<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>monoteisme &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/monoteisme/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "monoteisme"</description>
	<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 03:28:50 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Dawkins, Dhani dan Meme Monoteisme]]></title>
<link>http://gentole.wordpress.com/?p=330</link>
<pubDate>Sat, 20 Sep 2008 07:03:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>gentole</dc:creator>
<guid>http://gentole.da.wordpress.com/2008/09/20/dawkins-dhani-dan-meme-monoteisme/</guid>
<description><![CDATA[Kyai Haji Richard Dawkins
Apa hubungannya Kyai Haji Richard Dawkins dengan Ahmad Dhani, salah satu t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[[caption id="attachment_331" align="aligncenter" width="331" caption="Kyai Haji Richard Dawkins"]<a href="http://gentole.files.wordpress.com/2008/09/473px-richard_dawkins_lecture.jpg"><img class="size-full wp-image-331" title="473px-richard_dawkins_lecture" src="http://gentole.wordpress.com/files/2008/09/473px-richard_dawkins_lecture.jpg" alt="" width="331" height="420" /></a>[/caption]
<p style="text-align:justify;">Apa hubungannya Kyai Haji Richard Dawkins dengan Ahmad Dhani, salah satu tokoh antagonis di bumi blogosfer Indonesia ini? Well, tidak ada. :D Sebenarnya saya hanya teringat gagasan Dawkins ketika banyak orang meributkan kebiasaan Dhani –- yang katanya arogan bin norak -- menyontek lirik dan lagu orang lain. Melihat <a href="http://gentole.wordpress.com/2008/04/12/kritik-terhadap-kritikus-ahmad-dhani/">post saya soal Dhani</a> yang dikutip di <a href="http://forum.detik.com/showthread.php?t=55874">detikforum</a>, dan melihat reaksi para netter di sana, saya mengelus dada, betapa Dhani dipuja dan dibenci, dibela dan dimaki. Apakah mereka sadar kalau Dhani itu, dalam pandangan Dawkinsian, hanyalah sebuah mesin (<em>survival machine</em>) dalam mana gen-egois bereplikasi untuk hidup lebih lama? Kalau dia arogan dan norak, bukankah itu hanya produk dari perpaduan gen yang diwariskan orang tua yang bersangkutan dalam rantai evolusi yang panjang? Dan apakah mereka juga sadar bahwa Dhani hanyalah tempat singgah dari jutaan meme yang tidak mau mati dan terlupakan? Meme? Iya, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Meme">meme</a>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
Dhani itu “Korban” Meme?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Begini, kalau dalam banyak lagunya Dhani terdapat berbagai potongan nada/lagu yang sudah digunakan sebelumnya oleh seniman lain (karenanya ia sering disebut plagiaris), bukankah itu sebuah peristiwa yang wajar dan tak terelakkan, dalam arti bahwa sebenarnya kita tidak bisa tahu betul siapa menggunakan siapa dalam fenomena itu; apakah Dhani memanfaatkan nada-nada populer itu agar lagu-lagunya bisa laku, ataukah nada-nada populer itu yang memanfaatkan Dhani agar ia tidak dilupakan dan <em>outlive </em>mereka yang memainkannya? Coba pikir, suatu saat Dhani akan wafat, tetapi lagunya belum tentu ikut wafat, bukan? Pada akhirnya, dalam pandangan naturalis, Dhani hanya korban daya tarik dari sebuah nada saja. :D</p>
[caption id="attachment_332" align="alignleft" width="100" caption="Ini Ahmad Dhani, kalau ada yang gak kenal. :D"]<a href="http://gentole.files.wordpress.com/2008/09/ahmad_dhani.jpg"><img class="size-full wp-image-332" title="ahmad_dhani" src="http://gentole.wordpress.com/files/2008/09/ahmad_dhani.jpg" alt="" width="100" height="150" /></a>[/caption]
<p style="text-align:justify;">Nada-nada lawas yang digunakan Dhani itu, kata Pak Dawkins, adalah meme, seperti juga pisang goreng, fesyen batik, solat tarawih, acara bukber, arsitektur renaisans, demokrasi, teori ekonomi, gaya bercinta dll. Meme adalah gagasan atau perilaku manusia yang berkembang dan bertahan melalui proses meniru; sama seperti gen, meme “bermutasi” dan “berevolusi”. Dan, sama dinginnya dan egoisnya dengan gen juga, meme itu bukan entitas yang sadar-diri. Maksudnya, mereka sih cuek aja dalam menjalankan "takdirnya"; Dalam sebuah proses yang tidak perlu melibatkan kesadaran, berbagai gagasan/perilaku budaya itu hinggap dari satu otak ke otak yang lain. Dan karena mereka mengada secara mekanis, ada proses seleksi alam juga di sini. Kita lihat, misalnya, hanya nada-nada yang disukai publik yang bisa bertahan lama, dan apabila masyarakat berubah karena berbagai deviasi dalam proses imitasi, nada-nada itupun bermutasi. Itu sebabnya, <em>Air on G String</em>-nya Bach bisa menjadi menjadi <em>The Whiter Shades of Pale</em>-nya Procol Harum, <em>Save Me</em>-nya Queen dan, tentu saja, <em>Pupus</em>-nya Ahmad Dhani. Paradigma evolusinya Mbah Darwin itu memang luar biasa! Jadi tidak perlu kaget kalau intro lagu Ratu <em>Jangan Bilang Siapa Siapa</em> itu mirip intro lagunya Kayak, <em>Chance for a Life Time</em>; dan jangan kaget kalau lagu klasik seperti <em>Fur Elise</em> itu masih diperdengarkan hingga saat ini. Lagu manis dalam A Minor itu sedang mengendarai kepala kita!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Monoteisme sebagai Meme </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Iya, kata Pak Dawkins, Allah SWT adalah meme juga, berikut dengan Hukum Taurat dan Syari’at Islam yang konon katanya telah diturunkan secara ajaib dari langit. Ah, perlu saya tambahkan di sini kalau Pak Dawkins bilang meme itu parasit. Itu sebabnya, Pak Dawkins dan juga Richard Brodie, senang luar biasa ketika mereka bisa mengatakan bahwa Allah dan agama adalah virus akal budi.  :D Dulu, kata Karl Marx, agama adalah candu. Sekarang, agama adalah virus! Kasar memang, tetapi tidak dapat dipungkiri, pendekatan memetik terhadap evolusi agama memang cukup menarik. Dan ada baiknya bagi mereka yang masih beragama untuk mencari tahu asal-usul agama secara historis; jangan-jangan, seperti Dhani, kita juga korban meme? :mrgreen:</p>
<p style="text-align:justify;">Well, kata Ibu Karen Armstrong, mengutip Romo Wilhelm Schmidt, suatu hari di zaman yang sangat primordial manusia menemukan gagasan tentang Satu Tuhan, yakni Sang Pencipta dan Penguasa Langit. Tuhan ini dikenal dengan nama Tuhan  Langit/Sky God. Konon, beberapa masyarakat primitif di Afrika masih mempercayai Tuhan semacam ini. Mereka percaya Tuhan ini tidak bisa diungkapkan dengan kata. Dan karena ia terlalu agung untuk dikultuskan dalam lembaga tradisional apapun, akhirnya manusia pun lupa kepadanya. Ada yang bilang, kata Ibu Karen, Tuhan ini “menghilang begitu saja.” Tidak lama kemudian berhala mulai bermunculan; Tuhan baru dihadirkan dalam bentuk patung; dan setiap gejala alam yang luar biasa dikaitkan dengan tuhan yang dianggap berbeda pula; monoteisme purba itu pun digantikan oleh politeisme.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu sulit untuk membuktikan ceritanya si Romo Schmidt itu, tetapi yang jelas sekitar beberapa milenia sebelum lahirnya Kristus, gagasan monoteisme kembali muncul, tetapi kali ini lebih canggih lengkap dengan beberapa gagasan pendukung, seperti kebaikan dan kejahatan, yang bisa membuatnya lebih kompetitif ketimbang paganisme yang biasanya lebih berbasis pada pengorbanan belaka dan kurang portabel (patung berat, Mas!). Ilmu Tauhid dalam Islam itu bukan barang baru di dunia ini. Jauh sebelum Musa berkenalan dengan Yahweh di gunung Sinai, Tuhan tribal bangsa Israel yang menjadi cikal bakal Tuhan modern, seorang Parsi bernama <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Zoroastrianism">Zoroaster</a> sudah menyebarkan ajaran tentang Tuhan Esa yang bernama <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ahura_Mazda">Ahura Mazda</a>. Bukan itu saja, Zoroaster juga mengungkapkan konsep baik dan buruk, neraka dan surga, malaikat dan iblis etc, dan besar kemungkinan -- karena adanya kemiripan dan kontak antara bangsa Persia dan Yahudi -- konsep-konsep ini, sebagai meme, mereplikasi diri mereka ke dalam kebudayaan bangsa Yahudi, dan kemudian diwariskan kepada umat Kristen dan Islam, Ingat, meme itu melampaui usia masyarakat. Bangsa Yunani bisa hancur, tetapi peradabannya bertahan terus melalui pemimpin politik Roma, kepala penerjemah Arab dan para pemikir Pencerahan. Dengan demikian, bisa jadi, agama-agama besar seperti Yahudi, Islam, Kristen dan juga Hinduisme beserta Buddhisme, karena keduanya terkait secara historis dengan Zoroastrianisme, adalah hasil “mutasi” dari meme yang pernah hinggap di kepala Zoroaster, atau manusia purba yang pertama kali menemukan monoteisme itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata Dawkins, monoteisme itu “unggul” karena ia memiliki daya tarik psikologis; dalam “kolam meme”, melalui suatu proses seleksi alamiah, monoteisme muncul sebagai gagasan yang paling cocok bagi kita. Mengapa? Kata Dawkins, itu karena monoteisme sepertinya bisa menjawab berbagai problematika eksistensi.  "Mengapa kita berada di dunia ini!?" Secara psikologis, bertuhan itu memberi ketentraman yang luar biasa. Wajar apabila gagasan monoteisme kemudian di-<em>copy-paste</em> secara turun temurun selama berabad-abad. Meski begitu, Dawkins mengingatkan, itu bukan berarti monoteisme dipertahankan untuk kepentingan biologis atau keberlangsungan (<em>survival</em>) organisme. Dalam pandangan Darwinian-Dawkinsian, moneteisme itu sendiri sebagai meme yang menggandakan dirinya secara mekanis untuk “bertahan hidup”.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
Sebuah Komentar Pribadi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Saya membaca <em>The Selfish Gene</em>, bukunya Pak Dawkins di mana ia mengusulkan kata <em>meme</em>, bukan tanpa perasaan hampa dan putus asa, meskipun bapak itu menulisnya dengan gaya populer, santai dan penuh humor. Sensasi yang sama saya rasakan ketika membaca novelnya Albert Camus yang berjudul <em>Sampar </em>atau esainya Schopenhauer yang berjudul <em>On the Vanity of Existence</em>. Hampa. Kering. Buku-buku semacam itu tidak baik dibaca oleh orang yang mudah depresi seperti saya ini.  :? Tadinya saya, dengan segala kerendahan hati, mau mengkritik Dawkins soal ini, tetapi dia mengakhiri buku gila itu dengan kalimat ini: <strong><em>“We are built as gene machines and cultured as meme machines, but we have the power to turn against our creators [genes and memes, dari saya]. We, alone on earth, can rebel against the tyranny of the selfish replicators.”</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">“We” itu siapa yah Pak Dawkins? Well, Pak Dawkins sepertinya terlalu bersemangat untuk mengatakan kita harus melawan tirani gagasan Tuhan! Masalahnya, “kita” itu siapa? Subyek yang bebas absolut? Oh, capek…</p>
<p style="text-align:justify;">*Berharap punya waktu luang untuk belajar soal kesadaran/kognisi*</p>
<p style="text-align:justify;">*Terpikir proyeknya <a href="http://sora9n.wordpress.com/2008/09/12/sedikit-tentang-mekanika-kuantum-dan-filosofinya-35/">Sora tentang QM</a>*</p>
<p style="text-align:justify;">*Berusaha membaca bukunya Umberto Eco lagi*</p>
<p style="text-align:justify;">*Masih menduga bahwa Allah adalah Kesadaran Tunggal*</p>
<p style="text-align:justify;">*Masih menduga Hegel dan Plotinus benar*</p>
<p style="text-align:justify;">*Akal Budi itu emanasi Allah yang Merealisasikan Dirinya dalam Sejarah*</p>
<p style="text-align:justify;"><em>NB: Seperti biasa, saya tidak tahu apakah saya tidak menyalahpahami Dawkins, karena saya hanya seorang pekerja saja. Saya belum baca buku-buku tentang meme selain </em>The Selfish Gene<em>. </em><em>Kalo ada yang bisa mengoreksi, seperti <a href="http://rosenqueencompany.wordpress.com/">Mas Geddoe,</a> misalnya, atau siapa saja, minta repotnya dong. :D </em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Islam Saya dan Islam Cak Nur]]></title>
<link>http://hmibecak.wordpress.com/?p=386</link>
<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 07:33:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>hmibecak</dc:creator>
<guid>http://hmibecak.da.wordpress.com/2008/07/15/islam-saya-dan-islam-cak-nur/</guid>
<description><![CDATA[

Oleh: Aan Rukmana
Sore    itu langit Jakarta mendung diselimuti kabut kesedihan. Atmosfer pesimism]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h1></h1>
<p align="justify"><a href="http://hmibecak.files.wordpress.com/2008/07/madjid_nurcholish.gif"><img class="alignnone size-full wp-image-387" src="http://hmibecak.wordpress.com/files/2008/07/madjid_nurcholish.gif" alt="" width="138" height="193" /></a></p>
<p align="justify"><strong>Oleh: Aan Rukmana</strong></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Georgia,Times New Roman,Times,serif;font-size:small;">Sore    itu langit Jakarta mendung diselimuti kabut kesedihan. Atmosfer pesimisme kolektif    merebak seketika. Struktur bangunan kebangsaan seakan ambruk. Roda aktivitas    pun terhenti sesaat. Sebuah momen historis kepergian Sang Guru Bangsa. Tepat    pada 29 Agustus 2005 lalu bangsa Indonesia kehilangan putra terbaiknya. Prof.    Dr. Nurcholish Madjid yang akrab disapa Cak Nur telah tiada.</span><!--more--></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Georgia,Times New Roman,Times,serif;font-size:small;"> Sore itu saya duduk termenung sendirian di pelataran kampus Paramadina. Tidak    ada kata yang terlontar atau imajinasi yang terabstraksi. Semuanya mengalir    begitu saja dalam keheningan. Memang menjadi kebiasaan saya merenung di sore    hari. Tiba-tiba lamunan sore itu pun pecah ketika datang serombongan mobil mengiringi    mobil jenazah. Menurut kabar Cak Nur telah pergi. Antara percaya dan tidak percaya    saya pun menyaksikan momen sore itu dengan diam. Hati saya pun membatin, “Benarkah    Cak Nur telah tiada?”</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Georgia,Times New Roman,Times,serif;font-size:small;"> Imajinasi ini terbang melayang menelusuri jejak waktu yang telah lampau, pada    tahun 2001 ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Universitas Paramadina.    Itulah saat pertama saya berjumpa Cak Nur. Ketika masa pro-training akan dimulai,    panitia mengumumkan kepada peserta bahwa Cak Nur akan membuka acara pro-training    di hari pertama. Mendengar pengumuman itu seperti mendengar kabar dari langit.    Apalagi bagi saya yang selama ini hidup jauh di pedalaman Banten. Melihat langsung    sosok Cak Nur jauh lebih berharga buat saya daripada acara pro-training itu    sendiri. Ini yang selalu saya tunggu-tunggu dari dulu, bertemu tokoh besar bangsa    ini.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Georgia,Times New Roman,Times,serif;font-size:small;"> Saat penting itu pun datang. Cak Nur dengan penampilannya yang sederhana, berkaca    mata tebal diiringi senyum masuk ke auditorium, tempat kami mahasiswa baru berkumpul.    Di awal pidatonya, Cak Nur berkata: ”wahai anak-anakku, memasuki perguruan    tinggi itu seperti memasuki samudera luas. Tidak ada batasan di dalamnya, karena    batasan itu adalah batasan kita sendiri. Maka pergunakanlah keluasan itu untuk    mengembangkan kreativitas kalian. Tidak usah takut gagal kalau sudah berusaha,    karena kegagalan setelah berusaha itu mendapatkan nilainya sendiri.” Mendengar    tutur Cak Nur yang begitu mengalir dan inspiratif saya teringat dengan ajaran    yang dulu saya dapatkan di pesantren. Akan tetapi ulasan yang kontekstual dan    diperkaya dengan ilustrasi terkini menjadikan pesan-pesan itu genial dan mencerahkan.<br />
Hari itu saya seperti Musa yang menerima Sepuluh Pesan Tuhan di Bukit Thur Sina,    atau Barman yang mendapatkan ”pencerahan hidup” setelah berjumpa    dengan Humam seperti dikisahkan Kuntowijoyo lewat novel mistiknya, Khotbah di    Atas Bukit. Hari itu menjadi momen erlebnis bagi perkembangan ke-Islaman saya.    Sejak saat itu saya mulai mempelajari pemikiran Cak Nur.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Georgia,Times New Roman,Times,serif;font-size:small;"> Setelah sekian lama menelusuri pemikiran Cak Nur, saya menyadari bahwa Islam    yang saya dapatkan selama ini adalah ”Islam Pedesaan” bukan ”Islam    Perkotaan”. ”Islam Pedesaan” selalu menjadikan fiqih sebagai    sentralnya, sedangkan ”Islam Perkotaan” meliputi seluruh dimensi    ajaran Islam mulai dari fiqh, kalam, falsafah hingga tasawwuf. Otoritas tertinggi    dalam ”Islam Perkotaan” terletak pada diri masing-masing. Penafsiran    atas teks terbuka lebar bagi siapapun. Tidak ada ketentuan mutlak mana yang    lebih benar dari sebuah penafsiran. Di sini teks menjadi otonom untuk ditafsirkan.    Berbeda dengan ”Islam Pedesaan” di mana induk seluruh penafsiran    bermuara pada pemegang tampuk institusi agama. Apakah itu seorang kyai, ustadz,    rahib, pendeta atau pemangku jabatan keagamaan lainnya. Di sinilah terjadi institusionalisasi    agama. Ukuran dari kebenaran adalah seberapa dekat kebenaran itu dengan kebenaran    pemimpin agamanya. Posisi Tuhan telah diganti oleh pemimpin agama.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Georgia,Times New Roman,Times,serif;font-size:small;"> Fondasi yang melandasi seluruh dinamika ”Islam Perkotaan” adalah    logos, sedangkan basis pembangunan ”Islam Pedesaan” adalah mitos.    Andai logos itu cahaya maka mitos adalah kegelapan. Sebuah keniscayaan logis    jika di balik ”Islam Perkotaan” itu muncul impian besar membangun    peradaban luhur. Peradaban yang berpilarkan ilmu pengetahuan. Inilah model Islam    modern yang dulu pernah lahir tapi kini hilang diterjang skeptisisme panjang    akibat merebaknya model ”Islam Pedesaan” yang berbudayakan taklid.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Georgia,Times New Roman,Times,serif;font-size:small;"> Menurut Cak Nur sumber lahirnya peradaban luhur itu adalah tawhid (Madjid, 2005:    72). Ajaran tawhid (monoteisme radikal) membawa implikasi pada pembebasan manusia.    Manusia bebas dari apapun (free from) dan untuk melakukan apapun (free for).    Kebebasan ini merupakan anugerah terbesar manusia. Karena unsur kebebasan inilah    konsep surga dan neraka menjadi sesuatu yang rasional. Sisi pertanggungjawaban    manusia diafirmasi oleh adanya kebebasan manusia. Konsekuensi logis lainnya    adalah manusia memiliki tugas menata dunianya. Penataan dunia menjadi proyek    ilmu pengetahuan. Alam yang selalu bersembunyi di balik misteri tersingkap perlahan-lahan    oleh ilmu pengetahuan. Manusia menjadi berani menjamah alam. Pada akhirnya alampun    benar-benar mengalami desakralisasi. Meski manusia memiliki kebebasan mengeksploitasi    alam, tapi pertanggungjawaban tetap ada pada dirinya. Menghancurkan alam sama    dengan menghancurkan eksistensi dirinya sendiri.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Georgia,Times New Roman,Times,serif;font-size:small;"> Dari beberapa tulisan Cak Nur ditemukan bahwa dalam Islam tidak ada konflik    antara agama dan sains. Dari awal kelahiran Islam, agama dan sains selalu berjalan    harmonis. Alih-alih menjadi lawan, justru agama mendorong lahirnya gerakan intelelektual    di dunia Islam. Berbeda dengan kondisi Eropa Abad Pertengahan di mana agama    dan sains bermusuhan. Bahkan tidak jarang banyak ilmuwan diinkuisisi oleh kalangan    agama karena penemuannya bertentangan dengan tafsir lahiriah Kitab Suci. Menurut    Cak Nur yang muncul kemudian di dunia Islam adalah kejumudan akibat berhentinya    ijtihad (berpikir). Untuk urusan ilmu pengetahuan seluruh umat Islam bersepakat,    akan tetapi untuk urusan agama umat Islam terpecah belah ke dalam beberapa golongan.    Perpecahan ini semakin mengkristal ketika masing-masing membawa simbol agama.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Georgia,Times New Roman,Times,serif;font-size:small;">”Islam    Perkotaan” di samping mendorong lahirnya ilmu pengetahuan juga mendorong    terciptanya masyarakat yang egaliter di hadapan hukum. Siapapun—tanpa    melihat jabatan yang disandangnya—berdiri sama di hadapan hukum. Tidak    ada perlakuan khusus bagi si pelanggar hukum. Di sini antara kyai dan santri    sama saja posisinya. Di sini posisi keadilan ditegakkan setinggi-tingginya.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Georgia,Times New Roman,Times,serif;font-size:small;"> Seketika saya terperanjat dari lamunan itu. Seorang teman menepuk punggung sambil    berkata, ”ayolah jangan melamun terus, Cak Nur telah pergi, ayo kita bacakan    al-Qur’an.” Saya baru sadar kalau tadi terbawa hanyut pengalaman    lama ketika awal berjumpa Cak Nur. ”Oh demikian berartinya Cak Nur untuk    pencarian Islam saya. Saya benar-benar merasa kehilangan dirinya.” demikian    lirih saya ke sahabat yang tadi membangunkan.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Georgia,Times New Roman,Times,serif;font-size:small;"> Untaian pesan Cak Nur yang dulu di sampaikan pada awal perkuliahan kini kembali    mengiang-ngiang di telinga. Bagi saya posisi Cak Nur jelas, ia ingin mengajarkan    orang lain beragama sesuai dengan pencarian jati dirinya. Antara Islam seseorang    dengan yang lainnya tentu berbeda. Cak Nur telah menempuh perjalanan panjang    menuju Islam versi dirinya. Islam Cak Nur berbeda dengan Islam Saya. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Georgia,Times New Roman,Times,serif;font-size:small;"> Kadang muncul kekhawatiran pada diri saya karena tidak jarang kematian seorang    tokoh besar meninggalkan jejak para penerus yang kaku. Mereka menjadikan tokoh    itu ”penjara” bagi kebebasan mereka sendiri. Batasan kebebasan pemikiran    sang penerus adalah sosok yang diteruskannya itu. Seringkali penganjur ”kebebasan”    diikuti oleh orang-orang ”anti-kebebasan.” Proposisi ini tidak berlaku    buat saya, apalagi bila dikaitkan dengan Cak Nur yang mana selama hidupnya mendorong    orang lain untuk beragama otentik. Model keberagamaan otentik yang dimaksud    Cak Nur adalah keberagamaan sebagai dinamika yang berproses menuju hakikat keberagamaan    yang paling dalam. Beragama merupakan perjalanan panjang tanpa henti (becoming).    Demikian wasiat Cak Nur yang hingga saat ini selalu menjadi pedoman pencarian    keislaman saya. Semoga Cak Nur selalu mendapat ketenangan di alam sana.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Georgia,Times New Roman,Times,serif;font-size:small;">Jakarta,    13 Juli 2008</span></p>
<p align="justify">Sumber: <a href="http://www.icas-indonesia.org/index.php?option=com_content&#38;task=view&#38;id=407&#38;Itemid=1&#38;lang=iso-8859-1" target="_blank">ICAS-JAKARTA</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[50 steder, kristne IKKE skal besøge]]></title>
<link>http://annalyttiger.wordpress.com/?p=672</link>
<pubDate>Mon, 12 May 2008 11:21:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>Anna Lyttiger</dc:creator>
<guid>http://annalyttiger.da.wordpress.com/2008/05/12/50-steder-kristne-ikke-skal-bes%c3%b8ge/</guid>
<description><![CDATA[Ingen kommentarer. Via KrDawblad

Nordkorea
Saudi-arabien
Iran
Maldiverne
Bhutan
Yemen
Afghanistan
L]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ingen kommentarer. Via <a href="http://www.religion.dk/artikel/284402:Globalt-nyt--50-steder-kristne-IKKE-skal-besoege" target="_blank">KrDawblad</a></em></p>
<p><!--more--></p>
<blockquote><p>Nordkorea<br />
Saudi-arabien<br />
Iran<br />
Maldiverne<br />
Bhutan<br />
Yemen<br />
Afghanistan<br />
Laos<br />
Uzbekistan<br />
Kina<br />
Eritrea<br />
Somalia<br />
Turkmenistan<br />
Comorerne<br />
Pakistan<br />
Qatar<br />
Vietnam<br />
Tjetjenien<br />
Egypten<br />
Zanzibar (Tanzania)<br />
Irak<br />
Aserbajdsjan<br />
Libyen<br />
Mauretanien<br />
Myanmar (tidl. Burma)<br />
Nordsudan<br />
Oman<br />
Cuba<br />
Brunei<br />
Indien<br />
Algeriet<br />
Nordnigeria<br />
Djibouti<br />
Tyrkiet<br />
Kuwait<br />
Sri Lanka<br />
Tadsjikistan<br />
Forenede Arabiske Emirater<br />
Jordan<br />
Marokko<br />
Hviderusland<br />
Palæstinensiske områder<br />
Ethiopien<br />
Syrien<br />
Bahain<br />
Tunesien<br />
Indonesien<br />
Bangladesh<br />
Nordøstlige Kenya<br />
Colombia (konfliktområder)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Vi er dressert til å tenke at tro forutsetter en Gud]]></title>
<link>http://teotao.wordpress.com/?p=37</link>
<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 20:52:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Teo&#38;Tao</dc:creator>
<guid>http://teotao.da.wordpress.com/2008/04/26/vi-er-dressert-til-a-tenke-at-tro-forutsetter-gud/</guid>
<description><![CDATA[Tror du på Gud? I vår kultur og sammenheng er dette spørsmålet synonymt med &#8220;er du religi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tror du på Gud? I vår kultur og sammenheng er dette spørsmålet synonymt med "er du religiøs?" Men kan man ha en religiøs livsforståelse uten forestillingen om "Gud"?</strong></p>
<p>Svaret er egentlig opplagt: Ja, det kan man. New Age'ere og buddhister klarer dette utmerket.</p>
<p>Men kan jeg?</p>
<p>Kan vi som har vokst opp med forestillingene om Gud Fader den allmektige himmelen og jordens skaper, bevare en levende åndelighet og spiritualitet dersom vi erfarer at det er nødvendig å gi avkall på forestillingen om "Gud"?</p>
<p>Tross alt, vi lever i en kultur som er preget av tusen års monoteisme. Våre forestillinger om religion er intimt forbundet med tanken om at det finnes et vesen i himmelen som en gang skapte universet, en som forsatt "står bak" skapelsesprosessene, som har kodet inn bestemte krav til orden og hierarki i sitt skaperverk, og som en gang skal blåse av kampen for å utrope noen heldige vinnere og en masse tapere.</p>
<p>Likheten med fotballdommere er at det bare er Gud selv som vet eksakt når det er slutt.</p>
<p>De som velger å ta avstand fra forestillingen om Gud, kalles ateister. Og en ateist er per definisjon IKKE RELIGIØS. Slik er vi vant til å tenke.</p>
<p>Men må det være slik? Kan man bygge en tro uten Gud, en åndelighet som ikke handler om å tilbe og underkaste seg en overlegen skapermakt?</p>
<p>Når jeg setter spørsmålstegn bak annenhver setning, er det fordi jeg ikke ser dette klart. Enn så lenge er spørsmålstegn mer sannferdige enn utropstegn. Kanskje bør det alltid være slik. Eller kanskje kan jeg snart koste på meg noen flere nøkterne punktum - mellom tankestreken.</p>
<p>?...</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
