh merupakan sesuatu yang dharuri (sangat penting dan mutlak diperlukan), karena melalui  ilmu inilah dapat diketahui kandungan dan maksud setiap dalil syara’  (Al-quran dan hadits) sekaligus bagaimana menerapkannya. Menurut Al-Amidy dalam kitab Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam, Siapa yang tidak menguasai ilmu ushul fiqh, maka diragukan ilmunya, karena tidak ada cara untuk mengetahui hukum Allah kecuali dengan ilmu ushul fiqh.” .<br />
Senada dengan itu, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa ilmu ushul fiqh merupakan satu di antara tiga ilmu yang harus dikuasai setiap ulama mujtahid, dua lainya adalah  hadits dan bahasa Arab. Prof. Salam Madkur (Mesir), mengutip pendapat Al-Razy yang mengatakan bahwa ilmu ushul fiqh adalah ilmu yang paling penting yang mesti dimiliki setiap ulama mujtahid. Ulama ekonomi syariah sesungguhnya (seharusnya) adalah adalah bagian dari ulama mujtahid, karena ulama ekonom syariah harus berijtihad memecahkan berbagai persoalan ekonomi, menjawab pertanyaan-pertanyaan boleh tidaknya berbagai transaksi bisnis modern, halal haramnya bentuk bisnis tertentu.   memberikan solusi pemikiran ekonomi, memikirkan akad-akad yang relevan bagi lembaga keuangan syariah. Memberikan fatwa ekonomi syariah, jika diminta oleh masyarakat ekonomi syariah. Untuk mengatasi semua itu, seorang ahli syariah (dewan syariah), harus  menguasai ilmu ushul fiqh secara mendalam karena ilmu ini diperlukan untuk berijitihad.<br />
Seorang ulama ekonomi syariah yang menduduki posisi sebagai dewan pengawas syariah apalagi sebagai Dewan Syariah Nasional, mestilah menguasai ilmu ushul fiqh bersama ilmu-ilmu terkait, seperti qaw’aid fiqh, tarikh tasyri’, falsafah hukum Islam, tafsir ekonomi, hadits-hadits ekonomi, dan sejarah pemikiran ekonomi Islam.<br />
Oleh karena penting dan strategisnya penguasaan ilmu ushul fiqh, maka untuk  menjadi seorang faqih (ahli fiqh), tidak diharuskan membaca seluruh kitab-kitab fiqh secara luas dan detail,  cukup mengetahui sebagian saja asal ia memiliki kemampuan ilmu ushul fiqh,  yaitu kemampuan  istinbath dalam mengeluarkan kesimpulan hukum dari teks-teks dalil melalui penelitian dan metode tertentu yang dibenarkan syari’at, baik ijtihad istimbathy maupun ijtihad tathbiqy.  Metodologi istimbath tersebut disebut ushul fiqh. Demikianlah pentingnya ilmu ushul fiqh bagi seorang ulama.<br />
Termasuk dalam lingkup ushul fiqh adalah pengetahuan maqashid syariah. Seorang ulama ekonomi syariah harus memahami konsep maqashid syariah dan penerapannya. Untuk menguasai ilmu maqashid syariah, harus dibaca buku-buku tentang ilmu maqashid syariah, seperti, Al-Muwafaqat karangan Imam Al-Syatibi, Al-Mustashfa dan Syifaul Ghalil karangan Imam Al-Ghazali, I’lamul Muwaqqi’in, karangan Ibnu Al-Qayyim, Qawa’id Ahkam fi Masholih al-Anam, karya  Izzuddin Abdus Salam  (660 H),  kitab Maqashid al- Syariah karya Muhammad Thahir Ibnu ’Ashur ( Tunisia, 1946, ) Al-Ijtihad karya Prof. Dr Yusuf Musa, dan sebagainya. Sedangkan untuk menguasai ilmu ushul  fiqh secara mendalam minimal seorang ulama membaca 100 buku ushul fiqh. (Daftar buku ushul dipaparkan pada tulisan kedua artikel ini)<br />
Dalam ilmu ushul fiqh dipelajari berbagai macam obyek kajian, seperti :<br />
1.    Kaedah-kaedah ushul fiqh kulliyah yang digunakan dalam mengistimbath hukum dan cara menggunakanya. Dengan mempelajari ushul fiqh, seorang ulama ekonomi syariah akan mengetahui metode ijtihad para ulama.<br />
2.    Sumber-sumber hukum Islam ; Al-quran, Sunnah, dan Ijma’, serta metode perumusan hukum Islam, seperti  qiyas, maslahah mursalah , istihsan, sadduz zari’ah, mazhab shahabi,’urf, qaul shahaby, dll.<br />
3.    Konsep Ijtihad dan syarat-syarat menjadi ulama mujtahid, juga konsep fatwa<br />
4.    Konsep qath’iy dan  zhanniy dalam Alquran dan Sunnah,<br />
5.    Prioritas kehujjahan dalil-dalil syara’, dsb.</p>
<p>Selain ilmu ushul fiqh, seorang ulama ekonomi syariah seharusnya menguasai qawa’id  fiqh, khususnya yang terkait dengan qawa’id fiqh ekonomi (muamalah). Kitab-kitab qawa’id fiqh sangat luas dan beragam dari berbagai mazhab. Seorang ulama ekonomi syariah tidak cukup meguasai kitab Al-Asybah wan Nazhair karya Al-Suyuthy, Qawa’id Fiqhiyyah An-Nadawi,  atau Al_Majallah Al-Ahkam Al-Adliyah : Kitab Undang-Undang Ekonomi Islam Turki Usmani di masa lampau (1876), karena Qanun ekonomi Islam tersebut  hanya berisi 100 qaidah fiqh ekonomi dan terlalu Hanafi centris. Namun demikian, Al-majallah ini seharusnya menjadi buku wajib pada mata kuliah qawaid fiqh di jurusan perbankan dan  ekonomi syariah di IAIN/UIN. Di jurusan ekonomi Islam, jangan lagi diajarkan qawaid fiqh  yang penuh munakahat, ibadah dan jinayat. Qawaid fiqh pada tiga bidang ini difokuskan di jurusan lain.  Sedangkan jurusan ekonomi syariah atau perbankan syariah hanya membahas qawaid fiqh tentang ekonomi keuangan.<br />
Selain syarat menguasai ilmu ushul fiqh, maqashid dan qawa’id fiqh, seorang ulama ekonomi syariah juga harus menguasai ayat-ayat hukum. Menurut Imam Al-Ghazali, seorang ulama mujtahid paling tidak menguasai 500 ayat –ayat hukum syariah.  Pendapat Imam Al-Ghazali, meskipun tidak relevan menjadi syarat ulama ekonomi syariah, karena 500 ayat tersebut mencakup munakahat, dan jinayat dan hukum  dil luar ekonomi. Namun syarat tersebut harus menjadi pertimbangan dalam hal penguasaan ayat-ayat bagi ulama ekonomi syariah.<br />
Jadi,  paling tidak  ulama ekonomi syariah seharusnya menguasai 370 ayat tentang ekonomi dalam Al-quran. Menurut C.C. Torrey dalam buku The Commercial Theological Term in the Quran dan Dr. Mustaq Ahmad dalam  Etika Ekonomi dalam Al-Quran, bahwa di dalam Al-quran tedapat 370 ayat tentang  bisnis. Maka semua ini harus dikuasai oleh ulama ekonomi syariah. Selain itu, ulama ekonomi syariah juga harus menguasai  minimal 1354 hadits-hadits ekonomi, ditambah ilmu mushthalah hadits. Angka 1354 hadits didasarkan pada jumlah hadits yang terdapat pada Mushammaf Abdul Razzaq. Sedangkan dalam sunan Baihaqi terdapat 1145 hadits, dalam kitab Mustafrak terdapat 1000 hadits yang terdiri dari  639 bab pembahasan.  Oleh karena banyaknya ayat dan hadits tentang ekonomi dan bisnis, maka di seluruh program pascasarjana ekonomi keuangan Islam, materi  ayat dan hadits ekonomi ini dijadikan sebagai mata kuliah wajib.<br />
Dalam konteks pemahaman ayat-ayat ekonomi, seorang ulama ekonomi syariah harus mengeatahui  asbabun nuzul, juga masalah-masalah yang telah diijma’iy ulama (baca buku ensiklopedi ijma’), syarat-syarat ijma’, metode qiyas, metode maslahah, ishtihsan, ‘urf, sadd al-zari’ah, qaul shahabi, dan sebagainya.<br />
Melihat, sejumlah syarat-syarat yang harus dimiliki ulama ekonomi syariah, ada tiga hal yang menjadi catatan.<br />
Pertama, kelihatannya menjadi ulama ekonomi syariah tersebut, sangat sulit, tetapi  bagi generasi yang hidup dan bergelut dengan tradisi keilmuan syariah sejak usia dini, memenuhi syarat-syarat itu tidaklah terlalu sulit. Maka, jika kita mau jujur, ikhlas, dan terbuka,  masih ada ahli-ahli syariah di Indonesia yang memiliki pengetahuan mendalam dan luas tentang ushul fiqh dan sekaligus  tentang ekonomi Islam. Majlis Ulama Indonesia dan bank-bank syariah harus secara cerdas memilih dan mempertahankan para ahli syariah yang memenuhi kualifikasi yang memadai dan bisa diandalkan.<br />
Kedua, para mahasiswa pascasarjana jurusan ekonomi syariah di manapun berada, tidak perlu berkecil hati, jika bukan dibesarkan dari pendidikan syariah yang arabic (Ibtidaiyah salafi, Tsanawiyah salafi dan Aliyah salafi). Maksud sekolah salafi adalah sekolah yang semua rujukan pelajarannya berbahasa Arab, kitab kuning), dan tak perlu juga berkecil hati jika bukan berasal dari sarjana syariah, karena tujuan belajar ilmu ushul fiqh di program ekonomi syariah di Perguruan Tinggi Umum, bukanlah untuk menjadi mujtahid (ulama) yang ahli ushul fiqh, pakar ushul fiqh atau dosen ushul fiqh yang handal,  tetapi targetnya sekedar untuk : 1. Memahami dan mengetahui metode istimbath para ulama dalam menetapkan hukum Islam, khususnya hukum ekonomi keuangan, 2. Mengetahui kaedah-kaedah ushul fiqh dan qawaid fikih dan cara menerapkannya 3. Mengetahui dalil-dalil hukum ekonomi Islam dan proses ijtihad ulama dari dalil-dalil yang ada.4, Mengetahui sumber-sumber hukum ekonomi Islam dan keterkaitannya dengan epistemologi ekonomi Islam. 5. Mengetahui prinsip-prinsip umum syariah yang ditarik dari Al-quran dan sunnah.<br />
Hal itu sama dengan seorang sarjana syariah belajar ekonometrik. Tujuannya bukanlah menjadi pakar ekonometrik, atau dosen ekonometrik, tetapi dapat menerapkannya dalam metode penelitian ekonomi, mengukur berbagai macam resiko, dan sebagainya. Dengan berbekal ilmu ushul fiqh, seorang mahasiswa pascasarjana sudah dapat menjadi konsultan ekonomi syariah, Dewan Pengawas Syariah, menjadi praktsi ekonomi syariah yang memahami metode menetapkan hukum ekonomi Islam, juga menjadi officer atau ALCO di bank-bank syarah.<br />
Ketiga, keharusan belajar ilmu ekonomi keuangan  dan ushul fiqh secara ekstra. Ulama yang ahli syariah, jika diminta dan diberi amanah  menjadi Dewan Pengawas Syariah, misalnya, seharusnya memiliki ghirah yang kuat untuk mendalami dan mempelajari ilmu ekonomi dan perbankan serta keuangan, sebab tanpa bekal ilmu ekonomi dan perbankan, maka rumusan fatwa bisa tidak tepat dan kaku. Ulama  yang menjadi DPS wajib belajar ilmu ekonomi makro, agar memahami secara ilmiah, rasional (akal), mengapa bunga bank diharamkan. Tanpa pengetahuan ilmu ekonomi makro, para ulama tidak akan bisa memberikan jawaban / alasan yang memuaskan mengapa bunga bank itu sangat terkutuk dan termasuk dosa terbesar. Selain itu, DPS wajib belajar akuntansi secara  sederhana, agar bisa membaca laporan keuangan lembaga keuangan syariah.  Sedangkan bagi Dewan Pengawas Syariah atau anggota Dewan Syariah Nasional yang bukan berasal dari latar pendidikan ilmu syariah, tidak segan-segan belajar ilmu ushul fiqh dan ilmu-ilmu syariah lainnya kepada ahli ushul fiqh yang memahami ekonomi keuangan, juga belajar ilmu maqashid, falsafah tasyri’ dan tarikh tasyri’, juga ilmu bahasa Arab, tafsir ayat-ayat ekonomi, hadits-hadits ekonomi. Upaya integrasi ilmu ini menjadi keniscayaan, agar  di masa depan dikhotomi ahli ilmu syariah dan ahli ekonomi umum dapat dihilangkan secara bertahap. Pada gilirannya nanti, sejalan dengan berkembangnya program doktor (S3) ekonomi Islam di berbagai perguruan tinggi dunia dan Indonesia, figur integratif yang menguasai dua bidang keilmuan sekaligus dapat diwujudkan.<br />
Para ulama  ekonomi syariah (Dosen Perguruan Tinggi, DPS dan DSN)  yang belum mendalami ilmu ushul fiqh harus membaca sejumlah kitab-kitab ushul fiqh yang terkenal, agar bisa memahami dasar-dasar ilmu ushul fiqh dan maqashid syariah. Sarjana ekonomi umum memang sulit menjadi ahli ushul fiqh. Namun pemahaman pokok-pokoknya tidaklah terlalu sulit asalkan mau dan serius belajar, khususnya di Perguruan Tinggi.<br />
Menurut Ibnu Taymiyah, untuk menjadi ahli di bidang tertentu, seperti ushul fiqh, paling tidak menguasai (mempelajari) seratus buku ushul fiqh. Upaya untuk menjadi ahli ilmu ushul fiqh secara mendalam hanyalah melalui proses pendidikan panjang dan intensif, seperti melalui pendidikan pesantren salafi, selanjutnya dikembangkan di Perguruan Tinggi S1, S2 dan S3. Di pesantren salafi (kitab kuning) buku-buku ushul fiqh yang dibaca sangat terbatas, karena tidak ada tradisi membuat makalah dan presentasi dengan membaca puluhan buku ushul fiqh, tetapi di Perguruan Tinggi Islam, seorang mahasiswa yang mendalami ushul fiqh dapat membaca puluhan, belasan, bahkan seratusan buku-buku ushul fiqh dan ilmu-ilmu syariah yang terkait. Hal itu dikarenakan mahasiwa diwajibkan membuat makalah atau membuat karya ilmiah skripsi atau tesis yang harus dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Fakultas Syariah IAIN/UIN/STAIN, merupakan lembaga kajian ilmu-ilmu syariah, yang secara intensif mengkaji ilmu ushul fiqh, qawai’d fiqh dan ilmu syariah  yang terkait. Sudah Menjadi tradisi dan lumrah dalam pembuatan skripsi tentang ushul fiqh, mahasiswa membaca seratusan kitab ushul fiqh dan disiplin ilmu syariah yang terkait.<br />
Mahasiswa unggulan dan terbaik dari perguruan tinggi Islam tersebut dapat menjadi calon ilmuwan ushul fiqh jika dia mengembangkan lagi di program pascasarjana S2 dan S3 ekonomi syariah atau program studi syariah saja. Ketika memasuki jenjang S3, seorang sarjana syariah seharusnya bisa menjadi mujtahid (bukan mujtahid mutlak), asalkan memenuhi sejumlah syarat yang dikemukakan di atas. Namun harus dicatat masih banyak sarjana syariah yang belum memenuhi kualifikasi sebagai ulama ekonomi syariah. Indikatornya mudah sekali diukur antara lain, kemampuan bahasa Arab, kemampuan berijtihad dengan ilmu ushul fiqh dan qawa’id fiqh, kemampuan penguasaan ayat-ayat al-quran dan tafsirnya (khususnya tentang ekonomi), juga kemampuan ilmu hadits-hadits. Jika keempat  indikator ini saja tidak beres, maka kedudukan sebagai calon ulama ekonomi syariah menjadi gugur.<br />
Namun harus dicatat, jika 4 indikator dasar tersebut sudah dipenuhi, seseorang belum tentu bisa menjadi ulama ekonomi syariah, karena dia disyaratkan harus menguasai ilmu ekonomi syariah,  teknik perbankan dan keuangan. Syarat untuk menguasai ilmu ekonomi syariah tidak bisa tidak, harus belajar dulu ilmu ekonomi konvensional, baik mikro maupun makro, bahkan ilmu ekonomi pembangunan, public finance, ilmu akuntansi dan perbankan dan lembaga keuangan. Semua ini hanya dapat dicapai melalui pendidikan formal atau training berkelanjutan.<br />
Buku-buku yang terkait kuat dengan ushul fiqh juga harus dikuasai oleh ulama ekonomi syariah, seperti kitab-kitab tarikh tasyri’, fiqh muamalah klasik dan kontemporer, perbandingan mazhab, qawaid fiqh,  falsafah asyri’ atau falsafah hukum Islam. Sulit menyebutkan nama-nama kitab yang direkomenfasikan untuk dikuasai para ulama ekonomi syariah, karena ruangan yang terbatas. Sekedar contoh, untuk menguasai ilmu tarikh tasyri’, ulama ekonomi syariah minimal membaca buku Tarikh Tasyri’ Abdul Wahhab Khallaf, Tarikh Tasyri’ Muhammad Ali Al-Sayis, Tarikh Mazahib al-Islamiyah Muhammad Abu Zahroh, Tarikh Tasyrik Khudhriy Beyk dan sebagainya. DI IAIN belasan buku tarikh tasyrik menjadi buku wajib untuk mata kuliah bersangkutan.<br />
Di masa depan, kita mengharapkan di Indonesia, lahir ulama-ulama ekonomi syariah yang menguasai dengan baik ilmu-ilmu syariah dan sekaligus ilmu-ilmu ekonomi keuangan. Mereka ini akan menjadi pelita ummat, tidak saja mendesign akad-akad secara inovatif,  tetapi juga mengawal kesyariahan produk-produk lembaga keuangan Islam,  dapat mencerahkan bangsa dan masyarakat dunia dengan ekonomi syariah. Ulama ini juga akan dapat berdialog secara ilmiah dengan para doktor ekonomi Islam yang ahli matematik, ekonometrik dan ilmu-ilmu alat tingkat tinggi lainnya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Madlul Asy-Syahadah (Kandungan Kalimah Syahadah) ]]></title>
<link>http://yananto.wordpress.com/?p=403</link>
<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 06:37:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>yananto</dc:creator>
<guid>http://yananto.da.wordpress.com/2008/10/06/madlul-asy-syahadah-kandungan-kalimah-syahadah/</guid>
<description><![CDATA[












Syahadatain begitu berat diperjuangkan oleh para sahabat, bahkan mereka sedia dan tidak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<table class="contentpaneopen" border="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td class="createdate" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<div><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;"></p>
<div style="text-align:center;"><img title="syahadah" src="http://halaqah-online.com/v2/images/stories/islamicfoto6.jpg" border="0" alt="syahadah" hspace="9" vspace="6" width="257" height="200" /></div>
<p></span></div>
<div><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Syahadatain begitu berat diperjuangkan oleh para sahabat, bahkan mereka sedia dan tidak takut terhadap segala ancaman kafir. Sahabat nabi misalnya Habib berani menghadapi seksaan dari Musailamah yang memotong tubuhnya satu persatu. Bilal bin Rabah tahan menerima himpitan batu besar di tengah hari dan sederet nama lainnya. Mereka mempertahankan syahadatain. </span></div>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Muncullah pertanyaan kenapa mereka bersedia dan berani mempertahankan kalimah syahadah? Ini disebabkan kerana kalimah syahadah mengandung makna yang sangat mendalam bagi mereka. Syahadah bagi mereka dan erti yang sebenarnya mencakupi pengertian ikrar, sumpah dan janji. Majoriti umat Islam mengertikan syahadah sebagai ikrar sahaja, apabila mereka tahu bahawa syahadah juga mengandungi erti sumpah dan janji, serta tahu bahawa akibat dari janji dan sumpah maka mereka akan benar-benar mengamalkan Islam dan beriman. </span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Iman sebagai dasar dan juga hasil dari pengertian syahadah yang betul. Iman secara sebutan oleh mulut, juga diyakini oleh hati dan diamalkan oleh perbuatan sebagai pengertian yang sebenarnya dari iman. Apabila kita mengamlkan syahadah dan mendasarinya dengan iman yang konsisten dan istiqomah maka beberapa hasil akan dirasakan seperti keberanian, ketenangan dan optimis menjalani kehidupan. Kemudian Allah SWT memberikan kebahagian kepada mereka di dunia dan di akhirat.</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;"><strong>1.Madlul syahadah</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Syarah</span></p>
<ul>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Pernyataan (ikrar), iaitu suatu statement seorang muslim mengenai keyakinannya. Pernyataan ini sangat kuat kerana didukung oleh Allah, Malaikat, dan orang-orang yang berilmu (para nabi dan orang yang beriman). Hasil dari ikrar ini adalah kewajiban kita untuk menegakkan dan memperjuangkan apa yang diikrarkan.</span></p>
</li>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Sumpah (qosam) iaitu pernyataan kesediaan menerima akibat dan resiko apapun dalam mengamalkan syahadah. Muslim yang menyebut asyhad bererti siap dan bertanggung jawab dalam tegaknya Islam. Pelanggaran terhadap sumpah ini adalah kemunafikan dan tempat orang munafik adalah neraka jahanam.</span></p>
</li>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Perjanjian yang teguh (mitsaq) iaitu janji setia untuk mendengar dan taat dalam segala keadaan terhadap semua perintah Allah yang terkandung dalam Kitabullah maupun Sunnah Rasul.</span></p>
</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Dalil</span></p>
<ul>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Q: 3:18, syahadat yang bererti ikrar dari Allah, Malaikat dan orang-orang yang berilmu tentang Laa ilaha illa-Llah. 7:172, ikrar tentang RubiyatuLlah manusia merupakan alasan bagi ikrar tentang keesaan Allah. 3:81, ikrar para nabi mengakui kerasulan Muhammad SAW meskipun mereka hidup sebelum kedatangan Rasulullah SAW.</span></p>
</li>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">63:1-2, syahadah bererti sumpah. Orang-orang munafiq berlebihan dalam pernyataan syahadatnya, padahal mereka tidak lebih sebagai pendusta. 4:138-145, beberapa ciri orang yang melanggar sumpahnya iaitu memberikan wala kepada orang-orang kafir, memperolok-olok ayat Allah, mencari kesempatan dalam kesempitan kaum muslimin, menunggu-nunggu kesalahan kaum muslimin, malas dalam sholat dan tidak punya pendirian. Orang-orang mukmin yang sumpahnya teguh tidak akan bersifat seperti tersebut.</span></p>
</li>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">5:7, 2:285, syahadah adalah mitsaq yang harus diterima dengan sikap sama'an wa tho'atan didasari dengan iman yang sebenarnya terhadap Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rsaul, hari Akhir dan Qadar baik maupun buruk. 2:93, pelanggaran terhadap mitsaq ini berakibat turunnya la'nat Allah seperti yang pernah terjadi pada orang-orang yahudi.</span></p>
</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;"><strong>2.Iman</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Syarah</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Syahadah yang dinyatakan seorang muslim penuh kesedaran sebagai sumpah dan janji setia ini merupakan ruh Iman iaitu:</span></p>
<ul>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Ucapan (qoul) yang sentiasa sesuai dengan isi hatinya yang suci. Perkataan mahupun kalimat yang keluar dari lidahnya yang baik serta mengandungi hikmah. Syahadah diucapkan dengan penuh kebanggaan iman (isti'la-ul iman) berangkat dari semangat isyhadu biannaa muslimin.</span></p>
</li>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Membenarkan (tashdiq) dengan hati tanpa keraguan. Iaitu sikap keyakinan dan penerimaan dengan tanpa rasa keberatan atau pilihan lain terhadap apa yang didatangkan Allah.</span></p>
</li>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Perbuatan (amal) yang termotivasi dari hati yang ikhlas dan kefahaman terhadap maksud-maksud aturan Allah. Amal merupakan cerminan dari kesucian hati. Dan upaya untuk mencari redha Ilahi. Amal yang menunjukkan sikap mental dan moral Islami yang dapat dijadikan teladan.</span></p>
</li>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Ketiga perkara di atas tidak terpisahkan sama sekali. Seorang muslim yang tidak membenarkan ajaran Allah dalam hatinya bahkan membencinya. Meskipun kelihatan mengamalkan sebahagian ajaran Islam adalah munafiq I'tiqodi yang terlaknat. Muslim yang meyakini kebenaran ajaran Islam dan menyatakan syahadatnya dengan lisan tetapi tidak mengamalkan dalam kehidupan adalah munafiq amaly. Sifat nifaq dapat terjadi sementara terhadap seorang muslim oleh kerana berdusta, menyalahi janji atau berkhianat.</span></p>
</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Dalil</span></p>
<ul>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">49:15, 4:65, 33:36, Iman adalah keyakinan tanpa keraguan, penerimaan menyeluruh tanpa rasa keberatan, kepercayaan tanpa pilihan terhadap semua keputusan Allah. 3:64, sikap hidup yang merupakan cermin identiti Islam</span></p>
</li>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">4:123-125, iman bukanlah hanya angan-angan, tetapis sesuatu yang tertanam di dalam hati dan harus diamalkan dalam bentuk praktikal. Amal yang dikerjakan harus merupakan amal sholeh yang dilakukan sengan ihsan dan penyerahan yang sempurna kepada kehendak Allah. Dalam melakukan amal tersebut, seorang mukmin merasa dikawal oleh Allah SWT.</span></p>
</li>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">2:80, di antara kekeliruan ummat Islam adalah mencontoh sikap Yahudi. Misalnya merasa bahawa neraka merupakan seksaan yang sebentar sehingga tidak apa memasukinya. Atau mereka merasa akan masuk syurga semata-mata karena imannya sehingga tidak perlu beramal sholeh lagi.</span></p>
</li>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">2:8, 63:1-2, 48:11, Ucapan lisan tanpa membenarkan dengan hati adalah sikap nifaq I'tiqodi. Berbicara dengan mulutnya sesuatu yang tidak ada dalam hatinya.</span></p>
</li>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Hadits, Tanda-tanda munafik ada tiga. Jika salah satu ada pada seseorang maka ia merupakan munafikm sebahagian. Bila keseluruhannya terdapat, maka ia munafik yang sesungguhnya iaitu: bila berbicara ia berdusta, bila berjanji menyalahi janjinya, dan bila diberi amanah ia berkhianat. Ketiga tanda ini termasuk jenis munafik amali.</span></p>
</li>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Imam Hasan Basri berkata, 'Iman bukanlah angan-angan, bukan pula sekedar hiasan, tetapi keyakinan yang hidup di dalam hati dan dibuktikan dalam amal perbuatan'.</span></p>
</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;"><strong>3.Istiqomah</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Syarah</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Keimanan seseorang muslim yang mencakupi tiga unsur di atas mesti selalu dipelihara dan dijaga dengan sikap istiqomah. Istiqomah adalah konsisten, tetap dan teguh. Tetap pada pendirian, tidak berubah, dan tahan uji. Sikap istiqomah akan melahirkan tiga hal yang merupakan ciri orang-orang beriman sempurna, iaitu:</span></p>
<ul>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Syajaah (keberanian) muncul kerana keyakinan sebagai hamba Allah yang selalu dibela dan didukung Allah. Tidak takut menghadapi tantangan hidup, siap berjuang untuk tegaknya yang haq (benar). Keberanian juga bersumber kepada keyakinan terhadap qadha dan qadar Allah yang pasti. Tidak takut pada kematian kerana kematian di jalan Allah merupakan anugerah yang selalu dirindukannya.</span></p>
</li>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Itminan (ketenangan) berasal dari keyakinan terhadap perlindungan Allah yang memelihara orang-orang mukmin secara lahir dan batin. Dengan sentiasa ingat pada Allah dan selalu berpanduankepada petunjukNya (kitabullah dan sunnah), maka ketenangan akan selalu hidup di dalam hatinya.</span></p>
</li>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Tafaul (optimis), meyakini bahawa masa depan adalah milik orang-orang yang beriman. Kemenangan ummat Islam dan kehancuran kaum kuffar sudah pasti. Mukmin menyedari bahawa amal perbuatan yang dilakukannya tidak akan sia-sia, melainkan pasti dibalas Allah dengan pembalasan yang sempurna.</span></p>
</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Dalil</span></p>
<ul>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">11:112-113, istiqomah ertinya tidak menyimpang atau cenderung pada kekufuran 17:73-74, istiqomah tetap teguh, tahan dan kuat dalam menghadapi dan melaksanakan perintah Allah. 42:15, terus berjuang menyampaikan ajaran Allah dengan tidak mengikuti hawa nafsu. Hadits: Abi Amr atau Abi Amrah Sofyan bin Abdillah , ia berkata: "aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku tentang Islam suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada seseorang kecuali kepadamu". Bersabdalah Rasulullah, "katakanlah, aku telah beriman kepada Allah. kemudian berlaku istiqomahlah kamu". (Muslim).</span></p>
</li>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">41:30-32, orang yang beristiqomah didukung Malaikat yang akan menjadikannyaberani, tenang dan optimis. 9:5x2, sumber keyakinan tentang qadha dan qadar yang menimbulkan keberanian, kecelakaan atau kemudharatan hanyalah ketentuan Allah belaka. 3:157/158, kemuliaan merupakan anugerah Allah bagi orang-orang mukmin sehingga mereka tidak takut menyampaikan risalah kebenaran, lihat 33:39.</span></p>
</li>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">13:28, ketenangan dapat diperoleh dengan mengingat Allah. 47:7, 3:173, 33:23, ketenangan yang diperoleh kerana tawakal terhadap janji perlindungan Allah yang pasti sehingga timbul pula keberanian menghadapi musuh. Ibnu Taymiyah berkata, "apa yang hendak dilakukan musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya syurga aku terletak dihatiku. Dimanapun aku berada ia selalu bersamaku. Sesungguhnya kematianku adalah syahid. Penjaraku adalah rasa manis, sedangkan mengusirku bagiku adalah travelling. Ibnu Qayyim mengambil perkataan seorang alim"sesungguhnya kita berada dalam kelezatan (hati) yang seandainya anak-anak raja mengetahuinya tentu mereka ingin mengambilnya dengan pedang-pedang mereka.</span></p>
</li>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">3:160, optimis bahawa dengan pertolongan Allah tak akan ada yang dapat mengalahkan. 33:22-23, contoh optimis para sahabat Rasul di perang Ahzab. Hadits, Rasulullah yakin akan mengalahkan Rummawi dan parsi dengan menjanjikan kepada Saraqah bin Malik akan memberikan gelang dan mahkota Parsi dengan keislamannya. Hal ini kemudian terbukti dengan kemenangan kaum muslimin dalam perang Qadissiyya.</span></p>
</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;"><strong>4.Assa'adah</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Syarah</span></p>
<ul>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Ketiga hasil istiqomah tadi akan membuat kebahagiaan bagi orang yang memilikinya. Jadi hanya syahadah sejati dapat menimbulkan sa'adah. Hanya Islam dengan konsep syahadah yang dapat memberikan kebahagian kepada manusia di dunia mahupun di akhirat.</span></p>
</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Dalil</span></p>
<ul>
<li class="mvd-P">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Al Qur'an banyak menyebutkan bahawa orang beriman akan mendapatkan kebahagiaan atau hasanah di dunia ataupun akhirat.</span></p>
</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;"><strong>Ringkasan</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Kandungan kata "syahadah"</span><br />
<span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">a. Iqrar (pengakuan) (3:18, 81)</span><br />
<span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">b. Sumpah (63:2, 24:6,8)</span><br />
<span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">c. Perjanjian (3:81, 5:7, 2:26-27)</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Iman: (2:285)</span><br />
<span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">a. Perkataan</span><br />
<span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">b. Membenarkan</span><br />
<span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">c. Amal</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Istiqamah: (41:30)</span><br />
<span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">a. Berani (41:30, 5:52)</span><br />
<span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">b. Tenang (41:30, 13:28)</span><br />
<span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">c. Optimis (41:30, 24:55)</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana,Tahoma,Arial;">Bahagia: (3:185)</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MEMAHAMI ASSYAHADATAIN ]]></title>
<link>http://yananto.wordpress.com/2008/10/06/memahami-assyahadatain/</link>
<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 06:32:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>yananto</dc:creator>
<guid>http://yananto.da.wordpress.com/2008/10/06/memahami-assyahadatain/</guid>
<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم
 
MEMAHAMI ASSYAHADATAIN
التعريف بالشهادتي]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-right:-1.5pt;text-align:center;" align="center"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">بسم الله الرحمن الرحيم</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.35pt;text-align:center;text-indent:-28.35pt;" align="center"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-family:Verdana;"> </span></span></p>
<h4 style="margin-right:-1.5pt;"><span style="color:#0000ff;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">MEMAHAMI ASSYAHADATAIN</span></strong></span></h4>
<h5 style="margin-left:0;text-indent:-1.5pt;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:16pt;font-family:'MCS Hijon E_U normal.';">التعريف بالشهادتي</span></span></h5>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.35pt;text-align:center;text-indent:-28.35pt;" align="center"><span style="font-family:Verdana;"> </span></p>
<h6 style="margin-left:0;text-indent:0;"><span style="font-family:Verdana;">Muqadimah</span></h6>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span> </span><em>Syahadat</em> merupakan hal yang sangat penting bagi seseorang, yang akan menentukan perjalanan kehidupannya. Dengan <em>syahadat</em>, orientasi <em>duniawi</em> (baca; materiil) akan berubah menjadi orientasi <em>ukhrawi</em> yang secara langsung atau tidak dapat merubah tujuan dan perjalanan hidup seseorang. Dan dengan <em>syahadat</em> ini pulalah, </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Rasulullah SAW</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> mengubah kondisi masyarakat Arab, dari kehidupan yang jahili menuju kehidupan yang Islami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span> </span><em>Syahadat</em> membawa perubahan mendasar dalam jiwa setiap insan. <em>Syahadat</em> merubah kondisi masyarakat dari akarnya yang paling bawah; yaitu dari sisi relung hatinya yang paling dalam. Ketika hati telah berubah, maka segala gerak gerik, tingkah laku, pola pikir, kejiwaan dan segala tindak tanduk akan berubah pula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span> </span>Namun tentulah untuk dapat mewujudkan perubahan seperti itu, harus terlebih dahulu memahami hakekat yang terkandung dalam kalimat yang membawa perubahan itu. Para sahabat, yang mereka semua sebagian besar orang Arab, sangat memahami makna yang terkandung dalam kalimat tersebut. Sehingga ketika mereka mengucapkannya, merekapun mengetahui dan memahami konsekwensi yang bakal mereka terima dari ucapannya. Oleh karena itulah, tidak sedikit kasus adanya penolakan dari mereka untuk mengucapkan kalimat tersebut. Bahkan diantara mereka ada yang mengatakan akan dapat mengatakan sepuluh kalimat, asalkan bukan kalimat yang satu itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.35pt;text-align:justify;text-indent:-28.35pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<h6><span style="font-family:Verdana;">Urgensi Syahadatain</span></h6>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.35pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Dari sinilah, kita dapat memetik urgensi (baca ; <em>ahamiyah</em>) dari <em>syahadat</em>. Dan terdapat beberapa urgensi syahadat penting lainnya. Diantaranya adalah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">(</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">مَدْخَلٌ إِلَى اْلإِسْلاَمِ</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Syahadat merupakan pintu gerbang masuk ke dalam Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Karena pada hakekatnya, <em>syahadat</em> merupakan pemisah seseorang dari kekafiran menuju Iman. Artinya dengan sekedar mengucapkan <em>syahadat</em>, seseorang telah dapat dikatakan sebagai seorang muslim. Demikian pula sebaliknya, tanpa mengucapkan <em>syahadat</em>, seseorang belum dapat dikatakan sebagai seorang muslim, kendatipun baiknya orang tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Dalam <em>syahadat</em> seseorang akan mengakui bahwa hanya Allah lah satu-satunya Dzat yang mengatur segala sesuatu yang ada di jagad raya, termasuk mengatur segala aspek kehidupan manusia dengan mengutus seorang rasul yang ditugaskan untuk membimbing umat manusia, yaitu nabi Muhammad SAW.</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">(</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">خُلاَصَةُ تَعَالِيْمِ اْلإِسْلاَمِ</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Syahadat</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> merupakan intisari dari ajaran Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Karena syahadat mencakup dua hal: Pertama konsep <em>la ilaha ilallah</em>; merealisasikan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah, baik yang dilakukan secara pribadi maupun secara bersamaan (berjamaah). Dari sini akan melahirkan keikhlasan kepada Allah SWT. Kedua, konsep Muhammad adalah utusan Allah, mengantarkan pada makna bahwa konsep ini menjadi konsep yang mengharuskan kita untuk mengikuti tatacara penyembahan kepada Allah sebagaimana yang diajarkan oleh </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Rasulullah SAW</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">. Atau dengan kata lain sering disebut dengan <em>ittiba</em>’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">(</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">أَسَاسُ اْلإِنْقِلاَبِ</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Syahadat</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> merupakan dasar perubahan total, baik pribadi maupun masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Karena <em>syahadat</em> dapat merubah kondisi suatu masyarakat, bangsa dan negara secara menyeluruh, dengan sentuhan yang sangat dalam yaitu dari dalam tiap diri insan. Karena jika seseorang dapat berubah, maka ia akan menjadi perubah yang akan merubah masyarakatnya. Allah berfirman dalam (QS. 13 : 11) :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah kondisi suatu kaum, hingga mereka mau merubah diri mereka sendiri.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>4.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">(</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">حَقِيْقَةُ دَعْوَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Syahadat</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> merupakan hakekat da’wah </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Rasulullah SAW</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Karena pada hekekatnya da’wah </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Rasulullah SAW</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> adalah da’wah untuk menegakkan dua hal; yaitu mentauhidkan Allah. Dan kedua menggunakan metode </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Rasulullah SAW</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> dalam merealisasikan ibadah kepada Allah SWT.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>5.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">(</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">فَضَائِلٌ عَظِيْمَةٌ</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Syahadat</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> memiliki keutamaan yang besar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Diantaranya keutamaanya adalah sebagaimana yang digambarkan dalam hadits berikut:</span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin:0 18pt .0001pt 0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin:0 18pt .0001pt 0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">رَسُولُ اللَّهِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ النَّارَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Dari Ubadah bin al-Shamit, aku mendengar </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Rasulullah SAW</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda, ‘Barang siapa yang bersaksi tiada tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, maka Allah akan mengharamkam neraka baginya”. (HR. Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.35pt;text-align:justify;text-indent:-28.35pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<h6><span> </span></h6>
<h6><span style="font-family:Verdana;">Arti</span><span style="font-family:Verdana;"> </span><span style="font-family:Verdana;">Kata </span><em><span style="font-family:Verdana;">Syahadat</span></em></h6>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Ditinjau dari segi bahasa, sedikitnya terdapat tiga arti dari kata <em>syahadat</em>, ketiga makna tersebut adalah :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">(</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">الإعلان/ الإقرار</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">) Pernyataan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Mengenai makna ini, Allah menggambarkan dalam Al-Qur’an (QS. 3 : 18) :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">شَهِدَ</span></span><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';"> اللَّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Allah <span style="text-decoration:underline;">menyatakan</span> bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Seseorang yang <em>bersyahadat</em>, berarti ia telah menyatakan sesuatu, sesuai dengan apa yang dinyatakannya. Dalam hal ini seseorang menyatakan bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwanya Muhammad adalah utusan Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">(</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">القسم / الحلف</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">) Sumpah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Allah berfirfirman (QS. 24 : 6):</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلاَّ أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ <span style="text-decoration:underline;">أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ</span> بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah <span style="text-decoration:underline;">empat kali bersumpah</span> dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Seseorang yang <em>bersyahadat</em>, maka ia sesungguhnya telah menyatakan diri dengan bersumpah, bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">(</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">العهد / الوعد</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">) Perjanjian</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Allah berfirman (QS. 2 : 84) :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">وَإِذْ أَخَذْنَا <span style="text-decoration:underline;">مِيثَاقَكُمْ</span> لاَ تَسْفِكُونَ دِمَاءَكُمْ وَلاَ تُخْرِجُونَ أَنْفُسَكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَأَنْتُمْ<span style="text-decoration:underline;"> تَشْهَدُونَ</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span> </span>“Dan (ingatlah), ketika Kami <span style="text-decoration:underline;">mengambil janji dari kamu</span> (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang <span style="text-decoration:underline;">kamu mempersaksikannya</span>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Seorang yang <em>bersyahadat</em>, sesungguhnya ia telah berjanji kepada Allah SWT untuk mentauhidkannya (tiada tuhan selain Allah), demikian juga berjanji untuk menjadikan nabi Muhammad adalah benar-benar utusan Allah, yang harus ia ikuti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<h6><span style="font-family:Verdana;">Syarat Diterimanya Syahadat</span></h6>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span> </span>Melihat makna <em>syahadat</em> di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ternyata <em>syahadat</em> bukanlah merupakan hal sepele yang ringan diucapkan oleh lisan. Namun syahadat memiliki konsekwensi yang demikian besarnya di hadapan Allah SWT. Oleh karena itulah, kita melihat para sahabat </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Rasulullah SAW</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> yang langsung memiliki perubahan yang besar dalam diri mereka, setelah mengucapkan kalimat tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.35pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Berkenaan dengan hal ini, kita perlu melihat sejauh mana batasan-batasan yang dapat menjadikan <em>syahadat</em> kita dapat diterima oleh Allah SWT. Para ulama memberikan beberapa batasan, agar syahadat seseorang dapat diterima. Diantaranya adalah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">(</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">العلم المنافي للجهل</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">)<span> </span>Didasari dengan ilmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Yaitu (pengetahuan) tentang makna yang dikandung dalam syahadat, dengan pengetahuan yang menghilangkan rasa ketidaktahuan tentang syahadat yang akan diucapkannya itu. Allah berfirman (QS. 47 : 19) :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">(</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">اليقين المنافي للشك</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">)<span> </span>Didasari dengan keyakinan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Artinya seseorang ketika mengucapkan syahadat, tidak hanya sekedar didasari rasa tahu bahwa tiada tuhan selain Allah, namun rasa ‘tahu’ tersebut harus menjadi sebuah keyakinan dalam dirinya bahwa memang benar-benar hanya Allah Rab semesta alam. Allah berfirman (QS. 49 : 15):</span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin:0 18pt .0001pt 0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ<span> </span>آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">(</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">الإخلاص المنافي للشرك</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">)<span> </span>Didasari dengan keikhlasan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Keyakinan mengenai keesaan Allah itupun harus dilandasi dengan keikhlasan dalam hatinya bahwa hanya Allah lah yang ia jadikan sebagai Rab, tiada sekutu, tiada sesuatu apapun yang dapat menyamainya dalam hatinya. Keiklasana seperti ini akan menghilangkan rasa syirik kepada sesuatu apapun juga. Allah berfirman (QS. 98 : 5):</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>4.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">(</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">الصدق المنافي للكذب</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">)<span> </span>Didasari dengan kejujuran</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Persaksian itu juga harus dilandasi dengan kejujuran, artinya apa yang diucapkannya oleh lisannya itu sesuai dengan apa yang terdapat dalam hatinya. Karena jika lisannya mengucapkan syahadat, kemudian hatinya meyakini sesuatu yang lain atau bertentangan dengan syahadat itu, maka ini merupakan sifat munafik. Allah berfirman (QS. 2 : 8 – 9):</span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin:0 18pt .0001pt 0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ ءَامَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ*<span> </span>يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ*</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>5.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">(</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">المحبة المنافية للبغض والكراهة</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">)<span> </span>Didasari dengan rasa cinta/ keridhaan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Maknanya adalah bahwa seseorang harus memiliki rasa kecintaan kepada Allah SWTdalam bersyahadat. Karena dengan adanya rasa cinta ini, akan dapat menghilangkan rasa kebencian kepada Allah dan al-Islam. Allah SWT berfirman (QS. 2 : 165):</span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin:0 18pt .0001pt 0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin:0 18pt .0001pt 0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>6.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">(</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">القبول المنافي للرد</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">)<span> </span>Didasari dengan rasa penerimaan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Syahadat yang diucapkan juga harus diiringi dengan rasa penerimaan terhadap segala makna yang terkandung di dalamnya, yang sekaligus akan menghilangkan rasa “ketidak penerimaan” terhadap makna yang dikandung syahadat tersebut. Allah berfirman (QS. 33 : 36):</span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin:0 18pt .0001pt 0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin:0 18pt .0001pt 0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>7.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">(</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">الإنقياد المنافي للإمتناع والترك وعدم العمل</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">)<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Didasari dengan rasa kepatuhan (terhadap konsekwensi syahadat). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Terakhir adalah bahwa syahadat memiliki konsekwensi dalam segala aspek kehidupan seorang muslim. Oleh karenanya seorang muslim harus patuh terhadap segala konseksensi yang ada, yang sekaligus menghilangkan rasa ‘ketidakpatuhan’ serta keengganan untuk tidak melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah dan </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Rasulullah SAW</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">. Allah berfirman (QS. 24 : 51):</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu'min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan." "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.35pt;text-align:justify;text-indent:-28.35pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.35pt;text-align:justify;text-indent:-28.35pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<h6><span style="font-family:Verdana;">Makna Syahadatain</span></h6>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Uraian makna dan fungsi kata <em>La ilaha ilallah</em> (</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">لآ إله إلا الله</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<div>
<table class="MsoNormalTable" style="border:medium none;margin-left:19.6pt;border-collapse:collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="background:#bfbfbf none repeat scroll 0 0;width:114.25pt;border:4.5pt 1pt 1pt 4.5pt double solid solid double windowtext;padding:0 5.4pt;" width="152" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Kata</span></strong></p>
</td>
<td style="background:#bfbfbf none repeat scroll 0 0;width:116.05pt;border:4.5pt 1pt 1pt medium double solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="155" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Makna</span></strong></p>
</td>
<td style="background:#bfbfbf none repeat scroll 0 0;width:176.2pt;border:4.5pt 4.5pt 1pt medium double double solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="235" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Fungsi</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:114.25pt;border:medium 1pt 1pt 4.5pt none solid solid double 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="152" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">La (</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">لا</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">)</span></p>
</td>
<td style="width:116.05pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="155" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Tiada/   Tidak</span></p>
</td>
<td style="width:176.2pt;border:medium 4.5pt 1pt medium none double solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="235" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Nafi   (</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">النفي</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">): Peniadaan</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:114.25pt;border:medium 1pt 1pt 4.5pt none solid solid double 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="152" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Ilaha   (</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">إله</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">)</span></p>
</td>
<td style="width:116.05pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="155" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Tuhan   (yang disembah)</span></p>
</td>
<td style="width:176.2pt;border:medium 4.5pt 1pt medium none double solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="235" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Manfa   (</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">المنفى</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">): yang dinafikan/   ditiadakan.</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:26.9pt;">
<td style="width:114.25pt;height:26.9pt;border:medium 1pt 1pt 4.5pt none solid solid double 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="152" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Illa   (</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">إلا</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">)</span></p>
</td>
<td style="width:116.05pt;height:26.9pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="155" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Kecuali</span></p>
</td>
<td style="width:176.2pt;height:26.9pt;border:medium 4.5pt 1pt medium none double solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="235" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Adatul   Istisna’ (</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">أداة   الإستثناء</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">):   pengecualian.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:114.25pt;border:medium 1pt 4.5pt 4.5pt none solid double double 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="152" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Allah   (</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">الله</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">)</span></p>
</td>
<td style="width:116.05pt;border:medium 1pt 4.5pt medium none solid double none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="155" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Allah   SWT</span></p>
</td>
<td style="width:176.2pt;border:medium 4.5pt 4.5pt medium none double double none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="235" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Al-Mustasna   (</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">المستثناء</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">) :yang dikecualikan</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Arti <em>la ilaha ilallah</em></span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Ilah secara bahasa memiliki arti sesuatu yang disembah. Dimensi Ilah dalam kehidupan ini dapat mencakup makna yang luas, diantaranya adalah :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>a)<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Malik (</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">المالك</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">) raja/ pemiliki : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.35pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Tiada Pemiliki/ Raja selain Allah SWT/ Tiada kerajaan selain untuk Allah SWT. Allah SWT berfirman (QS. 4: 131)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:28.35pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:28.35pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.35pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.35pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>b)<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Hakim (</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">الحاكم</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">) ; Pembuat hukum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Tiada pembuat hukum selain Allah SWT. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman dalam (QS. 6 : 114) :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:36pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلاً وَالَّذِينَ ءَاتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:36pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Qur'an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Dalam ayat lain Allah mengatakan (QS. 6 : 57)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:-1.5pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>c)<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Amir (</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">الأمير</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">) : Pemerintah (yang berhak memberikan perintah)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Tiada pemerintah (yang berhak memberikan perintah atau larangan) selain Allah SWT. Dalam Al-Qur’an Allah mengatakan (QS. 7 :54):</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:36pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ<span> </span>اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>d)<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Wali (</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">الولي</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">) : Pelindung/pemimpin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Tiada pelindung/pemimpin selain Allah SWT. Allah berfriman dalam Al-Qur’an (QS. 2:257)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">اللهُ وَلِيُّ الَّذِينَ<span> </span>آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span>e)<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Mahbub (</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">المحبوب</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">) : Yang dicintai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Tiada yang dicintai selain Allah SWT Dalam Al-Qur’an Allah SWT mengatakan (QS. 2 : 165):</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ<span> </span>آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:16pt;font-family:'Akhbar MT';">الَّذِينَ ظ