<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>neurologi &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/neurologi/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "neurologi"</description>
	<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 13:45:13 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Penyebab tidur berjalan !]]></title>
<link>http://dzulfikar.wordpress.com/?p=681</link>
<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 16:55:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>dzulfikar</dc:creator>
<guid>http://dzulfikar.wordpress.com/?p=681</guid>
<description><![CDATA[By  :  dzulfikar

para ilmuwan Kanada telah mengklaim bahwa kejadian tidur sambil berjalan meningkat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>By  :  <em><strong>dzulfikar</strong></em></p>
<p><img style="margin-left:5px;border-style:solid;border-width:1px;" src="http://www.presstv.com/photo/20080625/khashayar20080625204958937.JPG" alt="" width="136" height="70" /></p>
<p>para ilmuwan Kanada telah mengklaim bahwa kejadian tidur sambil berjalan meningkat ketika pola tidur normal terganggu.</p>
<p>menurut penelitian yang diterbitkan di Jurnal neurologi, Para pelaku tidur berjalan mengalami lebih banyak kejadian tersebut ketika mereka terganggu tidurnya akibat faktor-faktor seperti kegaduhan.<br />
<!--more--><br />
Peneliti di Universitas Montreal menyimpulkan bahwa untuk mengurangi tidur berjalan, mereka yang mengalami hal demikian harus menjaga siklus tidur teratur, meminimalisir gangguan  tidur (suara gaduh, dll), dan menjauhi lingkungan yang berpotensi mengganggu selama tidur.</p>
<p>Tidur berjalan merupakan gangguan yang ditandai oleh tingkah laku seperti bangun dari tidur, berjalan mengelilingi ruangan dan bahkan mengendarai mobil.  Ini umum terjadi pada masa anak-anak dan sebelum remaja dengan puncak kejadian terdapat pada usia 11-12  tahun.</p>
<p>Gangguan tidur ini memiliki kecenderungan genetik. (http://www.presstv.com/)</p>
<table style="height:8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="3" align="right">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><strong> </strong></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hobby]]></title>
<link>http://dessyemril.wordpress.com/?p=5</link>
<pubDate>Thu, 29 May 2008 04:31:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>dessyemril</dc:creator>
<guid>http://dessyemril.wordpress.com/?p=5</guid>
<description><![CDATA[Hobi yang menggunakan otak kanan antara lain: berenang, bersepeda, mengkhayal, dll
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hobi yang menggunakan otak kanan antara lain: berenang, bersepeda, mengkhayal, dll</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Autisme]]></title>
<link>http://hennykartika.wordpress.com/2008/02/24/autisme/</link>
<pubDate>Sun, 24 Feb 2008 00:41:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>hennykartika</dc:creator>
<guid>http://hennykartika.wordpress.com/2008/02/24/autisme/</guid>
<description><![CDATA[
Autisme


Autisme merupakan gangguan perkembangan fungsi otak yang mencakup
bidang sosial dan fungs]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h3 class="post-title">
<a href="http://medlinux.blogspot.com/2007/11/autisme.html">Autisme</a><br />
</h3>
<div class="post-body">
<p>Autisme merupakan gangguan perkembangan fungsi otak yang mencakup<br />
bidang sosial dan fungsi afek, komunikasi verbal (bahasa) dan non<br />
verbal, imajinasi, fleksibilitas, lingkup interest (minat), kognisi dan<br />
atensi (Lumbantobing,2001). Dewasa ini terdapat kecenderungan<br />
peningkatan kasus-kasus autisme pada anak (autisme infantile) yang<br />
datang pada praktek neurologi dan praktek dokter lainnya. Umumnya<br />
keluhan utama yang disampaikan oleh orang tua adalah keterlambatan<br />
bicara, perilaku aneh dan acuh tak acuh, atau cemas apakah anaknya<br />
tuli. Autisme sendiri sesungguhnya suatu istilah yang digunakan untuk<br />
menggambarkan jenis gangguan perkembangan pervasive yang ditandai<br />
dengan hubungan hendaya timbal balik sosial, penyimpangan komunikasi,<br />
pola perilaku yang terbatas dan stereotipik. Fungsi abnormal ini sudah<br />
harus nampak pada umur 3 tahun. Lebih dari dua pertiga penderita<br />
gangguan autisme menderita retardasi mental, tetapi hal ini tidak<br />
mutlak diperlukan untuk menegakkan diagnosis (Newson dkk,1998).</p>
<div class="fullpost">Dari<br />
beberapa kali penelitian yang telah dilakukan, ternyata diduga bahwa<br />
penyebab utama autisme adalah gangguan perkembangan pada bagian otak<br />
tertentu yaitu amigdala, hipokampus, serebelum dan lobus temporalis.<br />
Tingkat kerusakan otak akibat gangguan perkembangan tersebut akan<br />
memberikan efek pada individu sesuai dengan derajat kerusakan otak itu<br />
sendiri. Efek yang timbul akan sangat mempengaruhi sekali terhadap<br />
tingkah laku individu dan pembentukan tingkah laku itu (Hartono,1998).<br />Autisme<br />
termasuk kasus yang jarang, biasanya identifikasinya melalui<br />
pemeriksaan yang teliti di rumah sakit, dokter atau sekolah khusus.<br />
Prevalensi autisme didapatkan sekitar 2-5/10.000 anak di bawah umur 12<br />
tahun. Jika dimasukkan retardasi mental berat ditambah dengan gangguan<br />
autisme maka angkanya dapat mencapai 20/10.000 anak. Penelitian<br />
epidemiologi di Amerika utara, Asia dan Eropa memperkirakan prevalensi<br />
antara 2-13/10.000 anak (Rapin,2001; Lumbantobing,2001; Aeni dkk,2001)<br />Pada<br />
umumnya gangguan autisme mulai sebelum 36 bulan, tetapi mungkin tidak<br />
diperhatikan oleh orang tua, tergantung kewaspadaan orang tua dan<br />
beratnya gangguan. Gangguan autisme lebih sering ditemukan pada anak<br />
laki-laki di banding anak perempuan, yaitu 3-5 kali lebih sering.<br />
Tetapi anak perempuan yang mengalami gangguan autisme cenderung lebih<br />
berat dan mempunyai riwayat keluarga dengan gangguan kognitif di<br />
banding anak laki-laki. Penelitian permulaan menemukan gangguan ini<br />
lebih sering pada status sosio-ekonomi tinggi, namun hal ini mungkin<br />
dipengaruhi oleh bias, karena dalam 25 tahun terakhir terdapat<br />
peningkatan kasus pada kelompok sosio-ekonomi rendah. Penemuan ini<br />
mungkin akibat bertambahnya kewaspadaan akan ganguan ini dan<br />
bertambahnya fasilitas kesehatan untuk anak-anak miskin (Aeni dkk,2001).<br />Terapi<br />
anak autisme membutuhkan identifikasi dini, intervensi edukasi yang<br />
intensif, lingkungan yang struktur, atensi individual, staf yang<br />
terlatih baik, dan peran serta orang tua sehingga melibatkan banyak<br />
bidang, baik bidang kedokteran, pendidikan, psikologi maupun bidang<br />
sosial. Dalam bidang kedokteran, untuk menangani masalah autisme dengan<br />
pengobatan khususnya medika mentosa, di bidang pendidikan dapat<br />
dilakukan dengan memberikan latihan pada orang tua penderita. Terapi<br />
perkembangan dan perilaku dapat dilakukan dalam bidang psikologi,<br />
sedangkan mendirikan yayasan autisme sebagai lembaga yang mampu secara<br />
professional menangani masalah autisme adalah salah satu contoh yang<br />
dilakukan dalam bidang sosial (Lumbantobing,2001).<br />Ada perbedaan<br />
yang jelas antara penyebab dari autisme pada penderita schizophrenia<br />
dan penyandang autisme infantil. Schizophrenia disebabkan oleh proses<br />
regresi karena penyakit jiwa, sedangakan pada anak-anak penyandang<br />
autisme infantil terdapat kegagalan perkembangan. Gejala autisme<br />
infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak<br />
, gejala-gejala itu sudah ada sejak lahir. Seorang ibu yang sangat<br />
cermat memantau perkembangan anaknya bisa melihat beberapa keganjilan<br />
sebelum anaknya mencapai usia 1 tahun. Yang sangat menonjol adalah<br />
tidak adanya atau sangat kurangnya tatap mata (www.Smartschool.com)<br />II.1 Pengertian<br />Autisme<br />
adalah salah satu defisit perkembangan pervasif pada awal kehidupan<br />
anak yang disebabkan oleh gangguan perkembangan otak yang ditandai<br />
dengan ciri pokok yaitu terganggunya perkembangan interaksi sosial,<br />
bahasa dan wicara, serta munculnya perilaku yang bersifat repetitif,<br />
stereotipik dan obsesif (Budiman,1997).<br />Autisme adalah gangguan<br />
perkembangan pervasif yang ditandai oleh adanya kelainan atau hendaya<br />
perkembangan yang muncul sebelum usia 3 tahun, dan dengan ciri kelainan<br />
fungsi dalam tiga bidang interaksi sosial, komunikasi dan perilaku yang<br />
terbatas dan berulang (Aeni dkk,2001).<br />Autisme adalah gangguan<br />
perkembangan khususnya terjadi pada masa anak-anak, yang membuat<br />
seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup<br />
dalam dunianya sendiri (IQ-EQ,2001).<br />Autisme adalah suatu gangguan<br />
perkembangan yang komplek, yang biasanya muncul pada usia 1-3 tahun.<br />
Tanda-tanda autisme biasanya muncul pada tahun pertama dan selalu<br />
sebelum berusia 3 tahun. Autisme 2-4 kali lebih sering ditemukan pada<br />
anak laki-laki (www.medicastore.com).</p>
<p>II.2 Etiologi<br />Penyebab<br />
yang pasti dari autisme tidak diketahui, yang pasti hal ini bukan<br />
disebabkan oleh pola asuh yang salah. Penelitian terbaru<br />
menitikberatkan pada kelainan biologis dan neurologis di otak termasuk<br />
ketidakseimbangan biokimia, faktor genetik dan gangguan kekebalan.<br />
Beberapa kasus mungkin berhubungan dengan infeksi virus (rubella<br />
congenital atau cytomegalic inclusion disease), fenilketonuria (suatu<br />
kekurangan enzim yang sifatnya diturunkan) dan sindroma X yang rapuh<br />
(kesalahan kromosom). (www.medicastore.com)<br />Sedangkan menurut www.<br />
smartschool.com, penyebab utama dari autisme belum diketahui dengan<br />
pasti autisme diduga disebabkan oleh gangguan neurobiologis pada<br />
susunan syaraf pusat meliputi faktor genetik, gangguan pertumbuhan sel<br />
otak pada janin, gangguan pencernaan, keracunan logam berat dan<br />
gangguan auto-imun.<br />Menurut Lumbantobing (2000), penyebab dari autisme dapat dipengaruhi oleh :<br />1.Faktor keluarga dan psikodinamik<br />
Mulanya diperkirakan gangguan ini akibat kurangnya perhatian orang tua,<br />
tetapi penelitian terakhir tidak menemukan adanya perbedaan dalam<br />
membesarkan anak pada orang tua anak normal dari orang tua anak yang<br />
mengalami gangguan ini. Namun beberapa anak autisme berespon terhadap<br />
stressor psikososial seperti lahirnya saudara kandung atau pindah<br />
tempat tinggal berupa eksaserbasi gejala.</p>
<p>2.Kelainan organo-biologi-neurologi<br />
Berhubungan dengan lesi neurologi, rubella kongenital, cytomegalovirus,<br />
ensefalitis, meningitis, fenilketonuria, tuberous sclerosis, epilepsi<br />
dan fragilee X syndrome.<br /> Penelitian neuroanatomi menunjukkan bahwa<br />
autisme akibat berhentinya perkembangan dari cerebellum, cerebrum dan<br />
sistem limbik. Pada MRI ditemukan hipoplasi vermis cerebellum lobus VI<br />
dan VII (Courchesne,1991). Pada sekitar 10-30% anak dengan autisme<br />
dapat diidentifikasi faktor penyebabnya (Lumbantobing,2001).<br />3.Faktor genetik<br />
Pada survey gangguan autisme ditemukan 2-4% saudara kandung juga<br />
menderita gangguan autisme. Pada kembar monozygot angka tersebut<br />
mencapai 90% sedang akan kembar dizigot 0% (Lumbantobing,2001)<br />4.Faktor imunologi<br />
Terdapat beberapa bukti mengenai inkompatibilitas antara ibu dan fetus,<br />
dimana limfosit fetus bereaksi terhadap antibodi ibu, sehingga<br />
kemungkinan menyebabkan kerusakan jaringan syaraf embrional selama masa<br />
gestasi.<br />5.Faktor perinatal<br />  Tingginya penggunaan obat pada selama kehamilan, respiratory disstres syndrome, anemia neonatus</p>
<p>6.Penemuan biokimia<br />
Pada sepertiga dari penderita autisme ditemukan peninggian serotonin<br />
plasma. Selain itu terdapat peninggian asam homovanilik pada cairan<br />
liquor cerebrospinal.</p>
<p>II.3 Gejala-gejala pada Anak Autisme<br />Gejala<br />
pada anak autisme sudah tampak sebelum anak berusia 3 tahun, yaitu<br />
antara lain dengan tidak adanya kontak mata, dan tidak menunjukkan<br />
responsif terhadap lingkungan. Jika kemudian tidak diadakan upaya<br />
terapi, maka setelah usia 3 tahun perkembangan anak terhenti atau<br />
mundur, seperti tidak mengenal suara orang tuanya dan tidak mengenali<br />
namanya. (www.peduliautisme.com)<br />Sedang menurut www.medicastore.com, penderita autisme klasik memiliki 3 gejala yaitu<br />Gangguan interaksi sosial<br /> Hambatan dalam komunikasi verbal dan non verbal  <br />Kegiatan dan minat yang aneh atau sangat terbatas.<br /> Sifat-sifat lainnya yang biasa ditemukan pada anak autisme adalah <br />Sulit bergabung dengan anak-anak yang lain<br />Tertawa atau cekikikantidak pada tempatnya<br />Menghindari kontak mata atau hanya sedikit melakukan kontak mata <br />Menunjukkan ketidakpekaan terhadap nyeri<br /> Lebih senang menyendiri, menarik diri dari pergaulan<br /> Tidak membentuk hubungan pribadi yang terbuka <br />Jarang memainkan permainan khayalan<br /> Memutar benda, terpaku pada benda tertentu<br />Sangat tergantung kepada benda yang sudah dikenalnya dengan baik, secara fisik terlalu aktif atau sama sekali kurang aktif<br /> Tidak memberikan respon terhadap cara pengajaran yang normal,<br /> Tertarik pada hal-hal yang serupa, tidak mau menerima atau mengalami perubahan <br />Tidak takut akan bahaya <br />Terpaku pada permainan yang ganjil <br />Ekolalia (mengulang kata-kata atau suku kata)<br /> Tidak mau dipeluk <br />Tidak memberikan respon terhadap kata-kata, bersikap seolah-olah tuli<br />Mengalami<br />
kesulitan dalam mengungkapkan kebutuhannya melalui kata-kata, lebih<br />
senang meminta melalui isyarat tangan atau menunjuk<br />Jengkel atau kesal membabi buta<br />Melakukan gerakan atau ritual tertentu secara berulang-ulang<br />Anak<br />
autis mengalami keterlambatan bicara, mungkin menggunakan bahasa dengan<br />
cara yang aneh atau tidak mampu bahkan tidak mau berbicara sama jika<br />
seseorang berbicara dengannya, dia akan sulit memahami apa yang<br />
dikatakan kepadanya. Anak autis tidak mau menggunakan kata ganti yang<br />
normal (terutama menyebut dirinya sebagai kamu, bukan sebagai saya)<br />Pada beberapa kasus mungkin ditemukan perilaku agresif atau melukai diri sendiri<br />Kemampuan motorik kasar/halusnya ganjil (tidak ingin menendang bola tetapi dapat menyusun balok)<br />Gejala-gejala<br />
tersebut bervariasi, bisa ringan maupun berat, selain itu perilaku<br />
autisme biasanya berlawanan dengan berbagai keadaan yang terjadi dan<br />
tidak sesuai dengan usianya. </p>
<p>II.4 Kriteria diagnostik<br />Untuk<br />
memeriksa apakah seorang anak menderita autisme atau tidak, digunakan<br />
standar international tentang autisme. ICD-10 (International<br />
Classification of Diseases) 1993 dan DSM-IV (Diagnostic and Statistical<br />
Manual) 1994 merumuskan kriteria diagnosis untuk autisme Infantil yang<br />
isinya sama, yang saat ini dipakai di seluruh dunia. Kriteria tersebut<br />
adalah : Harus ada sedikitnya gejala dari (1), (2) dan (3) seperti di<br />
bawah ini, dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala<br />
dari (2) dan (3).<br />1.Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik<br />Minimal harus ada 2 dari gejala di bawah ini :<br />a.<br />
Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai : kontak mata<br />
sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak gerik kurang tertuju,<br />
apabila dipanggil tidak menengok <br />Perilaku anak autistik sering<br />
menunjukkan emosi yang tidak sesuai. Beberapa anak menjerit atau<br />
tertawa dengan sedikit atau tanpa provokasi, tetapi dapat pula terlihat<br />
gejala perilaku lain seperti hiperkinesis yang sering berganti-ganti<br />
dengan hiperaktifitas, agresifitas dan temperamen perilaku melukai diri<br />
sendiri seperti mencakar, menggigit dan menarik rambut (Kaplan &#38;<br />
Sadock dkk,1994).<br />Penderita austistik hampir tidak menunjukkan<br />
perilaku emosional, yang terlihat hanya duduk dan memandang ke ruang<br />
kosong (Sutadi,1997; Newson, 1998). Mereka tidak menunjukkan rasa<br />
kecewa atau tidak senang bila berpisah dengan orang tuanya atau tidak<br />
gembira bila orang tua mereka datang kembali kedekatnya, hal ini<br />
dikarenakan terdapatnya gangguan kedekatan (attachment).<br />b. Tidak bisa bermain dengan teman sebaya, senang menyendiri<br />Yang<br />
dimaksud adalah kegagalan untuk mengembangkan hubungan dengan teman<br />
sebaya yang sesuai menurut tingkat perkembangannya (Kaplan &#38; Sadock<br />
dkk,1994). Secara fisik mereka akan menjaga jarak dengan teman lain,<br />
tidak pernah memulai dan hanya sedikit berespon terhadap interaksi<br />
sosial. Fungsi luhur penyandang akustik dewasa muda cenderung<br />
memperlihatkan kurang kooperatif di dalam kelompoknya bermain<br />
(Newson,1998)<br />c. Kurangnya hubungan timbal balik sosial dan emosional<br />Yang<br />
dimaksud dengan istilah hubungan sosial yang timbal balik adalah<br />
kapasitas yang dinamis untuk mempertahankan interaksi yang cocok.<br />
Hubungan sosial yang timbal balik bukanlah ketrampilan tunggal tetapi<br />
lebih pada hasil dari gabungan ketrampilan, hanya beberapa yang sudah<br />
diketahui. Interaksi verbal merupakan hal yang dimaksud dengan hubungan<br />
emosional yang timbal balik yaitu kondisi yang menunjukkan keakraban<br />
yang lazimnya terhadap orang tua mereka dan orang lain, pada penderita<br />
austistik gagal menjalani hubungan ini. Kegagalan dalam membuat<br />
persahabatan, kejanggalan dan ketidaksesuaian sosial terutama kegagalan<br />
untuk mengembangkan empati. Pada masa remaja akhir, orang austik<br />
tersebut yang paling berkembang seringkali memiliki keinginan untuk<br />
bersahabat, tetapi kecanggungan pendekatan mereka dan ketidakmampuan<br />
utuk berespon terhadap minat, emosi dan perasaan orang lain adalah<br />
hambatan yang utama dalam mengembangkan persahabatn. Kesulitan ini<br />
dideskripsikan sebagai kegagalan dalam hubungan timbal balik dan<br />
memberikan disorganisasi yang sifat dan perkembangan yang tidak<br />
seimbang dari ketrampilan sosial.<br />d. Tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain<br />Yang<br />
dimaksud adalah tidak adanya keinginan spontan untuk berbagi rasa,<br />
kesenangan minat atau pencapaian dengan orang lain, misalnya tidak<br />
memamerkan, membawa atau menunjukkan benda yang menarik minat.<br />
penderita austistik juga mengalami kegagalan mengenali perasan orang<br />
lain. Anak austik tidak dapat menggunakan ketrampilannya dengan efektif<br />
karena tidak mampu menunjukkan dan memperlihatkan sesuatu hal yang<br />
dimaksud. Anak austistik seringkali menggunakan isyarat, meraba dan<br />
mengambil barang bukan dengan jarinya tapi menganggap orang lain<br />
sebagai benda misalnya dengan memegang tangan orang itu dan menempatkan<br />
pada suatu barang yang diinginkan. Setelah tujuan tercapai, anak<br />
austistik kurang mampu untuk melanjutkan pada aktifitas lain, tetapi<br />
biasanya mengulang kembali aktifitas yang semula.<br />e. Kurangnya kemampuan untuk bisa membagi kegembiraan dan kesenangan pada orang lain.<br />2. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi<br /> Minimal harus ada1 dari gejala di bawah ini :<br />a. Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tidak berkembang. Anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal.<br />b.Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk   berkomunikasi<br />c. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang<br />d. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang dapat meniru<br />3. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat, dan kegiatan<br />a. Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang khas dan berlebihan<br />b. Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya<br />c. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang<br />d. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda (IQ-EQ,2001)<br />4. Adanya gangguan emosi<br /> a. Tertawa, menangis, marah-marah tanpa sebab<br /> b.Emosi tidak terkendali<br /> c. Rasa takut yang tidak wajar<br />5. Adanya gangguan persepsi sensorik<br /> a. Menjilat-jilat dan mencium-cuim benda<br /> b. Menutup telinga bila mendengar suara  keras dengan nada tertentu<br /> c. Tidak suka memakai baju dengan bahan yang kasar<br /> d. Sangat tahan terhadap sakit<br />Sebelum<br />
umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang (1)<br />
interaksi sosial, (2) bicara dan berbahasa, dan (3) cara bermain yang<br />
monoton, kurang variatif. Bukan disebabkan oleh gangguan disintegrasi<br />
masa kanak, namun kemungkinan kesalahan diagnosis selalu ada, terutama<br />
pada autisme ringan. Hal ini iasanya disebabkan karena adanya gangguan<br />
atau penyakit lain yang menyertai gangguan autis yang ada, seperti<br />
retardasi mental yang berat atau hiperaktifitas. Autisme memiliki<br />
kemungkinan untuk dapat disembuhkan , tergantung dari berat tidaknya<br />
gangguan yang ada. (www.smartschool.com).</p>
<p>II.5 Diagnosis autisme pada anak<br />Autisme<br />
tidak dapat langsung diketahui pada saat anak lahir atau pada skrining<br />
prenatal (tes penyaringan yang dilakukan ketika anak masih berada dalam<br />
kandungan). Tidak ada tes medis untuk mendiagnosis autisme. Suatu<br />
diagnosis yang akurat harus berdasarkan kepada hasil pengamatan<br />
terhadap kemampuan berkomunikasi, perilaku dan tingkat perkembangan<br />
anak. Karakteristik dari kelainan ini beragam, maka sebaiknya anak<br />
dievaluasi oleh tim multidisipliner yang terdiri dari ahli syaraf,<br />
psikolog anak-anak, ahli perkembangan anak-anak, terapis bahasa dan<br />
ahli lainnya yang berpengalaman di bidang autisme. Pengamatan singkat<br />
dalam satu kali pertemuan tidak dapat menampilkan gambaran kemampuan<br />
dan perilaku anak. Masukan dari orang tua dan riwayat perkembangan anak<br />
merupakan komponen yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis yang<br />
akurat (www.medicastore.com)</p>
<p>II.6 Penatalaksanaan autisme pada anak<br />Orang<br />
tua memainkan peran yang sangat penting dalam membantu perkembangan<br />
anak. Seperti anak-anak yang lainnya, anak autis terutama belajar<br />
melalui permainan, bergabunglah dengan anak ketika dia sedang bermain,<br />
tariklah anak dari ritualnya yang sering diulang-ulang, dan tuntunlah<br />
mereka menuju kegiatan yang lebih beragam. Misalnya orang tua mengajak<br />
anak mengitari kamarnya kemudian tuntun mereka ke ruang yang lain.<br />
Orang tua perlu memasuki dunia mereka untuk membantu mereka masuk ke<br />
dunia luar.<br />Kata-kata pujian karena telah menyelesaikan tugasnya<br />
dengan baik, kadang tidak berarti apa-apa bagi anak autis. Temukan cara<br />
lain untuk mendorong perilaku baik dan untuk mengangkat harga dirinya.<br />
Misalnya berikan waktu lebih untuk bermain dengan mainan kesukaannya<br />
jika anak telah menyelesaikan tugasnya dengan baik.<br />Anak autis<br />
belajar lebih baik jika informasi disampaikan secara visual (melalui<br />
gambar) dan verbal (melalui kata-kata). Masukkan komunikasi<br />
augmentative dalam kegiatan rutin sehari-hari dengan menggabungkan<br />
kata-kata dan foto-foto, lambang atau isyarat tangan untuk membantu<br />
anak mengutarakan kebutuhan, perasaan dan gagasannya.<br />Tujuan dari<br />
pengobatan adalah membuat anak autis berbicara tetapi sebagian anak<br />
autis tidak dapat bermain dengan baik, padahal anak-anak mempelajari<br />
kata baru dalam permainan, sebaiknya orang tua tetap berbicara kepada<br />
anak autis sambil menggunakan semua alat komunikasi dengan mereka,<br />
apakah berupa isyarat tangan, gambar, foto, tangan, bahasa tubuh<br />
manusia maupun tehnologi. Jadwal kegiatan sehari-hari, makanan dan<br />
aktifitas favorit serta temen dan anggota keluarga lainnya bisa menjadi<br />
bagian dari system gambar dan membantu anak untuk berkomunikasi dengan<br />
dunia di sekitarnya. (www.medicastore.com).<br />1.Intensitas penatalaksanaan<br />
Intensitas penatalaksanaan harus dipertimbangkan pada beberapa level,<br />
termasuk durasi (yaitu beberapa jam per minggu, atau beberapa bulan per<br />
tahun) dan rasio pegawai yang tersedia. Berkenaan dengan durasi<br />
program, ada beberapa penelitian untuk mendukung fakta bahwa hasil yang<br />
diperoleh anak-anak penderita autis cenderung berhubungan secara<br />
positif dengan jumlah jam dari terapi yang mereka terima setiap<br />
minggu.Anak-anak dengan autisme memerlukan metode pengajaran yang<br />
intensif, yaitu diberikan secara baik ketika siswa mempunyai seorang<br />
guru yang perhatiannya tidak terbagi. Seperti kemajuan siswa, sering<br />
perhatian terbaik merekaada suatu rasio yang sebanding dengan yang<br />
diberikan dalam lingkungan pendidikan selanjutnya. (Giangreco dkk,1997).<br />2.Penatalaksanaan menyeluruh<br />2.1Terapi Psikofarmaka<br />Kerusakan<br />
sel otak di sistem limbik, yaitu pusat emosi akan menimbulkan gangguan<br />
emosi dan perilaku temper tantrum, agresifitas, baik terhadap diri<br />
sendiri maupun pada orang-orang disekitarnya, serta hiperaktifitas dan<br />
stereotipik. Untuk mengendalikan gangguan emosi ini diperlukan obat<br />
yang mempengaruhi berfungsinya sel-sel otak. Obat-obat yang digunakan<br />
antara lain :<br />a.Haloperidol<br />Suatu obat antipsikotik yang<br />
mempunyai efek meredam psikomotor, biasanya digunakan pada anak<br />
yangmenampakkan perilaku temper tantrum yang tidak terkendali serta<br />
mempunyai efek lain yaitu meningkatkan proses belajar biasanya<br />
digunakan dalam dosis 0,20 mg (Campbell dkk,1983)</p>
<p>b.Fenfluramin<br />Suatu obat yang mempunyai efek mengurangi kadar serotonin darah yang bermanfaat pada beberapa anak autisme (Levanthal dkk,1993).<br />c.Naltrexone<br />Merupakan<br />
obat antagonis opiat yang diharapkan dapat menghambat opioid endogen<br />
sehingga mengurangi gejala autisme seperti mengurangi cedera pada diri<br />
sendiri dan mengurangi hiperaktifitas (Lensing dkk,1995).<br />d.Clompramin<br />Merupakan<br />
obat yang berguna untuk mengurangi stereotipik, konvulsi, perilaku<br />
ritual dan agresifitas, biasanya digunakan dalam dosis 3,75 mg<br />
(Campbell dkk,1996)<br />e.Lithium<br />Merupakan obat yang dapat digunakan untukmengurangi perilaku agresif dan mencederai diri sendiri (Lumbantobing,2001)<br />f.Ritalin<br />Untuk menekan hiperaktifitas (Lumbantobing,2001)<br />g.Risperidon<br />Dengan dosis 2 x 0,1 mg telah dapat mengendalikan perilaku dan konvulsi.<br />Oleh<br />
karena efektifitas obat berbeda-beda antara anak satu dengan lainnya,<br />
maka pemakaian obat harus diawasi oleh dokter. Pemeriksaan yang lengkap<br />
perlu dilakukan setiap 6 bulan. Pemberian obat hanya sebagai penunjang<br />
dari keseluruhan penatalaksanaan autisme.<br />2.2Terapi Perilaku<br />Dalam<br />
tatalaksana gangguan autisme, terapi perilaku merupakan tatalaksana<br />
yang paling penting. Metode yang digunakan adalah metode Lovass. Metode<br />
Lovass adalah metode modifikasi tingkah laku yang disebut dengan<br />
Applied Behavioral Analysis (ABA). ABA juga sering disebut sebagai<br />
Behavioral Intervension atau Behavioral Modification. Dasar<br />
pemikirannya, perilaku yang diinginkan maupun yang tidak diinginkan<br />
bisa dikontrol atau dibentuk dengan system reward dan punishment.<br />
Pemberian reward akan meningkatkan frekuensi munculnya perilaku yang<br />
diinginkan, sedangkan punishment akan menurunkan frekuensi munculnya<br />
perilaku yang tidak diinginkan (Nakita,2002)<br />a.Prinsip dasar ABA (Applied Behavioral Analysis)<br />Dasar<br />
metode ABA adalah semua tingkah laku dipelajari. Baik yang sederhana,<br />
seperti kontak mata atau duduk, sampai yang kompleks, misalnya<br />
interaksi sosial dan kemampuan memahami sudut pandang orang lain.<br />
Tingkah laku kompleks ini dapat dipelajari dengan memecah menjadi<br />
komponen-komponen atau kemampuan-kemampuan persyarat yang lebih<br />
sederhana, yang kemudian diajarkan ke anak. Untuk membantu anak<br />
belajar, harus diketahui hal apa saja yang dapat meningkatkan<br />
kemungkinan anak untuk menunjukkan respon seperti yang diinginkan yang<br />
dikenal dengan sebutan reinforcer (penguat). Reinforce positif akan<br />
meningkatkan kemungkinan munculnya tingkah laku yang diinginkan<br />
(desirable behavioral). Sebaliknya, reinforcer negative meningkatkan<br />
kemungkinan tidak munculnya tingkah laku yang tidak diinginkan<br />
(undesirable behavioral). Reinforcer positif berupa akses ke barang<br />
atau hal-hal yang disukai anak, sedangakan reinforcer negative adalah<br />
penghilangan hal-hal yang menyenangkan dari didi anak (Lovass dkk,1987;<br />
Nakita,2001).<br />b.Tujuan ABA (Applied Behavioral Analysis)<br />Membuat kegiatan belajar menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi anak<br />Mengajarkan<br />
kepada anak agar mampu membedakan atau mendiskriminasikan<br />
stimulus-stimulus yang berbeda. Tanpa kemampuan ini, anak tidak sanggup<br />
merespon secara tepat.<br />c.Metode pengajaran ABA<br />Metode pengajaran<br />
yang digunakan adalah DDT (Discrete Trial Training) yaitu metode yang<br />
berstruktur menuruti pola tertentu dan bisa ditentukan awal dan<br />
akhirnya. DDT terdiri dari instruktur, prompt, respon, konsekuensi dan<br />
interval waktu antara instruksi yang satu dengan instruksi yang lain.<br />Instruksi<br />
: Harus diberikan setelah anak memberi perhatian. Latihan dasar adalah<br />
latihan kontak mata. Instruksi pada awalnya harus diberikan tepat sama,<br />
baik kata-kata maupun intonasi, agar anak mudah mengerti. Instruksi<br />
yang baik adalah yang jelas pengucapannya, sedikit kata dan dalam nada<br />
netral atau datar.<br />Prompt : Dimaksudkan agar anak dapat mengetahui respon yang diharapkan darinya.<br />Konsekuen<br />
: Yang dimaksud konsekuen adalah apa yang diterima anak setelah<br />
berespon. Kalau respon anak tepat, maka anak akan mendapat reinforcer<br />
yang akan meningkatkan kemungkinan bagi anak untuk berespon yang sama<br />
di kemudian hari.<br />Interval : Setelah anak berespon dan mendapat<br />
konsekuensi, interval diberikan sekitar 3-5 menit antara konsekuensi<br />
dan instruksi selanjutnya. Gunanya sebagai pemberitahuan pada anak<br />
bahwa instruksi yang terdahulu telah selesai dan menyiapkan anak untuk<br />
instruksi berikutnya. Bila tidak ada interval waktu, anak bisa saja<br />
mencampuradukkan instruksi berikut dengan instruksi sebelumnya.<br />d.Enam kemampuan dasar<br />Berbagai kemampuan yang diajarkan melalui program ABA dapat dibedakan menjadi enam kemampuan dasar, yaitu :<br />Kemampuan memperhatikan (Attending Skill)<br />
Pada program ini terdapat dua prosedur. Pertama melatih anak untuk bisa<br />
memfokuskan pandangan mata pada orang yang ada di depannya atau disebut<br />
dengan kontak mata. Yang kedua melatih anak untuk memperhatikan keadaan<br />
atau objek yang ada di sekelilingnya. (Lovass dkk,1996).<br />Kemampuan menirukan (Imitation Skill)<br />
Pada kemampuan imitasi anak diajarkan untuk meniru gerakan motorik<br />
kasar dan halus. Selanjutnya, urutan gerakan, meniru gambar sederhana<br />
atau meniru tindakan yang disertai bunyi-bunyian (Lovass dkk,1996;<br />
Hardiono &#38; Nakita,2002).<br />Bahasa reseptif<br /> Melatih anak agar<br />
mempunyai kemampuan mengenal dan bereaksi terhadap seseorang, terhadap<br />
kejadian lingkungan sekitarnya, mengerti maksud mimik dan nada suara<br />
dan akhirnya mengerti kata-kata (Hardiono,2002).</p>
<p>Bahasa ekspresif<br />
Melatih kemampuan anak untuk mengutarakan pikirannya, dimulai dari<br />
komunikasi preverbal (sebelum anak dapat bicara), komunikasi dengan<br />
ekspresi wajah, gerakan tubuh dan akhirnya dengan menggunakan kata-kata<br />
atau komunikasi verbal (Hardiono,2002)<br />Kemampuan praakademis<br />
Melatih anak untuk dapat bermain dengan benar, memberikan permainan<br />
yang mengajarkan anak tentang emosi, hubungan ketidakteraturan<br />
(irregularities), dan stimulus-stimulus di lingkungannya seperti<br />
bunyi-bunyian serta melatih anak untuk mengembangkan imajinasinya lewat<br />
media seni seperti menggambar benda-benda yangada di sekitarnya (Lovass<br />
dkk,1996).<br />Kemampuan mengurus diri sendiri (Self Help Skill)<br />
Program ini bertujuan untuk melatih anak agar bisa memenuhi kebutuhan<br />
dirinya sendiri. Pertama anak dilatih untuk bisa makan sendiri, umumnya<br />
pada anak yang normal dia dapat mempelajarinya dengan mudah. Tetapi<br />
untuk penderita autisme ini membutuhkan waktu yang lama dan bertahap.<br />
Yang kedua anak dilatih untuk bisa buang air kecil atau yang disebut<br />
toilet training. Kemudian tahapan selanjutnya adalah dressing, brushing<br />
or combing hair and tooth brushing. Pelatihan ini dilakkan secara<br />
pelan-pelan dan bertahap (Azrin &#38; Fox, 1971) <br />e.Tehnik Pengajaran<br />Untuk<br />
dapat mengajarkan ketrampilan yang komplek pada anak autistik dapat<br />
digunakan tehnik shaping dan prompting. Tehnik ini biasanya digunakan<br />
karena respon yang mau diajarkan belum dapat dimunculkan oleh si anak<br />
atau tidak cukup sering muncul, sehingga bisa digunakan reinforcer saja.<br />Tehnik shapping<br />
Tehnik ini digunakan bila kemampuan yang seharusnya dimiliki anak belum<br />
ada, sebelum anak dapat memunculkan respon yang tepat. Pada tehnik ini,<br />
terapis akan memberi reinforcer pada respon-respon yang dimiliki oleh<br />
anak, yang mirip dengan respon yang tepat. Reinforcer akan diberikan<br />
pada respon yang semakin lama semakin mirip dengan respon target.<br />
Sampai akhirnya anak mampu memunculkan respon yang merupakan target<br />
awal.<br />Tehnik prompting<br /> Pada tehnik ini anak akan diberikan<br />
bantuan ekstra karena belum mampu memberikan respon yang belum tepat.<br />
Prompt bisa berupa verbal prompt (terapis menyebutkan kata-kata yang<br />
tepat), modelling prompt (terapis mendemontrasikan kepada anak respon<br />
yang tepat) dan physical prompt (terapis membimbing anak secara fisik<br />
agar mampu menunjukkan respon yang tepat). Yang harus dihindari dari<br />
tehnik ini adalah ketergantungan anak pada prompt, dimana anak tidak<br />
bisa memunculkan respon yang tepat bila tidak diberikan prompt<br />
(Nakita,2002).<br />f.Tehnik Jembatan (Shadowing)<br />Bila anak kesulitan<br />
di sekolah umum, biasanya akan dilakukan tehnik inklusi atau integrasi<br />
dan tehnik shadowing. Tehnik tersebut umumnya dilakukan di masa-masa<br />
awal anak mengikuti kegiatan di sekolah umum. Caranya, terapis (shadow)<br />
yang selama ini membantu anak di rumah, ikut hadir di kelas bersama<br />
anak. Ia berfungsi untuk menjembatani atau membantu anak mengerti<br />
instruksi-instruksi atau stimulus-stimulus dari lingkungan. Kalau<br />
perlu, shadow akan melakukan prompt terhadap anak. Namun penggunaan<br />
prompt oleh shadow memang dibatasi supaya anak belajar mandiri<br />
(Nakita,2002).<br />2.3Terapi Bicara<br />Gangguan bicara dan berbahasa di<br />
derita oleh hampir semua anak autisme. Tatalaksana melatih bicara dan<br />
berbahasa harus dilakukan oeh ahlinya karena merupakan gangguan yang<br />
spesifik pada anak autisme. Anak dipaksa untuk berbicara sekata demi<br />
sekata, cara ucapan harus diperhatikan, kemudian diajarkan berdialog<br />
setelah mampu berbicara. Anak dipaksa untuk memandang terapis, seperti<br />
diketahui anak austistik tidak mau adu pandang dengan orang lain.<br />
Dengan adanya kontak mata diharapkan anak dapat meniru gerakan bibir<br />
terapis (Soemarno,1992).<br />2.4Terapi okupasional<br />Melatih anak untk<br />
menghilangkan gangguan perkembangan motorik halusnya dengan memperkuat<br />
otot-otot jari supaya anak dapat menulis atau melakuakan ketrampilan<br />
lainnya.<br />2.5Pendidikan Khusus<br /> Anak autistik mudah sekali teralih<br />
perhatiannya, karena itu pada pendidikan khusus satu guru menghadapi<br />
satu anak dalam ruangan yang tidak luas dan tidak ada gambar-gambar di<br />
dinding atau benda-benda yang tidak perlu, yang dapat mengalihkan<br />
perhatian anak. Setelah ada perkembangan mulai dilibatkan dalam<br />
lingkungan kelompok kecil, kemudian baru kelompok yang lebih besar.<br />
Bila telah mampu bergaul dan berkomunikasi mulai dimasukkan pendidikan<br />
biasa di TK dan SD untuk anak normal (Soemarno,1992)<br />2.6Terapi Alternatif<br />  Yang digolongkan terapi alternatif adalah semua terapi baru yang masih berlanjut dengan penelitian.<br />Terapi detoksifikasi<br />
Terapi ini menggunakan tentang nutrisi dan toksikologi. Terapi ini<br />
bertujuan untuk menghilangkan atau menurunkan kadar bahan-bahan beracun<br />
yang lebih tinggi dalam tubuh anak autisme dibanding dengan anak<br />
normal, agar tidak mengancam perkembangan otak. Terutama bahan beracun<br />
merkuri atau air raksa dan timah yang mempengaruhi sistem kerja otak.<br />
Terapi ini meliputi mandi sauna, pemijatan dan shower, diikuti<br />
olahraga, konsumsi vitamin dosis tinggi, serta air putih minimal 2<br />
liter sehari. Tujuannya untuk mengeluarkan racun yang menumpuk dalam<br />
tubuh (Edelson,1997)<br />The Option Method<br /> Tujuan utama metode ini<br />
adalah meningkatkan kebahagiaan penyandang autisme dengan membantu<br />
mereka menemukan sistem kepercayaan diri masing-masing, Dasar<br />
pemikirannya adalah pandangan bahwa anak autis cenderung menutup diri<br />
terhadap dunia luar atau hidup dalam dunianya sendiri. Dengan adanya<br />
sikap menutup diri, kemampuan interaksi sosial anak tidak berkembang.<br />
Sehingga ketika anak berinteraksi dengan orang lain, ia menilainya<br />
sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan dan justru membuat anak semakin<br />
menarik diri.<br /> Proses terapi ini menekankan penerimaan orang tua<br />
terhadap perilaku anaknya sebagai sesuatu yang tidak menyimpang,<br />
melainkan cara anak untuk mengerti dan mengontrol dunianya. Orang tua<br />
harus terlibat kuat pada kegiatan obsesif anaknya (Suzi &#38;<br />
Kaufman,1998)<br />Sensory Integration Therapy<br /> Kemampuan integrasi<br />
sensoris adalah kemampuan untuk memproses impuls yang diterima dari<br />
berbagai indera secara stimulan. Banyak anak autis yang diketahui<br />
mengalami kesulitan dalam memproses stimulus sensoris yang kompleks.<br />
Anak autis yang masuk dalam golongan ini umumnya menunjukkan<br />
ketidakpekaan sensoris tertentu. Terapi ini bertujuan meningkatkan<br />
kesadaran sensoris dan kemampuan berespon terhadap stimulus sensoris<br />
tersebut. Untuk itu dalam terapi ini digunakan stimulus yang bervariasi<br />
dan ba</p>
<p>II.7 Prognosis<br />Pada gangguan autisme, anak yang<br />
mempunyai IQ diatas 70 dan mampu menggunakan komunikasi bahasa<br />
mempunyai prognosis yang baik,. Kira-kira dua pertiga orang dewasa<br />
autisme bergantung sepenuhnya atau setengah bergantung pada keluarga<br />
atau di rumah sakit jiwa. Hanya 1-2% dapat hidup normal dan berstatus<br />
independent, dan 5-20% mendapat status normal borderline (Hagberg,1981)</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Aeni, dkk., 2001., Gangguan Perkembangan Pervasif : Ilustrasi 1 Kasus, Jurnal Medika Nusantara., Vol : 22(2) : 347-54<br />Azrin &#38; Fox., 1971., Teaching Develompentally Disable Children., Pro-ed., Austin Texas<br />Budiman,<br />
M., 1997., Tatalaksana Terpadu Pada Autisme, dalam : Simposium<br />
Tatalaksana Autisme., Gangguan Perkembangan anak., Yayasan Autisme<br />
Indonesia., Jakarta<br />Campbell, M., shay dkk., 1983., Pervassif Development Disorder., Comprehensive Text Book of Psychiatry., 2277-2293<br />Courchesne., 1991., Gangguan Perkembangan Pervasif : Ilustrasi 1 kasus, jurnal Medika Nusantara., Vol : 22(2) : 347-54<br />Edelson, S., 1997., Menangani Anak Autisme., Panduan Tumbuh Kembang Balita., Nakita., 2002., Vol : 30<br />Giangreco,M.,<br />
Edelma,S., Luiselli,T., and MacFarland,S., 1997., Helping or hovering ?<br />
Effects of instructional assistant proximaty on student with<br />
disabilities., Exceptional Children., 64., No.I., 7-18<br />Hartono., Infantil Autism., Majalah Medical Indonesia., Edisi V., 1998., Yayasan Autisme Indonesia., Jakarta<br />Kaplan,<br />
H.S., Saddock,B.J., Greb,J.A., 1994., Synopsis of Psychiatry Behavioral<br />
Scienses., Clinical Psychiatry Refford DC (Ed). Williams &#38;<br />
Wilkins., Baltimore<br />Lensing, dkk., 1995., Gangguan Perkembangan Pervassif., Ilustrasi 1 Kasus, Jurnal Medika Nusantara., vol:22(2):347-54<br />Leventhal,dkk., 1993., Gangguan Perkembangan Pervassif., Ilustrasi 1 Kasus, Jurnal Medika Nusantara, Vol:22(2):347-54<br />Lovass,O.I, dkk., 1996., Teaching Developmentally Disable Children., Pro-ed Austin., Texas<br />Lumbantobing,S.M., 2001., Anak Dengan Mental Terbelakang., Balai Penerbit Fakultas kedokteran Indonesia<br />Newson,dkk.,<br />
1998., Long-term Otcome For Children With Autisme Who Received Early<br />
Intensive Behavioral Treatment., University of California., Los Angeles<br />Rapin, I., Autistic Spectrum Disorder Across The Life Span., AAN., 2001<br />Soemarno., 1992.,Gangguan Autisme., Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran., Universitas Gadjah Mada<br />Sutadi, R., 1997., Tatalaksana Perilaku Pada Penyandang Autisme., Yayasan Autisme Indonesia., Jakarta<br />Suzi., &#38; Kaufman., 1998., Menangani Anak Autis., Panduan Tumbuh Kembang Balita., Nakita., 2002 Vol :30<br />Anonim., Mengenal Autisme., http://www.smartschool.com<br />Anonim., Autisme., http://www.medicastore.com<br />Anonim., Autisme bisa disembuhkan, kenyataan dan harapan., http://www.peduliautisme.com</p>
</div>
</div>
<p class="post-footer-line post-footer-line-1">
<span class="post-author"><br />
Diposting oleh<br />
Medlinux<br />
</span><br />
<span class="post-timestamp"><br />
di<br />
<a class="timestamp-link" href="http://medlinux.blogspot.com/2007/11/autisme.html" title="permanent   link">5:31</a><br />
</span><br />
<span class="post-comment-link"><br />
</span><br />
<span class="post-backlinks post-comment-link"><br />
</span><br />
<span class="post-icons"><br />
<span class="item-action"><br />
<a href="http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=2679288625605035990&#38;postID=4803428545195830944" title="Email Post"><br />
<span class="email-post-icon">&#160;</span><br />
</a><br />
</span><br />
<span class="item-control blog-admin pid-1367640329"><br />
<a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2679288625605035990&#38;postID=4803428545195830944" title="Edit Post"><br />
<span class="quick-edit-icon">&#160;</span><br />
</a><br />
</span><br />
</span>
</p>
<p><span class="post-labels"></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pemeriksaan N. Kranialis]]></title>
<link>http://hennykartika.wordpress.com/2008/02/23/pemeriksaan-n-kranialis/</link>
<pubDate>Sat, 23 Feb 2008 23:57:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>hennykartika</dc:creator>
<guid>http://hennykartika.wordpress.com/2008/02/23/pemeriksaan-n-kranialis/</guid>
<description><![CDATA[Pemeriksaan saraf merupakan salah satu dari rangkaian pemeriksaan neurologis yang terdiri dari; 1). ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pemeriksaan saraf merupakan salah satu dari rangkaian pemeriksaan neurologis yang terdiri dari; 1). Status mental, 2). Tingkat kesadaran, 3).Fungsi saraf kranial, 4). Fungsi motorik, 5). Refleks, 6). Koordinasi dan gaya berjalan dan 7). Fungsi sensorik</p>
<p>Agar pemeriksaan saraf kranial dapat memberikan informasi yang diperlukan, diusahakan kerjasama yang baik antara pemeriksa dan penderita selama pemeriksaan. Penderita seringkali diminta kesediaannya untuk melakukan suatu tindakan yang mungkin oleh penderita dianggap tidak masuk akal atau menggelikan. Sebelum mulai diperiksa, kegelisahan penderita harus dihilangkan dan penderita harus diberi penjelasan mengenai pentingnya pemeriksaan untuk dapat menegakkan diagnosis.<br />
Memberikan penjelasan mengenai lamanya pemeriksaan, cara yang dilakukan dan nyeri yang mungkin timbul dapat membantu memupuk kepercayaan penderita pada pemeriksa. Penderita diminta untuk menjawab semua pertanyaan sejelas mungkin dan mengikuti semua petunjuk sebaik mungkin.<br />
Suatu anamnesis lengkap dan teliti ditambah dengan pemeriksaan fisik akan dapat mendiagnosis sekitar 80% kasus. Walaupun terdapat beragam prosedur diagnostik modern tetapi tidak ada yang dapat menggantikan anamnesis dan pemeriksaan fisik.<br />
Saraf-saraf kranial langsung berasal dari otak dan meninggalkan tengkorak melalui lubang-lubang pada tulang yang dinamakan foramina, terdapat 12 pasang saraf kranial yang dinyatakan dengan nama atau dengan angka romawi. Saraf-saraf tersebut adalah olfaktorius (I), optikus (II), Okulomotorius (III), troklearis (IV), trigeminus (V), abdusens (VI), fasialis (VII), vestibula koklearis (VIII), glossofaringeus (IX), vagus (X), asesorius (XI), hipoglosus (XII). Saraf kranial I, II, VII merupakan saraf sensorik murni, saraf kranial III, IV, XI dan XII merupakan saraf motorik, tetapi juga mengandung serabut proprioseptif dari otot-otot yang dipersarafinya. Saraf kranial V, VII, X merupakan saraf campuran, saraf kranial III, VII dan X juga mengandung beberapa serabut saraf dari cabang parasimpatis sistem saraf otonom.<br />
II. 1. DEFINISI<br />
Saraf-saraf kranial dalam bahasa latin adalah Nervi Craniales yang berarti kedua belas pasangan saraf yang berhubungan dengan otak mencakup nervi olfaktorii (I), optikus (II), okulomotorius (III), troklearis (IV), trigeminus (V), abdusens (VI), fasialis (VII), vestibulokoklearis (VIII), glosofaringeus (IX), vagus (X), asesorius (XI), hipoglosus (XII).<br />
Gangguan saraf kranialis adalah gangguan yang terjadi pada serabut saraf yang berawal dari otak atau batang otak, dan mengakibatkan timbulnya keluhan ataupun gejala pada berbagai organ atau bagian tubuh yang dipersarafinya.</p>
<p>II. 2. ANATOMI DAN FISIOLOGI<br />
1)SARAF OLFAKTORIUS (N.I)<br />
Sistem olfaktorius dimulai dengan sisi yang menerima rangsangan olfaktorius. Sistem ini terdiri dari bagian berikut: mukosa olfaktorius pada bagian atas kavum nasal, fila olfaktoria, bulbus subkalosal pada sisi medial lobus orbitalis.<br />
Saraf ini merupakan saraf sensorik murni yang serabut-serabutnya berasal dari membran mukosa hidung dan menembus area kribriformis dari tulang etmoidal untuk bersinaps di bulbus olfaktorius, dari sini, traktus olfaktorius berjalan dibawah lobus frontal dan berakhir di lobus temporal bagian medial sisi yang sama.<br />
Sistem olfaktorius merupakan satu-satunya sistem sensorik yang impulsnya mencapai korteks tanpa dirilei di talamus. Bau-bauan yang dapat memprovokasi timbulnya nafsu makan dan induksi salivasi serta bau busuk yang dapat menimbulkan rasa mual dan muntah menunjukkan bahwa sistem ini ada kaitannya dengan emosi. Serabut utama yang menghubungkan sistem penciuman dengan area otonom adalah medial forebrain bundle dan stria medularis talamus. Emosi yang menyertai rangsangan olfaktorius mungkin berkaitan ke serat yang berhubungan dengan talamus, hipotalamus dan sistem limbik.</p>
<p>2)SARAF OPTIKUS (N. II)<br />
Saraf Optikus merupakan saraf sensorik murni yang dimulai di retina. Serabut-serabut saraf ini, ini melewati foramen optikum di dekat arteri optalmika dan bergabung dengan saraf dari sisi lainnya pada dasar otak untuk membentuk kiasma optikum. Orientasi spasial serabut-serabut dari berbagai bagian fundus masih utuh sehingga serabut-serabut dari bagian bawah retina ditemukan pada bagian inferior kiasma optikum dan sebaliknya.<br />
Serabut-serabut dari lapangan visual temporal (separuh bagian nasal retina) menyilang kiasma, sedangkan yang berasal dari lapangan visual nasal tidak menyilang. Serabut-serabut untuk indeks cahaya yang berasal dari kiasma optikum berakhir di kolikulus superior, dimana terjadi hubungan dengan kedua nuklei saraf okulomotorius. Sisa serabut yang meninggalkan kiasma berhubungan dengan penglihatan dan berjalan di dalam traktus optikus menuju korpus genikulatum lateralis. Dari sini serabut-serabut yang berasal dari radiasio optika melewati bagian posterior kapsula interna dan berakhir di korteks visual lobus oksipital.<br />
Dalam perjalanannya serabut-serabut tersebut memisahkan diri sehingga serabut-serabut untuk kuadran bawah melalui lobus parietal sedangkan untuk kuadaran atas melalui lobus temporal. Akibat dari dekusasio serabut-serabut tersebut pada kiasma optikum serabut-serabut yang berasal dari lapangan penglihatan kiri berakhir di lobus oksipital kanan dan sebaliknya.</p>
<p>3)SARAF OKULOMOTORIUS (N. III)<br />
Nukleus saraf okulomotorius terletak sebagian di depan substansia grisea periakuaduktal (Nukleus motorik) dan sebagian lagi di dalam substansia grisea (Nukleus otonom).<br />
Nukleus motorik bertanggung jawab untuk persarafan otot-otot rektus medialis, superior, dan inferior, otot oblikus inferior dan otot levator palpebra superior. Nukleus otonom atau nukleus Edinger-westhpal yang bermielin sangat sedikit mempersarafi otot-otot mata inferior yaitu spingter pupil dan otot siliaris.</p>
<p>4)SARAF TROKLEARIS (N. IV)<br />
Nukleus saraf troklearis terletak setinggi kolikuli inferior di depan substansia grisea periakuaduktal dan berada di bawah Nukleus okulomotorius. Saraf ini merupakan satu-satunya saraf kranialis yang keluar dari sisi dorsal batang otak. Saraf troklearis mempersarafi otot oblikus superior untuk menggerakkan mata bawah, kedalam dan abduksi dalam derajat kecil.</p>
<p>5)SARAF TRIGEMINUS (N. V)<br />
Saraf trigeminus bersifat campuran terdiri dari serabut-serabut motorik dan serabut-serabut sensorik. Serabut motorik mempersarafi otot masseter dan otot temporalis. Serabut-serabut sensorik saraf trigeminus dibagi menjadi tiga cabang utama yatu saraf oftalmikus, maksilaris, dan mandibularis. Daerah sensoriknya mencakup daerah kulit, dahi, wajah, mukosa mulut, hidung, sinus. Gigi maksilar dan mandibula, dura dalam fosa kranii anterior dan tengah bagian anterior telinga luar dan kanalis auditorius serta bagian membran timpani.</p>
<p>6)SARAF ABDUSENS (N. VI)<br />
Nukleus saraf abdusens terletak pada masing-masing sisi pons bagian bawah dekat medula oblongata dan terletak dibawah ventrikel ke empat saraf abdusens mempersarafi otot rektus lateralis.</p>
<p>7)SARAF FASIALIS (N. VII)<br />
Saraf fasialis mempunyai fungsi motorik dan fungsi sensorik fungsi motorik berasal dari Nukleus motorik yang terletak pada bagian ventrolateral dari tegmentum pontin bawah dekat medula oblongata. Fungsi sensorik berasal dari Nukleus sensorik yang muncul bersama nukleus motorik dan saraf vestibulokoklearis yang berjalan ke lateral ke dalam kanalis akustikus interna.<br />
Serabut motorik saraf fasialis mempersarafi otot-otot ekspresi wajah terdiri dari otot orbikularis okuli, otot buksinator, otot oksipital, otot frontal, otot stapedius, otot stilohioideus, otot digastriktus posterior serta otot platisma. Serabut sensorik menghantar persepsi pengecapan bagian anterior lidah.</p>
<p>8)SARAF VESTIBULOKOKLEARIS (N. VIII)<br />
Saraf vestibulokoklearis terdiri dari dua komponen yaitu serabut-serabut aferen yang mengurusi pendengaran dan vestibuler yang mengandung serabut-serabut aferen yang mengurusi keseimbangan. Serabut-serabut untuk pendengaran berasal dari organ corti dan berjalan menuju inti koklea di pons, dari sini terdapat transmisi bilateral ke korpus genikulatum medial dan kemudian menuju girus superior lobus temporalis. Serabut-serabut untuk keseimbangan mulai dari utrikulus dan kanalis semisirkularis dan bergabung dengan serabut-serabut auditorik di dalam kanalis fasialis. Serabut-serabut ini kemudian memasuki pons, serabut vestibutor berjalan menyebar melewati batang dan serebelum.</p>
<p>9)SARAF GLOSOFARINGEUS (N. IX)<br />
Saraf Glosofaringeus menerima gabungan dari saraf vagus dan asesorius pada waktu meninggalkan kranium melalui foramen tersebut, saraf glosofaringeus mempunyai dua ganglion, yaitu ganglion intrakranialis superior dan ekstrakranialis inferior. Setelah melewati foramen, saraf berlanjut antara arteri karotis interna dan vena jugularis interna ke otot stilofaringeus. Di antara otot ini dan otot stiloglosal, saraf berlanjut ke basis lidah dan mempersarafi mukosa faring, tonsil dan sepertiga posterior lidah.</p>
<p>10)SARAF VAGUS (N. X)<br />
Saraf vagus juga mempunyai dua ganglion yaitu ganglion superior atau jugulare dan ganglion inferior atau nodosum, keduanya terletak pada daerah foramen jugularis, saraf vagus mempersarafi semua visera toraks dan abdomen dan menghantarkan impuls dari dinding usus, jantung dan paru-paru.</p>
<p>11)SARAF ASESORIUS (N. XI)<br />
Saraf asesorius mempunyai radiks spinalis dan kranialis. Radiks kranial adalah akson dari neuron dalam nukleus ambigus yang terletak dekat neuron dari saraf vagus. Saraf aksesoris adalah saraf motorik yang mempersarafi otot sternokleidomastoideus dan bagian atas otot trapezius, otot sternokleidomastoideus berfungsi memutar kepala ke samping dan otot trapezius memutar skapula bila lengan diangkat ke atas.</p>
<p>12)SARAF HIPOGLOSUS (N. XII)<br />
Nukleus saraf hipoglosus terletak pada medula oblongata pada setiap sisi garis tengah dan depan ventrikel ke empat dimana semua menghasilkan trigonum hipoglosus. Saraf hipoglosus merupakan saraf motorik untuk lidah dan mempersarafi otot lidah yaitu otot stiloglosus, hipoglosus dan genioglosus.</p>
<p>II. 3. PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS.<br />
a.Saraf Olfaktorius (N. I)<br />
Saraf ini tidak diperiksa secara rutin, tetapi harus dikerjakan jika terdapat riwayat tentang hilangnya rasa pengecapan dan penciuman, kalau penderita mengalami cedera kepala sedang atau berat, dan atau dicurigai adanya penyakit-penyakit yang mengenai bagian basal lobus frontalis.<br />
Untuk menguji saraf olfaktorius digunakan bahan yang tidak merangsang seperti kopi, tembakau, parfum atau rempah-rempah. Letakkan salah satu bahan-bahan tersebut di depan salah satu lubang hidung orang tersebut sementara lubang hidung yang lain kita tutup dan pasien menutup matanya. Kemudian pasien diminta untuk memberitahu saat mulai terhidunya bahan tersebut dan kalau mungkin mengidentifikasikan bahan yang di hidu.</p>
<p>b.Saraf Optikus (N. II)<br />
Pemeriksaan meliputi penglihatan sentral (Visual acuity), penglihatan perifer (visual field), refleks pupil, pemeriksaan fundus okuli serta tes warna.<br />
i. Pemeriksaan penglihatan sentral (visual acuity)<br />
Penglihatan sentral diperiksa dengan kartu snellen, jari tangan, dan gerakan tangan.<br />
Kartu snellen<br />
Pada pemeriksaan kartu memerlukan jarak enam meter antara pasien dengan tabel, jika tidak terdapat ruangan yang cukup luas, pemeriksaan ini bisa dilakukan dengan cermin. Ketajaman penglihatan normal bila baris yang bertanda 6 dapat dibaca dengan tepat oleh setiap mata (visus 6/6)<br />
Jari tangan<br />
Normal jari tangan bisa dilihat pada jarak 3 meter tetapi bisa melihat pada jarak 2 meter, maka perkiraan visusnya adalah kurang lebih 2/60.</p>
<p>Gerakan tangan<br />
Normal gerakan tangan bisa dilihat pada jarak 2 meter tetapi bisa melihat pada jarak 1 meter berarti visusnya kurang lebih 1/310.</p>
<p>ii. Pemeriksaan Penglihatan Perifer<br />
Pemeriksaan penglihatan perifer dapat menghasilkan informasi tentang saraf optikus dan lintasan penglihatan mulai dair mata hingga korteks oksipitalis.<br />
Penglihatan perifer diperiksa dengan tes konfrontasi atau dengan perimetri / kompimetri.<br />
Tes Konfrontasi<br />
Jarak antara pemeriksa – pasien : 60 – 100 cm<br />
Objek yang digerakkan harus berada tepat di tengah-tengah jarak tersebut.<br />
Objek yang digunakan (2 jari pemeriksa / ballpoint) di gerakan mulai dari lapang pandang kahardan kiri (lateral dan medial), atas dan bawah dimana mata lain dalam keadaan tertutup dan mata yang diperiksa harus menatap lururs kedepan dan tidak boleh melirik kearah objek tersebut.<br />
Syarat pemeriksaan lapang pandang pemeriksa harus normal.<br />
Perimetri / kompimetri<br />
Lebih teliti dari tes konfrontasi<br />
Hasil pemeriksaan di proyeksikan dalam bentuk gambar di sebuah kartu.</p>
<p>iii. Refleks Pupil<br />
Saraf aferen berasal dari saraf optikal sedangkan saraf aferennya dari saraf occulomotorius.<br />
Ada dua macam refleks pupil.<br />
Respon cahaya langsung<br />
Pakailah senter kecil, arahkan sinar dari samping (sehingga pasien tidak memfokus pada cahaya dan tidak berakomodasi) ke arah salah satu pupil untuk melihat reaksinya terhadap cahaya. Inspeksi kedua pupil dan ulangi prosedur ini pada sisi lainnya. Pada keadaan normal pupil yang disinari akan mengecil.</p>
<p>Respon cahaya konsensual<br />
Jika pada pupil yang satu disinari maka secara serentak pupil lainnya mengecil dengan ukuran yang sama.</p>
<p>iv. Pemeriksaan fundus occuli (fundus kopi)<br />
Digunakan alat oftalmoskop. Putar lensa ke arah O dioptri maka fokus dapat diarahkan kepada fundus, kekeruhan lensa (katarak) dapat mengganggu pemeriksaan fundus. Bila retina sudah terfokus carilah terlebih dahulu diskus optikus. Caranya adalah dengan mengikuti perjalanan vena retinalis yang besar ke arah diskus. Semua vena-vena ini keluar dari diskus optikus.</p>
<p>v. Tes warna<br />
Untuk mengetahui adanya polineuropati pada n. optikus.</p>
<p>c.Saraf okulomotoris (N. III)<br />
Pemeriksaan meliputi ; Ptosis, Gerakan bola mata dan Pupil<br />
1. Ptosis<br />
Pada keadaan normal bila seseorang melihat ke depan maka batas kelopak mata atas akan memotong iris pada titik yang sama secara bilateral. Ptosis dicurigai bila salah satu kelopak mata memotong iris lebih rendah dari pada mata yang lain, atau bila pasien mendongakkan kepal ke belakang / ke atas (untuk kompensasi) secara kronik atau mengangkat alis mata secara kronik pula.</p>
<p>2.Gerakan bola mata.<br />
Pasien diminta untuk melihat dan mengikuti gerakan jari atau ballpoint ke arah medial, atas, dan bawah, sekligus ditanyakan adanya penglihatan ganda (diplopia) dan dilihat ada tidaknya nistagmus. Sebelum pemeriksaan gerakan bola mata (pada keadaan diam) sudah dilihat adanya strabismus (juling) dan deviasi conjugate ke satu sisi.</p>
<p>3.Pupil<br />
Pemeriksaan pupil meliputi :<br />
i.Bentuk dan ukuran pupil<br />
ii.Perbandingan pupil kanan dan kiri<br />
Perbedaan  pupil sebesar 1mm masih dianggap normal<br />
iii. Refleks pupil<br />
Meliputi pemeriksaan :<br />
1.Refleks cahaya langsung (bersama N. II)<br />
2.Refleks cahaya tidak alngsung (bersama N. II)<br />
3.Refleks pupil akomodatif atau konvergensi</p>
<p>Bila seseorang melihat benda didekat mata (melihat hidungnya sendiri) kedua otot rektus medialis akan berkontraksi. Gerakan kedua bola mata ini disebut konvergensi. Bersamaan dengan gerakan bola mata tersebut maka kedua pupil akan mengecil (otot siliaris berkontraksi) (Tejuwono) atau pasien disuruh memandang jauh dan disuruh memfokuskan matanya pada suatu objek diletakkan pada jarak  15 cm didepan mata pasien dalam keadaan normal terdapat konstriksi pada kedua pupil yang disebut reflek akomodasi.</p>
<p>d.Saraf Troklearis (N. IV)<br />
Pemeriksaan meliputi<br />
1.gerak mata ke lateral bawah<br />
2.strabismus konvergen<br />
3.diplopia</p>
<p>e.Saraf Trigeminus (N. V)<br />
Pemeriksaan meliputi; sensibilitas, motorik dan refleks<br />
1. Sensibilitas<br />
Ada tiga cabang sensorik, yaitu oftalmik, maksila, mandibula. Pemeriksaan dilakukan pada ketiga cabang saraf tersebut dengan membandingkan sisi yang satu dengan sisi yang lain. Mula-mula tes dengan ujung yang tajam dari sebuah jarum yang baru. Pasien menutup kedua matanya dan jarum ditusukkan dengan lembut pada kulit, pasien ditanya apakah terasa tajam atau tumpul. Hilangnya sensasi nyeri akan menyebabkan tusukan terasa tumpul. Daerah yang menunjukkan sensasi yang tumpul harus digambar dan pemeriksaan harus di lakukan dari daerah yang terasa tumpul menuju daerah yang terasa tajam. Juga dilakukan dari daerah yang terasa tumpul menuju daerah yang terasa tajam. Juga lakukan tes pada daerah di atas dahi menuju belakang melewati puncak kepala. Jika cabang oftalmikus terkena sensasi akan timbul kembali bila mencapai dermatom C2. Temperatur tidak diperiksa secara rutin kecuali mencurigai siringobulbia, karena hilangnya sensasi temperatur terjadi pada keadaan hilangnya sensasi nyeri, pasien tetap menutup kedua matanya dan lakukan tes untuk raba halus dengan kapas yang baru dengan cara yang sama. Pasien disuruh mengatakan “ya” setiap kali dia merasakan sentuhan kapas pada kulitnya.</p>
<p>2.Motorik<br />
Pemeriksaan dimulai dengan menginspeksi adanya atrofi otot-otot temporalis dan masseter. Kemudian pasien disuruh mengatupkan giginya dan lakukan palpasi adanya kontraksi masseter diatas mandibula. Kemudian pasien disuruh membuka mulutnya (otot-otot pterigoideus) dan pertahankan tetap terbuka sedangkan pemeriksa berusaha menutupnya. Lesi unilateral dari cabang motorik menyebabkan rahang berdeviasi kearah sisi yang lemah (yang terkena).</p>
<p>3. Refleks<br />
Pemeriksaan refleks meliputi<br />
Refleks kornea<br />
a.Langsung<br />
Pasien diminta melirik ke arah laterosuperior, kemudian dari arah lain kapas disentuhkan pada kornea mata, misal pasien diminta melirik kearah kanan atas maka kapas disentuhkan pada kornea mata kiri dan lakukan sebaliknya pada mata yang lain. Kemudian bandingkan kekuatan dan kecepatan refleks tersebut kanan dan kiri saraf aferen berasal dari N. V tetapi eferannya (berkedip) berasal dari N.VII.<br />
b.Tak langsung (konsensual)<br />
Sentuhan kapas pada kornea atas akan menimbulkan refleks menutup mata pada mata kiri dan sebaliknya kegunaan pemeriksaan refleks kornea konsensual ini sama dengan refleks cahaya konsensual, yaitu untuk melihat lintasan mana yang rusak (aferen atau eferen).<br />
Refleks bersin (nasal refleks)<br />
Refleks masseter<br />
Untuk melihat adanya lesi UMN (certico bultar) penderita membuka mulut secukupnya (jangan terlalu lebar) kemudian dagu diberi alas jari tangan pemeriksa diketuk mendadak dengan palu refleks. Respon normal akan negatif yaitu tidak ada penutupan mulut atau positif lemah yaitu penutupan mulut ringan. Sebaliknya pada lesi UMN akan terlihat penutupan mulut yang kuat dan cepat.</p>
<p>f.Saraf abdusens (N. VI)<br />
Pemeriksaan meliputi gerakan mata ke lateral, strabismus konvergen dan diplopia tanda-tanda tersebut maksimal bila memandang ke sisi yang terkena dan bayangan yang timbul letaknya horizonatal dan sejajar satu sama lain.</p>
<p>g.Saraf fasialis (N. VII)<br />
Pemeriksaan saraf fasialis dilakukan saat pasien diam dan atas perintah (tes kekuatan otot) saat pasien diam diperhatikan :<br />
Asimetri wajah<br />
Kelumpuhan nervus VIII dapat menyebabkan penurunan sudut mulut unilateral dan kerutan dahi menghilang serta lipatan nasolabial, tetapi pada kelumpuhan nervus fasialis bilateral wajah masih tampak simetrik<br />
Gerakan-gerakan abnormal (tic facialis, grimacing, kejang tetanus/rhisus sardonicus tremor dan seterusnya ).<br />
Ekspresi muka (sedih, gembira, takut, seperti topeng)<br />
- Tes kekuatan otot<br />
1.Mengangkat alis, bandingkan kanan dan kiri.<br />
2.Menutup mata sekuatnya (perhatikan asimetri) kemudioan pemeriksa mencoba membuka kedua mata tersebut bandingkan kekuatan kanan dan kiri.<br />
3.Memperlihatkan gigi (asimetri)<br />
4.Bersiul dan menculu (asimetri / deviasi ujung bibir)<br />
5.meniup sekuatnya, bandingkan kekuatan uadara dari pipi masing-masing.<br />
6.Menarik sudut mulut ke bawah.<br />
- Tes sensorik khusus (pengecapan) 2/3 depan lidah)<br />
Pemeriksaan dengan rasa manis, pahit, asam, asin yang disentuhkan pada salah satu sisi lidah.<br />
- Hiperakusis<br />
Jika ada kelumpuhan N. Stapedius yang melayani otot stapedius maka suara-suara yang diterima oleh telinga pasien menjadi lebih keras intensitasnya.</p>
<p>h.Saraf Vestibulokokhlearis (N. VIII)<br />
Ada dua macam pemeriksaan yaitu pemeriksaan pendengaran dan pemeriksaan fungsi vestibuler<br />
1)Pemeriksaan pendengaran<br />
Inspeksi meatus akustikus akternus dari pasien untuk mencari adanya serumen atau obstruksi lainnya dan membrana timpani untuk menentukan adanya inflamasi atau perforasi kemudian lakukan tes pendengaran dengan menggunakan gesekan jari, detik arloji, dan audiogram. Audiogram digunakan untuk membedakan tuli saraf dengan tuli konduksi dipakai tes Rinne dan tes Weber.<br />
Tes Rinne<br />
Garpu tala dengan frekuensi 256 Hz mula-mula dilakukan pada prosesus mastoideus, dibelakang telinga, dan bila bunyi tidak lagi terdengar letakkan garpu tala tersebut sejajar dengan meatus akustikus oksterna. Dalam keadaan norma anda masih terdengar pada meatus akustikus eksternus. Pada tuli saraf anda masih terdengar pada meatus akustikus eksternus. Keadaan ini disebut Rinne negatif.</p>
<p>Tes Weber<br />
Garpu tala 256 Hz diletakkan pada bagian tengah dahi dalam keadaan normal bunyi akan terdengar pada bagian tengah dahi pada tuli saraf bunyi dihantarkan ke telinga yang normal pada tuli konduktif bunyi tedengar lebih keras pada telinga yang abnormal.</p>
<p>2)Pemeriksaan Fungsi Vestibuler<br />
Pemeriksaan fungsi vestibuler meliputi : nistagmus, tes romberg dan berjalan lurus dengan mata tertutup, head tilt test (Nylen – Baranny, dixxon – Hallpike) yaitu tes untuk postural nistagmus.</p>
<p>i.Saraf glosofaringeus (N. IX) dan saraf vagus (N. X)<br />
Pemeriksaan N. IX dan N X. karena secara klinis sulit dipisahkan maka biasanya dibicarakan bersama-sama, anamnesis meliputi kesedak / keselek (kelumpuhan palatom), kesulitan menelan dan disartria(khas bernoda hidung / bindeng). Pasien disuruh membuka mulut dan inspeksi palatum dengan senter perhatikan apakah terdapat pergeseran uvula, kemudian pasien disuruh menyebut “ah” jika uvula terletak ke satu sisi maka ini menunjukkan adanya kelumpuhan nervus X unilateral perhatikan bahwa uvula tertarik kearah sisi yang sehat.<br />
Sekarang lakukan tes refleks muntah dengan lembut (nervus IX adalah komponen sensorik dan nervus X adalah komponen motorik). Sentuh bagian belakang faring pada setiap sisi dengan spacula, jangan lupa menanyakan kepada pasien apakah ia merasakan sentuhan spatula tersebut (N. IX) setiap kali dilakukan. Dalam keadaaan normal, terjadi kontraksi palatum molle secara refleks. Jika konraksinya tidak ada dan sensasinya utuh maka ini menunjukkan kelumpuhan nervus X, kemudian pasien disuruh berbicara agar dapat menilai adanya suara serak (lesi nervus laringeus rekuren unilateral), kemudian disuruh batuk , tes juga rasa kecap secara rutin pada sepertinya posterior lidah (N. IX).</p>
<p>j.Saraf Asesorius (N. XI)<br />
Pemeriksaan saraf asesorius dengan cara meminta pasien mengangkat bahunya dan kemudian rabalah massa otot trapezius dan usahakan untuk menekan bahunya ke bawah, kemudian pasien disuruh memutar kepalanya dengan melawan tahanan (tangan pemeriksa) dan juga raba massa otot sternokleido mastoideus.<br />
k.Saraf Hipoglosus (N. XII)<br />
Pemeriksaan saraf Hipoglosus dengan cara; Inspeksi lidah dalam keadaan diam didasar mulut, tentukan adanya atrofi dan fasikulasi (kontraksi otot yang halus iregular dan tidak ritmik). Fasikulasi dapat unilateral atau bilateral.<br />
Pasien diminta menjulurkan lidahnya yang berdeviasi ke arah sisi yang lemah (terkena) jika terdapat lesi upper atau lower motorneuron unilateral.<br />
Lesi UMN dari N XII biasanya bilateral dan menyebabkan lidah imobil dan kecil. Kombinasi lesi UMN bilateral dari N. IX. X, XII disebut kelumpuhan pseudobulbar.</p>
<p>II.4. KELAINAN YANG DAPAT MENIMBULKAN GANGGUAN PADA NERVUS CRANIALIS.<br />
1)Saraf Olfaktorius. (N.I)<br />
Kelainan pada nervus olfaktovius dapat menyebabkan suatu keadaan berapa gangguan penciuman sering dan disebut anosmia, dan dapat bersifat unilatral maupun bilateral. Pada anosmia unilateral sering pasien tidak mengetahui adanya gangguan penciuman.<br />
Proses penciuman dimulai dari sel-sel olfakrorius di hidung yang serabutnya menembus bagian kribiformis tulang ethmoid di dasar di dasar tengkorak dn mencapai pusat penciuman lesi atau kerusakan sepanjang perjalanan impuls penciuman akan mengakibatkan anosmia.<br />
Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan penciuman berupa:<br />
Agenesis traktus olfaktorius<br />
Penyakit mukosa olfaktorius bro rhinitis dan tumor nasal<br />
Sembuhnya rhinitis berarti juga pulihnya penciuman, tetapi pada rhinitis kronik, dimana mukosa ruang hidung menjadi atrofik penciuman dapat hilang untuk seterusnya.<br />
Destruksi filum olfaktorius karena fraktur lamina feribrosa.<br />
Destruksi bulbus olfaktorius dan traktus akibat kontusi “countre coup”, biasanya disebabkan karena jatuh pada belakang kepala. Anosmia unilateral atau bilalteral mungkin merupakan satu-satunya bukti neurologis dari trauma vegio orbital.<br />
Sinusitas etmoidalis, osteitis tulang etmoid, dan peradangan selaput otak didekatnya.<br />
Tumor garis tengah dari fosa kranialis anterior, terutama meningioma sulkus olfaktorius (fossa etmoidalis), yang dapat menghasilkan trias berupa anosmia, sindr foster kennedy, dan gangguan kepribadian jenis lobus orbitalis. Adenoma hipofise yang meluas ke rostral juga dapat merusak penciuman.<br />
Penyakit yang mencakup lobus temporalis anterior dan basisnya (tumor intrinsik atau ekstrinsik).<br />
Pasien mungkin tidak menyadari bahwa indera penciuman hilang sebaliknya, dia mungkin mengeluh tentang rasa pengecapan yang hilang, karena kemampuannya untuk merasakan aroma, suatu sarana yang penting untuk pengecapan menjadi hilang.</p>
<p>2)Saraf Optikus (N.II)<br />
Kelainan pada nervus optikus dapat menyebabkan gangguan penglihatan. Gangguan penglihatan dapat dibagi menjadi gangguan visus dan gangguan lapangan pandang. Kerusakan atau terputusnya jaras penglitan dapat mengakibatkan gangguan penglihatan kelainan dapat terjadi langsung pada nevrus optikus itu sendiri atau sepanjang jaras penglihatan yaitu kiasma optikum, traktus optikus, radiatio optika, kortek penglihatan. Bila terjadi kelainan berat makan dapat berakhir dengan kebutaan.<br />
Orang yang buta kedua sisi tidak mempunyai lapang pandang, istilah untuk buta ialah anopia atau anopsia. Apabila lapang pandang kedua mata hilang sesisi, maka buta semacam itu dinamakan hemiopropia.<br />
Berbagai macam perubahan pada bentuk lapang pandang mencerminkan lesi pada susunan saraf optikus. Perubahan tersebut seperti tertera pada gambar 1.<br />
Kelainan atau lesi pada nervus optikus dapat disebabkan oleh:<br />
1.Trauma Kepala<br />
2.Tumor serebri (kraniofaringioma, tumor hipfise, meningioma, astrositoma)<br />
3.Kelainan pembuluh darah<br />
Misalnya pada trombosis arteria katotis maka pangkal artera oftalmika dapat ikut tersumbat jug. Gambaran kliniknya berupa buta ipsilateral.<br />
4.Infeksi.<br />
Pada pemeriksaan funduskopi dapat dilihat hal-hal sebagai berikut:<br />
a.Papiledema (khususnya stadium dini)<br />
Papiledema ialah sembab pupil yang bersifat non-infeksi dan terkait pada tekanan intrakkranial yang meninggi, dapat disebabkan oleh lesi desak ruang, antara lain hidrocefalus, hipertensi intakranial benigna, hipertensi stadium IV. Trombosis vena sentralis retina.<br />
b.Atrofi optik<br />
Dapat disebabkan oleh papiledema kronik atau papilus, glaukoma, iskemia, famitral, misal: retinitis pigmentosa, penyakit leber, ataksia friedrich.<br />
c.Neuritis optik.</p>
<p>3)Saraf Okulomotorius (N.III)<br />
Kelainan berupa paralisis nervus okulomatorius menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak ke medial, ke atas dan lateral, kebawah dan keluar. Juga mengakibatkan gangguan fungsi parasimpatis untuk kontriksi pupil dan akomodasi, sehingga reaksi pupil akan berubah. N. III juga menpersarafi otot kelopak mata untuk membuka mata, sehingga kalau lumpuh, kelopak mata akan jatuh ( ptosis)<br />
Kelumpuhan okulomotorius lengkap memberikan sindrom di bawah ini:<br />
1.Ptosis, disebabkan oleh paralisis otot levator palpebra dan tidak adanya perlawanan dari kerja otot orbikularis okuli yang dipersarafi oleh saraf fasialis.<br />
2.Fiksasi posisi mata, dengan pupil ke arah bawah dan lateral, karena tak adanya perlawanan dari kerja otot rektus lateral dan oblikus superior.<br />
3.Pupil yang melebar, tak bereaksi terhadap cahaya dan akomodasi.<br />
Jika seluruh otot mengalami paralisis secara akut, kerusakan biasanya terjadi di perifer, paralisis otot tunggal menandakan bahwa kerusakan melibatkan nukleus okulomotorius.<br />
Penyebab kerusakan diperifer meliputi; a). Lesi kompresif seperti tumor serebri, meningitis basalis, karsinoma nasofaring dan lesi orbital. b). Infark seperti pada arteritis dan diabetes.</p>
<p>4)Saraf Troklearis (N. IV)<br />
Kelainan berupa paralisis nervus troklearis menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak kebawah dan kemedial.<br />
Ketika pasien melihat lurus kedepan atas, sumbu dari mata yang sakit lebih tinggi daripada mata yang lain. Jika pasien melihat kebawah dan ke medial, mata berotasi dipopia terjadi pada setiap arah tatapan kecuali paralisis yang terbatas pada saraf troklearis jarang terjadi dan sering disebabkan oleh trauma, biasanya karena jatuh pada dahi atu verteks.</p>
<p>5)Saraf Abdusens (N. VI)<br />
Kelainan pada paralisis nervus abdusens menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak ke lateral, ketika pasien melihat lurus ke atas, mata yang sakit teradduksi dan tidak dapat digerakkan ke lateral, ketika pasien melihat ke arah nasal, mata yang paralisis bergerak ke medial dan ke atas karena predominannya otot oblikus inferior.<br />
Jika ketiga saraf motorik dari satu mata semuanya terganggu, mata tampak melihat lurus keatas dan tidak dapat digerakkan kesegala arah dan pupil melebar serta tidak bereaksi terhadap cahaya (oftalmoplegia totalis). Paralisis bilateral dari otot-otot mata biasanya akibat kerusakan nuklear. Penyebab paling sering dari paralisis nukleus adalah ensefelaitis, neurosifilis, mutiple sklerosis, perdarahan dan tumor.<br />
Penyebab yang paling sering dari kelumpuhan otot-otot mata perifer adalah meningitis, sinusistis, trombosis sinus kavernosus, anevrisma arteri karotis interva atau arteri komunikantes posterior, fraktur basis kranialis.</p>
<p>6)Saraf Trigeminus (N. V)<br />
Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan pada nerus trigeminus antara lain : Tumor pada bagian fosa posterior dapat menyebabkan kehilangan reflek kornea, dan rasa baal pada wajah sebagai tanda-tanda dini.<br />
Gangguan nervus trigeminus yang paling nyata adalah neuralgia trigeminal atau tic douloureux yang menyebabkan nyeri singkat dan hebat sepanjang percabangan saraf maksilaris dan mandibularis dari nervus trigeminus. Janeta (1981) menemukan bahwa penyebab tersering dari neurolgia trigeminal dicetuskan oleh pembuluh darah. Paling sering oleh arteri serebelaris superior yang melingkari radiks saraf paling proksimal yang masih tak bermielin.<br />
Kelainan berapa lesi ensefalitis akut di pons dapat menimbulkan gangguan berupa trismus, yaitu spasme tonik dari otot-otot pengunyah. Karena tegangan abnormal yang kuat pada otot ini mungkin pasien tidak bisa membuka mulutnya.</p>
<p>7)Saraf Fasialis (N. VII)<br />
Kelainan yang dapat menyebabkan paralis nervus fasialis antara lain:<br />
Lesi UMN (supranuklear) : tumor dan lesi vaskuler.<br />
Lesi LMN :<br />
Penyebab pada pons, meliputi tumor, lesi vaskuler dan siringobulbia.<br />
Pada fosa posterior, meliputi neuroma akustik, meningioma, dan meningitis kronik.<br />
Pada pars petrosa os temporalis dapat terjadi Bell’s palsy, fraktur, sindroma Rumsay Hunt, dan otitis media.<br />
Penyebab kelumpuhan fasialis bilateral antara lain Sindrom Guillain Barre, mononeuritis multipleks, dan keganasan parotis bilateral.<br />
Penyebab hilangnya rasa kecap unilateral tanpa kelainan lain dapat terjadi pada lesi telinga tengah yang meliputi Korda timpani atau nervus lingualis, tetapi ini sangat jarang.</p>
<p>Gangguan nervus fasialis dapat mengakibatkan kelumpuhan otot-otot wajah, kelopak mata tidak bisa ditutup, gangguan air mata dan ludah, gangguan rasa pengecap di bagian belakang lidah serta gangguan pendengaran (hiperakusis). Kelumpuhan fungsi motorik nervus fasialis mengakibatkan otot-otot wajah satu sisi tidak berfungsi, ditandai dengan hilangnya lipatan hidung bibir, sudut mulut turun, bibir tertarik kesisi yang sehat. Pasien akan mengalami kesulitan mengunyah dan menelan. Air ludah akan keluar dari sudut mulut yang turun. Kelopak mata tidak bisa menutup pada sisi yang sakit, terdapat kumpulan air mata di kelopak mata bawah (epifora). Refleks kornea pada sisi sakit tidak ada.</p>
<p>8)Saraf Vestibulokoklearis<br />
Kelainan pada nervus vestibulokoklearis dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan keseimbangan (vertigo).<br />
Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan pada nervus VIII antara lain:<br />
Gangguan pendengaran, berupa :<br />
Tuli saraf dapat disebabkan oleh tumor, misal neuroma akustik. Degenerasi misal presbiaksis. Trauma, misal fraktur pars petrosa os temporalis, toksisitas misal aspirin, streptomisin atau alkohol, infeksi misal, sindv rubella kongenital dan sifilis kongenital.<br />
Tuli konduktif dapat disebabkan oleh serumen, otitis media, otoskleroris dan penyakit Paget.<br />
Gangguan Keseimbangan dengan penyebab kelainan vestibuler<br />
Pada labirin meliputi penyakit meniere, labirinitis akut, mabuk kendaraan, intoksikasi streptomisin.<br />
Pada vestibuler meliputi semua penyebab tuli saraf ditambah neuronitis vestibularis.<br />
Pada batang otak meliputi lesi vaskuler, tumor serebelum atau tumor ventrikel IV demielinisasi.<br />
Pada lobus temporalis meliputi epilepsi dan iskemia.</p>
<p>9)Saraf Glosofaringeus (N. IX) dan Saraf Vagus (N. X)<br />
Gangguan pada komponen sensorik dan motorik dari N. IX dan N. X dapat mengakibatkan hilangnya refleks menelan yang berisiko terjadinya aspirasi paru.<br />
Kehilangan refleks ini pada pasien akan menyebabkan pneumonia aspirasi, sepsis dan adult respiratory distress syndome (ARDS) kondisi demikian bisa berakibat pada kematian. Gangguan nervus IX dan N. X menyebabkan persarafan otot-otot menelan menjadi lemah dan lumpuh. Cairan atau makanan tidak dapat ditelan ke esofagus melainkan bisa masuk ke trachea langsung ke paru-paru.<br />
Kelainan yang dapat menjadi penyebab antara lain :<br />
Lesi batang otak (Lesi N IX dan N. X)<br />
Syringobulbig (cairan berkumpul di medulla oblongata)<br />
Pasca operasi trepansi serebelum<br />
Pasca operasi di daerah kranioservikal</p>
<p>10)Saraf Asesorius (N. XI)<br />
Gangguan N. XI mengakibatkan kelemahan otot bahu (otot trapezius) dan otot leher (otot sterokleidomastoideus). Pasien akan menderita bahu yang turun sebelah serta kelemahan saat leher berputar ke sisi kontralateral.<br />
Kelainan pada nervus asesorius dapat berupa robekan serabut saraf, tumor dan iskemia akibatnya persarafan ke otot trapezius dan otot stemokleidomastoideus terganggu.</p>
<p>11)Saraf Hipoglossus (N. XII)<br />
Kerusakan nervus hipoglossus dapat disebabkan oleh kelainan di batang otak, kelainan pembuluh darah, tumor dan syringobulbia. Kelainan tersebut dapat menyebabkan gangguan proses pengolahan makanan dalam mulut, gangguan menelan dan gangguan proses pengolahan makanan dalam mulut, gangguan menelan dan gangguan bicara (disatria) jalan nafas dapat terganggu apabila lidah tertarik ke belakang.<br />
Pada kerusakan N. XII pasien tidak dapat menjulurkan, menarik atau mengangkat lidahnya. Pada lesi unilateral, lidah akan membelok kearah sisi yang sakit saat dijulurkan. Saat istirahat lidah membelok ke sisi yang sehat di dalam mulut.<br />
Technorati Tags: <a REL="tag" HREF="http://technorati.com/tag/Nervus%20kranialis" CLASS="performancingtags">Nervus kranialis</a>, <a REL="tag" HREF="http://technorati.com/tag/Nervus%20Cranialis" CLASS="performancingtags">Nervus Cranialis</a>, <a REL="tag" HREF="http://technorati.com/tag/fasialis" CLASS="performancingtags">fasialis</a>, <a REL="tag" HREF="http://technorati.com/tag/olfaktorius" CLASS="performancingtags">olfaktorius</a>, <a REL="tag" HREF="http://technorati.com/tag/vestibulokoklearis" CLASS="performancingtags">vestibulokoklearis</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Somliga minns allt]]></title>
<link>http://amnesi.wordpress.com/?p=11</link>
<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 20:41:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>amnesi</dc:creator>
<guid>http://amnesi.wordpress.com/?p=11</guid>
<description><![CDATA[Det finns somliga som minns allt, jag menar bokstavligen. Varenda dag i deras liv, även de mest var]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Det finns somliga som minns allt, jag menar bokstavligen. Varenda dag i deras liv, även de mest vardagliga och händelselösa. Säg ett datum 30 år tillbaks, de minns vilken veckodag det var, vilket väder, vad de gjorde och vad det var på TV.</p>
<p>Människor med detta supernormala minne förknippar oftast hågkomsten med en speciell plats, eller lokal. "Det var i det huset..." Vi åkte på den vägen..." "Jag var i mitt rum..."</p>
<p>Läs den intressanta artikeln om <a href="http://blog.nj.com/ledgerarchives/2007/12/picturing_the_past_how_science.html" target="_blank">Brad Williams som minns allt</a> .</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Efter uppvaknandet I]]></title>
<link>http://amnesi.wordpress.com/?p=10</link>
<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 13:55:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>amnesi</dc:creator>
<guid>http://amnesi.wordpress.com/?p=10</guid>
<description><![CDATA[Det första jag minns efter min TGA är att jag vaknar i en sjukhussäng. Det står läkare i rummet]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Det första jag minns efter min TGA är att jag vaknar i en sjukhussäng. Det står läkare i rummet och frågar mig saker. Min kompis Ci sitter i fåtöljen vid fönstret. Jag fattar ingenting. Läkaren frågar mig om jag vet var jag är.</p>
<p>–Eftersom du ser ut att vara läkare och jag ligger i en säng, så måste jag väl vara på ett sjukhus? svarar jag.</p>
<p>Jag tittar ut genom fönstret och ser bara himmel. Högt upp är jag. På neurologiska kliniken på Lunds Lasarett, får jag veta. Läkaren berättar att jag kommit in sent föregående kväll. Att jag troligen har haft en TGA. Att jag förlorat förmågan att prägla minnen under denna tid. Att det som hänt aldrig kommer att återvända i mitt minne eftersom det inte fastnat från början.</p>
<p>Han frågar om jag har epilepsi eller migrän. Nej ingetdera. Jag berättar att jag hade min senaste mens för 4 veckor sedan men att den uteblivit denna gång. Kanske är det menopaus? Tänkbart, säger han.</p>
<p>Han förklarar att TGA kan drabba folk efter extrema påfrestningar. Fotbollsspelare efter en match, dykare... Han undrar hur jag haft det på sistone. Jag berättar. Han nickar. Ja det hänger ihop. Du har varit utsatt för extrema påfrestningar under lång tid. Kombinerat med en tänkbar menopaus.</p>
<p>I mitt minneslösa tillstånd har jag blivit undersökt med datortomografi och annat som jag inte minns just nu. Man har inte funnit något som helst onormalt i hjärnan. Ingen stroke, ingen tumör, inga förträngningar. Allting är som det ska.</p>
<p>Jag berättar att jag för några år sedan hade plötsliga synförändringar, allt såg ut som mjölk. TIA? <i>(transischemisk attack)</i> Det hade gått över av sig själv efter en natt. För säkerhets skull skickas jag på en ny undersökning, där halspulsådrorna kollas med ultraljud för att se om det finns någon förträngning. Nej allting normalt även där.</p>
<p>Jag får några papper med info om TGA som läkaren printat ut från internet. Min kompis Ci kom hit mitt inatten, larmad av Tamara. Hon har sovit i fotänden av min säng, som en hundvalp. Hon får i uppgift av läkaren att skriva ner vad hon vet om mig på ett kollegieblock.</p>
<p>Jag somnar.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Vad som försvann helt och hållet]]></title>
<link>http://amnesi.wordpress.com/?p=6</link>
<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 14:13:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>amnesi</dc:creator>
<guid>http://amnesi.wordpress.com/?p=6</guid>
<description><![CDATA[Det jag inte minns alls är cirka 6 timmar före ambulansfärd till sjukhuset och cirka 12 timmar in]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Det jag inte minns alls är cirka 6 timmar före ambulansfärd till sjukhuset och cirka 12 timmar inlagd. Totalt 18 timmar helt borta. Det sägs att intrycken under den perioden helt enkelt inte fastnade i hjärnan, och är förlorade för alltid. Hitills (8 månader senare) har ingenting kommit tillbaka men det finns de som säger att det finns där, och ska gå att locka fram (mer om det senare).</p>
<p>Vad som hände har jag fått mig återberättat.</p>
<p>Jag hade kvar min identitet och var inte förvirrad. Det var jag själv som insisterade på att ambulansen skulle tillkallas, och att min kompis (som lyckligtvis var här) även skulle be grannarna om hjälp. Ambulansfärden vet jag ingenting alls om eftersom min kompis inte var med där (hon körde efter mig i bil). På akuten svarade jag redigt på alla frågor som ställdes, ofta både rappt och humoristiskt. Men själv ställde jag samma frågor om och om igen: Var är jag? Vad har hänt? Har det skett en olycka? Och min ångest växte när jag inte kunde orientera mig eller förstå.</p>
<p>Efter undersökningen, som var mitt i natten, fick jag sömnmedel och somnade. En ny kompis tillkallades av den första, de bytte plats och min nya kompis sov hos mig vid fotändan i sängen. När jag vaknade vid middagstid följande dag började jag långsamt komma tillbaks i huvudet och bit för bit förstå vad som hade hänt. Min kompis och läkarna hjälptes åt att fylla på luckorna. Jag var jättetrött och upprörd, grät mycket, efterhand som bitarna lades på plats.</p>
<p>Jag fick ganska snabbt diagnosen TGA och läkarna ville skicka hem mig. "Det går över av sig självt, hem och vila." Min kompis krävde med eftertryck att jag absolut måste stanna ytterligare en natt, jag var förvirrad och upprörd. Så jag stannade ytterligare ett dygn.</p>
<p>Därefter tog min kompis mig med hem till sig, där jag fick bo i ytterligare fem dygn, innan hon släppte hem mig till mig.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[penyumbatan vena]]></title>
<link>http://kemalimran.wordpress.com/2008/01/11/penyumbatan-vena/</link>
<pubDate>Fri, 11 Jan 2008 03:26:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kemal Imran</dc:creator>
<guid>http://kemalimran.wordpress.com/2008/01/11/penyumbatan-vena/</guid>
<description><![CDATA[bahaya nih.. bisa mokat..
(oiy bang.. isi dong nih bloggernya)
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>bahaya nih.. bisa mokat..</p>
<p>(oiy bang.. isi dong nih bloggernya)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Synaesthesia, Kelainan yang Asyik]]></title>
<link>http://catatanetja.wordpress.com/2007/12/14/synaesthesia-kelainan-yang-asyik/</link>
<pubDate>Fri, 14 Dec 2007 03:48:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>etja</dc:creator>
<guid>http://catatanetja.wordpress.com/2007/12/14/synaesthesia-kelainan-yang-asyik/</guid>
<description><![CDATA[Synaesthesia berasal dr bahasa latin syn yg artinya bersatu dan aesthesia yg artinya persepsi. Denga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Synaesthesia berasal dr bahasa latin syn yg artinya bersatu dan aesthesia yg artinya persepsi. Dengan kata lain synaesthesia dapat diartikan sebagai sbuah persepsi yang bersatu.</p>
<p>Synaesthesia (not to be confused ama majas synaesthsia) adalah sebuah "kelainan" neurologis ketika sebuah rangsagan atau stimulus pada satu reseptor akan menginduksi stimulus pada reseptor lain.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Synaesthesia sendiri memilike banyak variasi dan jenis. Peneliti biasanya menggambarkan kelainan ini dg simbol X --&#62; Y, dimana X adalah trigger persepsi pertama dan Y adalah result 2ndary perception.</p>
<p>Contoh2 synaesthesia :<br />
1. Grapheme(huruf/angka) --&#62; Warna<br />
Seseorang dg synaesthesia ini memiliki asosiasi warna tersendiri terhadap huruf atau angka. Dengan kata lain, ketika dia melihat huruf "A" otaknya akan mempersepsikan huruf tersebut tidak hanya sebagai huruf "A" tetapi juga sebagai warna merah.<br />
berikut testimoni seorang synaesthetes grapheme --&#62; color</p>
<p>Richard Feynman dan Tesla adalah contoh lain individu dg graphem--&#62;color synaesthesia.<br />
2. Sound --&#62; Color<br />
Seseorang dg synaesteshia jenis ini memiliki asosiasi warna untuk setiap bunyi. Musisi2 terkenal seperti Duke Ellington (timbre → color), Franz Liszt (music → color), Nikolai Rimsky-Korsakov, dan Olivier Messiaen mengalami synaesthesia dalam varian ini.</p>
<p>3.Phonemes --&#62; Movement<br />
seorang synaesthesia jenis ini akan memiliki persepsi gerak tersendiri untuk setiap phoneme yg dia dengar. Dengan kata lain jika ia mendengar sebuah kata, selain mendengar kata itu dia juga akan mempersepsikan berbagai jenis gerakan2 dalam otaknya.</p>
<p>4. Phonemes --&#62; Gustatory<br />
Jenis ini termasuk jenis yang langka, dimana ketika mendengar bunyi suku kata tertentu akan merangsang timbulnya sensasi rasa di lidahnya. Bisa jadi, orang dg kondisi ini akan merasakan rasa manis ketika mendengar kata "Pot"</p>
<p>5. etc</p>
<p>Jenis2 synaesthesia lain masih sangat banyak, dan penelitian ke arah ini masih sangat sedikit dilakukan. Namun suatu fakta yg menarik adalah bahwa walaupun ini merupakan sebuah "kelainan" neurologis, kondisi ini tidak digolongkan sebagai sebuah penyakit, karena individu dg kondisi ini kebanyakan tidak merasa terganggu, bahkan, pada beberapa kasus, merasa nyaman dg kondisi ini.</p>
<p>Synaesthesia tidak dapat dibuat2 karena synaesthesia terjadi karena jalur syaraf di otak yg seharusnya mengalami degenerasi tidak mengalamai degenerasi sehingga mengakibatkan joined perception.</p>
<p>============================</p>
<p>Adakah diantara rekan2 disini yg synaesthetes ?? :)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kedaruratan Neurologi]]></title>
<link>http://idisamarinda.wordpress.com/2007/12/01/kedaruratan-neurologi/</link>
<pubDate>Sat, 01 Dec 2007 04:33:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>idisamarinda</dc:creator>
<guid>http://idisamarinda.wordpress.com/2007/12/01/kedaruratan-neurologi/</guid>
<description><![CDATA[SIMPOSIUM KEDARURATAN NEUROLOGI
Minggu, 2 Desember 2007, bertempat di RSU Bontang ( Kalimantan Timur]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SIMPOSIUM KEDARURATAN NEUROLOGI</strong></p>
<p>Minggu, 2 Desember 2007, bertempat di RSU Bontang ( Kalimantan Timur ) dilaksanakan:</p>
<p align="center"><font color="#ff0000"><strong>Simposium Kedaruratan Neurologi (6 SKP)</strong></font></p>
<p>Keterangan lebih lanjut silahkan hubungi Panitia Penyelenggara atau RSUD Bontang.<br />
Selamat bersimposium, semoga sukses.</p>
<p>Berita: dr. Arie Ibrahim SpBS</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ebook Neurologi]]></title>
<link>http://koaskamar13.wordpress.com/2007/11/17/ebook-neurologi/</link>
<pubDate>Sat, 17 Nov 2007 18:10:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>atTock</dc:creator>
<guid>http://koaskamar13.wordpress.com/2007/11/17/ebook-neurologi/</guid>
<description><![CDATA[Ada g ada duit yang penting baca buku neh. Kali aja ad manfaatnya buat kita sekalian. Khusus yang em]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Ada g ada duit yang penting baca buku neh. Kali aja ad manfaatnya buat kita sekalian. Khusus yang emang anak2 Medis kayaknya g salah kalo ebook2 ini kita miliki. DI download dulu deh trus yah,.,. Di nikmati tuh isi nya...</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify"><u><strong>The Human Nervous System: Structure and Function</strong></u></p>
<p align="justify"> Publisher: Humana Press &#124; 2005-03-01 &#124; ISBN 1588290395 &#124; Pages: 416 &#124; PDF &#124; 12 MB</p>
<p>Download link :</p>
<p align="justify"><a href="http://rapidshare.com/files/70170190/The_Human_Nervous_System.rar" title="NS" target="_blank">http://rapidshare.com/files/70170190/The_Human_Nervous_System.rar<br />
</a></p>
<p align="justify">Mirror 1 :<br />
<a href="http://www.filefactory.com/file/6a7aac/" title="NS" target="_blank">http://www.filefactory.com/file/6a7aac/</a></p>
<p align="justify">Mirror 2 :</p>
<p align="justify"><a href="http://depositfiles.com/files/2393323" title="NS" target="_blank">http://depositfiles.com/files/2393323</a></p>
<p align="justify"> <u><strong>Kaplan Video Presentation   Neurology</strong></u></p>
<p align="justify"><strong>part 1 </strong><br />
<a href="http://rapidshare.com/files/28458732/Neuro01.part1.rar" title="Part 01" target="_blank"> http://rapidshare.com/files/28458732/Neuro01.part1.rar </a><br />
<a href="http://rapidshare.com/files/28461398/Neuro01.part2.rar" title="Part 02" target="_blank"> http://rapidshare.com/files/28461398/Neuro01.part2.rar<br />
</a><br />
<strong> part2 </strong><br />
<a href="http://rapidshare.com/files/28464939/Neuro02.part1.rar" title="Part 01" target="_blank"> http://rapidshare.com/files/28464939/Neuro02.part1.rar </a><br />
<a href="http://rapidshare.com/files/28468178/Neuro02.part2.rar" title="Part 02" target="_blank"> http://rapidshare.com/files/28468178/Neuro02.part2.rar </a><br />
<a href="http://rapidshare.com/files/28471000/Neuro02.part3.rar" title="Part 03" target="_blank"> http://rapidshare.com/files/28471000/Neuro02.part3.rar </a><br />
<a href="http://rapidshare.com/files/28471288/Neuro02.part4.rar" title="Part 04" target="_blank"> http://rapidshare.com/files/28471288/Neuro02.part4.rar<br />
</a><br />
<strong> part3 </strong><br />
<a href="http://rapidshare.com/files/28474110/Neuro03.part1.rar" title="Part 01" target="_blank"> http://rapidshare.com/files/28474110/Neuro03.part1.rar </a><br />
<a href="http://rapidshare.com/files/28476452/Neuro03.part2.rar" title="Part 02" target="_blank"> http://rapidshare.com/files/28476452/Neuro03.part2.rar<br />
</a><br />
<strong> part4 </strong><br />
<a href="http://rapidshare.com/files/28479113/Neuro04.part1.rar" title="Part 01" target="_blank"> http://rapidshare.com/files/28479113/Neuro04.part1.rar </a><br />
<a href="http://rapidshare.com/files/28481542/Neuro04.part2.rar" title="Part 02" target="_blank"> http://rapidshare.com/files/28481542/Neuro04.part2.rar<br />
</a><br />
<strong> part5 </strong><br />
<a href="http://rapidshare.com/files/28484158/Neuro05.part1.rar" title="Part 01" target="_blank"> http://rapidshare.com/files/28484158/Neuro05.part1.rar</a><br />
<a href="http://rapidshare.com/files/28484871/Neuro05.part2.rar" title="Part 02" target="_blank"> http://rapidshare.com/files/28484871/Neuro05.part2.rar<br />
</a><br />
<strong> part6 </strong><br />
<a href="http://rapidshare.com/files/28487932/Neuro06.part1.rar" title="Part 01" target="_blank"> http://rapidshare.com/files/28487932/Neuro06.part1.rar </a><br />
<a href="http://rapidshare.com/files/28490502/Neuro06.part2.rar" title="Part 02" target="_blank"> http://rapidshare.com/files/28490502/Neuro06.part2.rar </a><br />
<a href="http://rapidshare.com/files/28493744/Neuro06.part3.rar" title="Part 03" target="_blank"> http://rapidshare.com/files/28493744/Neuro06.part3.rar<br />
</a><br />
<strong> part7 </strong><br />
<a href="http://rapidshare.com/files/28497739/Neuro07.part1.rar" title="Part 01" target="_blank"> http://rapidshare.com/files/28497739/Neuro07.part1.rar </a><br />
<a href="http://rapidshare.com/files/28501550/Neuro07.part2.rar" title="Part 02" target="_blank"> http://rapidshare.com/files/28501550/Neuro07.part2.rar</a><br />
<a href="http://rapidshare.com/files/28505643/Neuro07.part3.rar" title="Part 03" target="_blank"> http://rapidshare.com/files/28505643/Neuro07.part3.rar </a><br />
<a href="http://rapidshare.com/files/28509128/Neuro07.part4.rar" title="Part 04" target="_blank"> http://rapidshare.com/files/28509128/Neuro07.part4.rar</a></p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-indent:-63pt;"><span></span><u><strong>Neuroanatomy</strong> (Fix James D, Lippincott Williams &#38; Wilkins (2nd edition),<span> <span></span><span></span></span>1995)</u></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-indent:-63pt;"><a href="http://rapidshare.com/files/50613245/BoardReviewSeries_Neuroanatomy2ed1995Fix.rar.html" title="Nuro" target="_blank">http://rapidshare.com/files/50613245/BoardReviewSeries_Neuroanatomy2ed1995Fix.rar.html</a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-indent:-63pt;"><a href="http://rapidshare.com/files/50613245/BoardReviewSeries_Neuroanatomy2ed1995Fix.rar.html" title="Nuro" target="_blank">http://www.filefactory.com/file/278267/ </a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-indent:-63pt;"><a href="http://depositfiles.com/files/1562634" title="Nuro" target="_blank">http://depositfiles.com/files/1562634 </a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-indent:-63pt;"><a href="http://w14.easy-share.com/3743881.html" title="Nuro" target="_blank">http://w14.easy-share.com/3743881.html </a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-indent:-63pt;"><strong><u>PreTest Self Assessment and Review - Neurology</u></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-indent:-63pt;">(<span></span>Anschel David, Mitchell S. V. Elkind,<span></span>5edition<span>,</span> 2003)</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-indent:-63pt;"><a href="http://rapidshare.com/files/50799405/PreTest_Neurology5ed2004Anschel.rar.html" title="Nuro" target="_blank">http://rapidshare.com/files/50799405/PreTest_Neurology5ed2004Anschel.rar.html </a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-indent:-63pt;"><a href="http://depositfiles.com/files/1569693" title="Nuro" target="_blank">http://depositfiles.com/files/1569693 </a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-indent:-63pt;"><a href="http://www.filefactory.com/file/4cea5a/" title="Nuro" target="_blank">http://www.filefactory.com/file/4cea5a/</a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-indent:-63pt;"><a href="http://w14.easy-share.com/3785411.html" title="Nuro" target="_blank">http://w14.easy-share.com/3785411.html </a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-indent:-63pt;">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><span></span><u><strong>PreTest Self-Assessment and Review - Neuroscience<span>Author (</span>Siegel Allan <span>Publisher, </span>4 edition, <span></span>2004 <span>)</span></strong></u></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://rapidshare.com/files/50799440/PreTest_Neuroscience4ed2001Siegel.rar.html" title="Nuro" target="_blank">http://rapidshare.com/files/50799440/PreTest_Neuroscience4ed2001Siegel.rar.html</a></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://depositfiles.com/files/1569700" title="Nuro" target="_blank">http://depositfiles.com/files/1569700</a></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://www.filefactory.com/file/83b0b3/" title="Nuro" target="_blank">http://www.filefactory.com/file/83b0b3/</a></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://w14.easy-share.com/3785441.html" title="Nuro" target="_blank">http://w14.easy-share.com/3785441.html</a></p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><span></span><u><strong>Secret Series – Neurology (<span></span>Rolak Loren A, 4th edition, <span></span>2005)</strong></u></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://rapidshare.com/files/50804300/SecretsSeries_Neurology4ed2005Rolak.rar.html" title="Nuro" target="_blank">http://rapidshare.com/files/50804300/SecretsSeries_Neurology4ed2005Rolak.rar.html </a></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://depositfiles.com/files/1569929" title="Nuro" target="_blank">http://depositfiles.com/files/1569929</a></p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://www.filefactory.com/file/4e1415/" title="Nuro" target="_blank">http://www.filefactory.com/file/4e1415/ </a></p>
<p class="MsoNormal"><u><strong>Psychoanalysis and Neuroscience <span></span><span></span><span></span>(14 September 2005)</strong></u></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://rapidshare.com/files/30357564/Ma_PaaNsforgigapedia.rar.html" title="Nuro" target="_blank">http://rapidshare.com/files/30357564/Ma_PaaNsforgigapedia.rar.html </a></p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://www.uploading.com/files/JOZQKL2O/Ma_PaaNsforgigapedia.rar.html" title="Nuro" target="_blank">http://www.uploading.com/files/JOZQKL2O/Ma_PaaNsforgigapedia.rar.html </a></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><u><strong>The Clinical Practice of Critical Care Neurology<span></span></strong> (Eelco F. MWijdicks, Oxford University , 7 Maret 2003)</u></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><a href="http://rapidshare.com/files/53661572/CPNE.rar.html" title="Nuro" target="_blank">http://rapidshare.com/files/53661572/CPNE.rar.html </a></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><a href="http://depositfiles.com/files/1684393" title="Nuro" target="_blank">http://depositfiles.com/files/1684393 </a></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><a href="http://www.filefactory.com/file/1573e6/" title="Nuro" target="_blank">http://www.filefactory.com/file/1573e6/ </a></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><a href="http://w14.easy-share.com/4787261.html" title="Nuro" target="_blank">http://w14.easy-share.com/4787261.html </a></p>
<p class="MsoNormal" align="justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span></span><u><strong>Neurology in Clinical Practice</strong> (Walter G. Bradley, Robert B. Daroff Gerald Fenichel, Joseph Jankovic, <span></span>Butterworth-Heinemann, 20 November 2003)</u></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://rapidshare.com/files/54323621/bradley.rar.html" title="Nuro" target="_blank">http://rapidshare.com/files/54323621/bradley.rar.html </a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://depositfiles.com/files/1711083" title="Nuro" target="_blank">http://depositfiles.com/files/1711083</a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://www.filefactory.com/file/cbef52/" title="Nuro" target="_blank">http://www.filefactory.com/file/cbef52/</a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://w13.easy-share.com/4971261.html" title="Nuro" target="_blank">http://w13.easy-share.com/4971261.html </a></p>
<p class="MsoNormal"><u><strong>Clinical Neuropathology: Text and Color Atlas</strong><span></span> (15 December 2006)</u></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://rapidshare.com/files/57370973/NeuropathTextnColorAtlas.rar.html" title="Nuro" target="_blank">http://rapidshare.com/files/57370973/NeuropathTextnColorAtlas.rar.html </a></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://depositfiles.com/files/1841221" title="Nuro" target="_blank">http://depositfiles.com/files/1841221</a></p>
<p class="MsoNormal"><u><strong>Handbook of Parkinson's Disease/Neurological Disease and Therapy</strong> (23 Maret 2007)</u></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://rapidshare.com/files/56462518/Handbook_of_Parkinson_s_Disease_4th_ed-_2007-03-23___0849376211___Informa_Healthcare_.pdf.html" title="Nuro" target="_blank">http://rapidshare.com/files/56462518/Handbook_of_Parkinson_s_Disease_4th_ed-_2007-03-23___0849376211___Informa_Healthcare_.pdf.html</a></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://depositfiles.com/files/1802237" title="Nuro" target="_blank">http://depositfiles.com/files/1802237</a></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://www.filefactory.com/file/0b6b03/" title="Nuro" target="_blank">http://www.filefactory.com/file/0b6b03/ </a></p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://w14.easy-share.com/5477191.html" title="Nuro" target="_blank">http://w14.easy-share.com/5477191.html </a></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><u><strong>Seizures in Critical Care: A Guide to Diagnosis and Therapeutics</strong> (Current Clinical Neurology), 16 September 2004)</u></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><a href="http://rapidshare.com/files/59428545/Vare1588293424.rar.html" title="Nuro" target="_blank">http://rapidshare.com/files/59428545/Vare1588293424.rar.html </a></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><a href="http://depositfiles.com/files/1930722" title="Nuro" target="_blank">http://depositfiles.com/files/1930722</a></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><a href="http://www.filefactory.com/file/08f0b8/" title="Nuro" target="_blank">http://www.filefactory.com/file/08f0b8/</a></p>
<p class="MsoNormal" align="justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><u><strong>Atlas of Ambulatory EEG</strong> (Academic Press, 1 Agust 2005)</u></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://rapidshare.com/files/59000765/Atlas_of_Ambulatory_EEG.rar.html" title="Nuro" target="_blank">http://rapidshare.com/files/59000765/Atlas_of_Ambulatory_EEG.rar.html </a></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://depositfiles.com/files/1911527" title="Nuro">http://depositfiles.com/files/1911527 </a></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://www.filefactory.com/file/e36bec/" title="Nuro" target="_blank">http://www.filefactory.com/file/e36bec/</a></p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><u><strong>Vascular Dementia: Cerebrovascular Mechanisms and Clinical Management </strong>(Current Clinical Neurology)</u></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://rapidshare.com/files/60134274/Pau1588293661.rar.html" title="Nuro" target="_blank">http://rapidshare.com/files/60134274/Pau1588293661.rar.html </a></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://depositfiles.com/files/1957639" title="Nuro" target="_blank">http://depositfiles.com/files/1957639</a></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://www.filefactory.com/file/cbfdbe/" title="Nuro" target="_blank">http://www.filefactory.com/file/cbfdbe/</a></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><u><strong>Cerebral Signal Transduction: From First to Fourth Messengers</strong></u> (Contemporary Neuroscience)</p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><a href="http://rapidshare.com/files/60368402/Reit0896036081.rar.html" title="Nuro" target="_blank">http://rapidshare.com/files/60368402/Reit0896036081.rar.html </a></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><a href="http://depositfiles.com/files/1966912" title="Nuro" target="_blank">http://depositfiles.com/files/1966912 </a></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><a href="http://www.filefactory.com/file/6bb907/" title="Nuro" target="_blank">http://www.filefactory.com/file/6bb907/ </a></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><u><strong>Textbook of Clinical Neurology </strong></u></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><a href="http://rapidshare.com/files/64029935/Textbook_of_Clinical_Neurology__3rd_Edition__2007-09-12_-_1416036180_-_Saunders_.chm.html" title="Nuro" target="_blank">http://rapidshare.com/files/64029935/Textbook_of_Clinical_Neurology__3rd_Edition__2007-09-12_-_1416036180_-_Saunders_.chm.html</a></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><a href="http://depositfiles.com/files/2114271" title="Nuro" target="_blank">http://depositfiles.com/files/2114271 </a></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><a href="http://www.filefactory.com/file/bcd114/" title="Nuro" target="_blank">http://www.filefactory.com/file/bcd114/ </a></p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"> <!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-indent:-63pt;">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-indent:-63pt;">&#160;</p>
<p align="justify">&#160;</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengoptimalkan Daya Ingat]]></title>
<link>http://myhealing.wordpress.com/2007/11/11/mengoptimalkan-daya-ingat/</link>
<pubDate>Sun, 11 Nov 2007 14:50:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>prima almazini</dc:creator>
<guid>http://myhealing.wordpress.com/2007/11/11/mengoptimalkan-daya-ingat/</guid>
<description><![CDATA[Jika kita berbicara tentang daya ingat, maka tidak terlepas dari belajar(learning). Belajar merupaka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h5><span style="color:black;">Jika kita berbicara tentang daya ingat, maka tidak terlepas dari belajar(learning). Belajar merupakan proses untuk memperoleh informasi atau pengetahuan baru. Sedangkan daya ingat (memori) adalah proses untuk menyimpan pengetahuan yang diperoleh itu dalam jangka waktu lama agar dapat mengingatnya kembali ketika dibutuhkan. Jelas, dalam menyerap informasi dari lingkungan, kita sangat bergantung kepada kemampuan daya ingat ini.</span><span style="color:black;">Banyak pertanyaan tentang proses mengingat yang masih belum terjawab. Hal itu dikarenakan, "Belajar dan memori merupakan fenomena yang kompleks," kata John Byrne, Ph. D., Guru Besar dan Ketua Jurusan Neurobiologi dan Anatomi Sekolah Kedokteran Universitas Texas di Houston, AS. “Karena melibatkan seluruh bagian otak,” tambahnya.</span> <span style="color:black;"> </span></h5>
<h5><span style="color:black;"></span><span style="color:black;">Otak kita memerlukan beberapa langkah untuk mengingat suatu informasi. Dimulai dengan proses mencatat (register), menyimpan, kemudian mengambilnya kembali. Pencatatan akan lebih efektif apabila kita memiliki perhatian dan motivasi lebih terhadap informasi tersebut. Informasi pun akan disimpan lebih lama apabila kita sering mengingat-ingatnya kembali. Hal itu memindahkan status memori jangka pendek tersebut menjadi memori jangka panjang. Di dalam memori jangka panjang ini, informasi diatur, disusun, dan dipadatkan sehingga tertata menurut petunjuk (clue) tertentu, yang bisa dipanggil sewaktu-waktu apabila kita membutuhkannya. Tapi proses itu tidak selalu berjalan mulus, karena ada banyak penghalang yang dapat membuat informasi tersebut tidak mengendap sebagaimana mestinya.</span></h5>
<h4><span style="color:black;"></span><span style="color:black;"><font color="#0000ff">Penghambat Proses Mengingat</font></span></h4>
<h5><span style="color:black;"></span><span style="color:black;"><img border="0" align="left" width="350" src="http://www.lightningstrikestudios.com/busy.jpg" height="280" />Terlalu sibuk dan terlalu banyak tugas dan masalah yang harus diselesaikan bisa membuat otak kita overloaded. Terdapat sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 15.000 manajer dan eksekutif di Insead, sebuah sekolah bisnis di Eropa. Selama </span><span style="color:black;">lima</span><span style="color:black;"> tahun, angka yang menyatakan persoalan besar pada memori dan konsentrasi mereka meningkat dari 15% menjadi 25%. Kesibukan, seperti diungkapkan oleh dr. Michael McGannon, kepala bagian Pendidikan Bisnis Kesehatan Insead, dapat membuat seseorang tenggelam dalam suasana tertekan yang bisa berakibat buruk, yaitu kegagalan proses penyimpanan informasi.</span></h5>
<p><!--more--><br />
<h5><span style="color:black;"></span><span style="color:black;">Ancaman lainnya adalah lingkungan. Profesor James Reason dari Universitas Manchester mengatakan, timah hitam yang terdapat dalam bensin dan sumber-sumber lain dapat merusak inteligensia dan daya ingat anak-anak. "Memori seorang anak yang dalam masa pertumbuhan bisa rusak karena banyak menghirup zat beracun," katanya.</span><span style="color:windowtext;">Hal ini diamini oleh Prof. Dr. Soemarno Markam, ahli saraf<span>  </span>FKUI-RSCM. Menurut dia, polusi bisa menyebabkan perkembangan saraf otak terganggu. Ia memberi contoh orang-orang Rusia pedesaan yang hidup di lingkungan bersih. "Hingga usia 100 pun mereka tidak pikun," ujarnya.</span></h5>
<h5><span style="color:windowtext;"></span><span style="color:black;">Beberapa gangguan lain, medik maupun bukan, juga bisa menyebabkan orang jadi sulit menyimpan informasi sehingga mudah lupa. Contohnya tekanan darah tinggi, kurang tidur, terlalu banyak minum pil tidur, terlalu banyak minum minuman keras, dan disfungsi kelenjar tiroid. Gangguan psikologis macam depresi, kecemasan, atau sekedar kurang stimulasi, juga dapat jadi penghalang terciptanya memori baru.</span><span style="color:black;"> </span><span style="color:black;"><span style="color:black;"> </span></span></h5>
<h5><span style="color:black;"><span style="color:black;">Para</span><span style="color:black;"> peneliti meyakini berkurangnya jumlah neuron di otak memberikan kontribusi pada penurunan daya ingat . "Dengan laju 100.000 sel per hari," ujar Dr. Daniel Alkon, Kepala Laboratorium Ilmu Saraf Institut Kesehatan Nasional di AS.<span>  </span>Neuron memang tidak membelah seperti sel-sel lain. Sejalan dengan waktu, saat seseorang mencapai umur 65 atau 70, ia sudah akan kehilangan 20% dari 100 miliar neuronnya. </span></span></h5>
<h5><span style="color:black;"><span style="color:black;">Faktor lain kemunduran memori bisa jadi lantaran melemahnya neuron, sehingga transmisi listrik pada sel-sel tersebut tak memadai lagi. </span><span style="color:black;">Buktinya terlihat dari penelitian yang pernah dilakukan oleh sebuah perusahaan asuransi di </span><span style="color:black;">Massachusetts</span><span style="color:black;"> yang menyimpulkan, gugatan malpraktek lebih banyak ditujukan kepada dokter tua dibandingkan dengan dokter muda. Dean K. Whitla (71), ahli ilmu jiwa Harvard, pernah menguji 1.000 dokter berumur antara 30 dan 80 tahun. Hasilnya, secara rata-rata dokter berusia 80-an hanya bisa mengingat setengah informasi dibandingkan dengan mereka yang berusia 30-an.</span></span></h5>
<h4><span style="color:black;"><span style="color:black;"><font color="#0000ff">Lima Jenis Memori</font></span></span></h4>
<h5><span style="color:black;"><span style="color:black;"></span></span><span style="color:black;"><span style="color:windowtext;">Menurut Dr. Murray Grossman, ahli saraf dari Pusat Medis Universitas </span><span style="color:windowtext;">Pennsylvania</span><span style="color:windowtext;">, AS, bila ditelusuri lebih teliti berdasarkan jangka waktu keawetannya, ada </span><span style="color:windowtext;">lima</span><span style="color:windowtext;"> jenis memori. Masing-masing: Semantik, Implisit, Remote, Working, dan Episodik. Semantik merupakan memori tentang makna simbol dan kata. Dengan memori ini, kita bisa membedakan anjing dengan kucing.</span><span style="color:windowtext;">Memori Implisit biasanya menyangkut kecakapan tertentu, seperti bersepeda, berenang.</span></span></h5>
<h5><span style="color:black;"><span style="color:windowtext;"></span></span><span style="color:black;"><span style="color:windowtext;">Memori Remote merupakan gudang data, umumnya melemah sejalan dengan bertambahnya usia. Sedangkan Memori Working adalah memori jangka pendek, yang kita andalkan saat melakukan kegiatan sehari-hari, seperti mengingat bagian kalimat pertama saat lawan bicara kita sedang mengucapkan bagian kalimat kedua, sehingga kita dapat memahami apa yang ia maksud.</span><span style="color:windowtext;">Terakhir, memori Episodik ialah memori yang menyangkut pengalaman yang belum lama terjadi. Apa nama film yang ditonton minggu lalu, apa nama restoran yang dipesan untuk makan bareng Minggu besok, di mana kita meletakkan kacamata barusan, dst. Memori Episodik juga mengalami kemunduran dengan bertambahnya usia.</span></span></h5>
<h4><span style="color:black;"><span style="color:windowtext;"></span></span><span style="color:black;"><span style="color:windowtext;"></span><span style="color:windowtext;"><font color="#0000ff">Memori Jangka Pendek dan Jangka Panjang</font></span></span></h4>
<h5><span style="color:black;"><span style="color:windowtext;"></span></span><span style="color:windowtext;">Otak manusia berbeda dengan komputer, meskipun analoginya memang mirip. Sama seperti komputer yang kita miliki, otak dipersenjatai dengan dua memori dasar: memori jangka pendek dan memori jangka panjang.<span>  </span></span><span style="color:windowtext;">Memori jangka pendek bisa dianalogikan dengan RAM (Random-Access Memory). Informasi yang diterima oleh panca indera, menunggu di memori kerja ini, semacam play group mental yang kemudian menguapkannya dengan segera. Informasi baru tersimpan setelah terjadi proses perubahan kimia dan listrik pada sel-sel saraf atau neuron. </span><span style="color:windowtext;">Memori jangka pendek memungkinkan kita untuk membuat hitungan sederhana di kepala atau mengingat nomor telepon cukup lama, meskipun begitu selesai menelepon kita mungkin sudah lupa nomor itu. Jadi, sama seperti RAM, ia juga bisa menganalisis dan menyimpan informasi tanpa membuat rekaman yang abadi. </span><span style="color:windowtext;">Sedangkan memori jangka panjang bertindak sebagai hard drive, secara fisik menyimpan pengalaman yang telah lewat di daerah otak yang disebut cerebral cortex (kulit luar otak).</span></h5>
<h5><span style="color:windowtext;"></span><span style="color:windowtext;"><img border="0" align="left" width="360" src="http://faculty.ccri.edu/kamontgomery/neuron%20network.jpg" alt="neuron network" height="240" />Cortex merupakan rumah bagi belukar 100 miliar neuron yang tampilannya mirip tumbuhan merambat.</span><span style="color:windowtext;">Komunikasi antarsel terjadi melalui pancaran impuls-impuls kimia dan listrik. Setiap kita merasakan sesuatu - pandangan, suara, ide – , simpuls unik dari sebagian sel-sel saraf tersebut langsung aktif. Kemudian sebagian ada yang tidak kembali ke bentuk asalnya karena mereka memperkuat koneksi satu dengan lainnya.</span></h5>
<h5><span style="color:windowtext;"></span><span style="color:windowtext;">Sebabnya, "Memori memang adalah pelbagai pola koneksi antarneuron," kata Dr. Barry Gordon, Kepala Klinik Gangguan Memori di Sekolah Kedokteran Johns Hopkins, AS. Bila suatu memori baru diperoleh, pengkodeannya bisa melibatkan ribuan neuron yang tersebar di seluruh cortex. Tapi jika informasi baru itu tidak digunakan, pola koneksi yang baru terbentuk itu akan segera pupus kembali. Sebaliknya, jika kita berulang-ulang mengingatnya lagi, pola koneksi itu akan semakin kokoh terbentuk dalam jaringan otak.</span><span style="color:windowtext;">Meski demikian, keputusan untuk menyimpan atau membuang informasi biasanya dilakukan tanpa sadar, karena berada di bawah kendali hippocampus, berdasarkan pada dua pertanyaan. Pertama, apakah informasi tersebut memiliki arti emosional bagi yang bersangkutan? Nama mantan pacar akan lebih tertanam dalam memori kita daripada nama seorang menteri tertentu dalam kabinet yang usianya hanya 2 bulan.</span></h5>
<h5><span style="color:windowtext;"></span><span style="color:windowtext;">Pertanyaan kedua, apakah informasi yang masuk berhubungan dengan hal yang sudah kita ketahui? Otak memang selalu sibuk berusaha membuat asosiasi. Hal-hal yang dianggap tidak akan berguna tidak akan disimpan di dalam memori. Dengan kata lain, masuk telinga kanan keluar telinga kiri, lupakan saja. </span><span style="color:windowtext;"> </span></h5>
<h5><span style="color:windowtext;">Dengan sistem filter ini, manusia sanggup menguasai dan melakukan analisis terhadap informasi yang diperoleh. Pada beberapa kasus istimewa, neurolog kadang menemukan orang-orang dengan memori super. Data yang betapa ruwetnya pun dapat mereka ingat. Namun, jangan kagum dulu. Umumnya daya pikir abstrak orang-orang macam ini sangat lemah. Ibarat kenal angka, mereka tak kenal makna.</span></h5>
<h5><span style="color:windowtext;"></span>Pada dasarnya daya ingat setiap orang memang bervariasi, ada yang mudah mengingat dan ada juga yang cepat lupa. Orang yang memiliki daya ingat yang kuat akan lebih mudah untuk mempelajari berbagai hal baru dan menyimpannya dalam waktu lama, untuk suatu saat dipanggil kembali saat dibutuhkan. [Primz, dari berbagai sumber]</h5>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bedste Visuelle Illusion 2007]]></title>
<link>http://psykologi.wordpress.com/2007/05/21/bedste-visuelle-illusion-2007/</link>
<pubDate>Mon, 21 May 2007 10:34:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>Nicolai Ladegaard</dc:creator>
<guid>http://psykologi.wordpress.com/2007/05/21/bedste-visuelle-illusion-2007/</guid>
<description><![CDATA[ 
 Tre år i træk har forskere fra forskellige discipliner konkurreret om at skabe den mest spe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://psykologi.files.wordpress.com/2007/05/kingdom.jpg" title="kingdom.jpg"><img border="0" width="434" src="http://psykologi.files.wordpress.com/2007/05/kingdom.jpg" alt="kingdom.jpg" height="241" style="width:434px;height:241px;" /></a> </p>
<p> <span style="background:0 0;">Tre år i træk har forskere fra forskellige discipliner konkurreret om at skabe den mest spektakulære optiske illusion. Bedømmelseskomiteen har netop offentliggjort vinderen, som ses ovenfor. Og nej, tårnet til højre er ikke mere skævt end sin dublet til venstre. Illusioner er perceptuelle oplevelser, der ikke svarer til virkelighen. Illusioner er anvendelige i forståelsen af vores eget bidrag til vores oplevelse af verden, idet de afslører det perceptuelle systems "fordomme". Denne viden er bl.a. anvendelig i konstruktionen af kunstige visuelle systemer samt behandling lidelser i det visuelle system.</span></p>
<p>Få illusionen bag vinderbilledet forklaret og se de øvrige bidrag <a href="http://illusioncontest.neuralcorrelate.com/index.php?module=pagemaster&#38;PAGE_user_op=view_page&#38;PAGE_id=109">her</a>.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tankens kraft]]></title>
<link>http://psykologi.wordpress.com/2007/04/30/tankens-kraft/</link>
<pubDate>Mon, 30 Apr 2007 10:59:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>Nicolai Ladegaard</dc:creator>
<guid>http://psykologi.wordpress.com/2007/04/30/tankens-kraft/</guid>
<description><![CDATA[
Jeg har tidligere skrevet  om Claudia Mitchell, der blev subjekt for banebrydende resultater ind]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://psykologi.files.wordpress.com/2007/04/rhesus.jpg" title="rhesus.jpg"><img border="0" src="http://psykologi.files.wordpress.com/2007/04/rhesus.jpg" alt="rhesus.jpg" /></a></p>
<p>Jeg har tidligere skrevet  om <a href="http://psykologi.wordpress.com/2007/02/21/cyborg/">Claudia Mitchell</a>, der blev subjekt for banebrydende resultater indenfor tankekontrollerede kunstige proteser. Bag denne bedrift ligge mange års grundforskning. En af pionererne indefor dette felt er prof. Miguel Nicolelis fra Duke University, der har lykkedes med at vise, hvordan en abe kan kontrollere en robotarm og løse specifikke opgaver alene ved tankens kraft. For at nå til dette resultat har teamet omkring  Nicolelis først kortlagt og afkodet abens hjerneneelektriske informationsstrøm parallelt med, at den styrede en robotarm via et joystick. Denne information kortlagde korrespondancen mellem specifikke bevægelser og specifikke mønstre i hjernesignalet. Herefter fjernede man koblingen mellem joysticket og robotarmen; tilbage var nu alene koblingen mellem de elektriske signaler i abens hjerne og robotarmen, som aben nu kontrollerede ved sine intentioner.  </p>
<p>Se aben og hør Nicolelis' egen beskrivelse af sit arbejde nedenfor - mindblowing stuff!</p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/7-cpcoIJbOU'></param><param name='wmode' value='transparent'></param><embed src='http://www.youtube.com/v/7-cpcoIJbOU&rel=0' type='application/x-shockwave-flash' wmode='transparent' width='425' height='350'></embed></object></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[VERTIGO]]></title>
<link>http://klikharry.wordpress.com/2007/04/24/vertigo/</link>
<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 12:09:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>klikharry</dc:creator>
<guid>http://klikharry.wordpress.com/2007/04/24/vertigo/</guid>
<description><![CDATA[Tulisan saya ini saya rangkum dari hasil selama saya mengikuti kuliah dan Kepaniteraan Klinik di
Dep]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tulisan saya ini saya rangkum dari hasil selama saya mengikuti kuliah dan Kepaniteraan Klinik di<br />
Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya dan saya dedikasikan kepada para dosen-dosen kami<br />
dr. Margono, SpS (K)<br />
dr. Rasrinam, SpS (K)<br />
dr. Alwi Shahab, SpS (K)<br />
dr. Billy Indra Gunawan, SpS (K)<br />
dr. H. A. R. Toyo, SpS (K)<br />
dr. Chriss Asnawi, SpS (K)</strong></p>
<p><strong>VERTIGO<br />
Oleh:<br />
Dr. Hj. Ras Syahril , SpS(K)<br />
Dr. H.A.R Toyo, SpS (K)</strong><br />
Vertigo berasal dari kata <em>vetere</em> yang berarti memutar<br />
<strong><br />
Definisi: </strong><br />
suatu ilusi dari gerakan tubuh atau sekitarnya (Lange)<br />
Vertigo is defined as a conscious experience of spinning (Robert C.Collins)<br />
Vertigo adalah perasaan dimana penderita merasa dirinya berputar atau ia merasa dunia sekitarnya / object are moving around him ( B. Chandra )</p>
<p><strong><br />
Gejala penyerta:</strong><br />
Nausea, vomitus atau gait ataxia<br />
Beberapa penamaan vertigo oleh pasien :<br />
•	Puyeng<br />
•	Sempoyongan<br />
•	Mumet<br />
•	Tujuh keliling<br />
•	Tubuh rasa mengambang<br />
•	Kepala rasa enteng<br />
•	Dunia seperti terbalik<br />
•	Seperti mabuk kendaraan</p>
<p><strong><br />
Empat kemungkinan diagnosa vertigo tersering</strong><br />
1. gangguan pada cerebrum<br />
2. gangguan pada medulla spinalis<br />
3. gangguan pada telinga bagian dalam<br />
4. faktor psikis</p>
<p><a href='http://klikharry.files.wordpress.com/2007/04/vertigo.jpg' title='vertigo.jpg'><img src='/files/2007/04/vertigo.thumbnail.jpg' alt='vertigo.jpg' /></a></p>
<p><em>Kata kunci: vertigo, vestibuler, nonvestibuler, nukleus vestibularis, stroke, nistagmus,labirinth, saraf otak, meniere’s disease, vertigo posisional benigna, ortostatic hypotension, cardiac arrthmya, myocardial ischemia, hypoxia, hypoglycemia.</em></p>
<p>Link<br />
<a href="http://cakmoki86.wordpress.com/2007/03/04/lagi-vertigo-bumi-serasa-berputar/">lagi : Vertigo, bumi serasa berputar</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Spejlneuroner – overvejelser over empatiens neurale grundlag m.m.]]></title>
<link>http://psykologi.wordpress.com/2007/04/12/spejlneuroner-%e2%80%93-overvejelser-over-empatiens-neurale-grundlag-mm/</link>
<pubDate>Thu, 12 Apr 2007 21:37:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>Nicolai Ladegaard</dc:creator>
<guid>http://psykologi.wordpress.com/2007/04/12/spejlneuroner-%e2%80%93-overvejelser-over-empatiens-neurale-grundlag-mm/</guid>
<description><![CDATA[
Hvordan kommer vi til at opleve samhørighed med andre mennesker, hvordan evner vi at attribuere me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a HREF="http://psykologi.files.wordpress.com/2007/04/janegoodall.jpg" TITLE="janegoodall.jpg"><img BORDER="0" SRC="http://psykologi.files.wordpress.com/2007/04/janegoodall.jpg" ALT="janegoodall.jpg" /></a></p>
<p>Hvordan kommer vi til at opleve samhørighed med andre mennesker, hvordan evner vi at attribuere mentale tilstande og kapaciteter til andre samt at anticipere og forklare handlinger, der ikke er vores egne? Nye forskningsresultater peger mod et neuralt grundlag for intersubjektiviteten.</p>
<p>Følgende post er et uddrag fra mit speciale omkring selvoplevelse. Afhandlingen kan hentes i sin fulde længde via dette <a HREF="http://psykologi.files.wordpress.com/2007/04/fuldt-speciale.doc" TITLE="link">link</a>.</p>
<p>På universitetet i Parma lagde et hold af neurofysiologer ledet af Vittorio Gallese og Giacomo Rizzolatti sidst i 90'erne grunden for, hvad Ramachandran (2000) har profeteret vil være af samme betydning for psykologien som opdagelsen af DNA’et fik for biologien. Opdagelsen består i en identificering af en ny klasse af neuroner først lokaliseret i macaque abens premotoriske cortex klassificeret som F5. Få år tidligere havde holdet fundet at samme område var aktivt ved intentionelle og målorienterede operationer udført ved h.h.v. håndens og mundens arbejde. I opfølgende studier opdagede man, at samme klasse af neuroner var aktive hvis aben blev holdt i en passiv observerende rolle til lignende handlinger udført af en anden end den selv (Rizzolatti &#38; Arbib, 1988). Neuronerne var ikke indstillet eller rettet mod genstandene, men mod vores målrettede og meningsfulde omgang med samme. Forskerne fandt med andre ord, at den selv samme handling, der resulterede i et givent neuralt fyringsmønster, når aben udførte den, omtrent altid ville resultere i det samme mønster, hvis aben så en anden udføre samme handling. Neuronerne blev i overensstemmelse med deres mimende egenskaber døbt spejlneuroner (mirror neurons).</p>
<p>Fadiga (her efter Motluk, 2001) var den første til at sandsynliggøre lignende neuroner i menneskehjernen ved at forfølge formodede motoriske følgeprocesser til neuronaktiviteten. Fadiga målte sine forsøgspersoners muskelspændingsniveau under observation af en anden persons handlinger. Han fandt, at under sådanne observationer var de muskler i forsøgspersonen svagt aktiverede, som var identiske med den uafhængigt handlende persons spændingsmønster. Hvor disse resultater gav formodning om spejlneuronernes eksistens i mennesker, var de imidlertid tavse om deres lokalisering.</p>
<p>En cerebral lokalitetsbestemmelse blev foretaget af holdet omkring Rizzolatti til Brocas område, der sammen med Wernickes område menes at være af største betydning for vores sproglige kapaciteter. Opdagelsen er yderligere interessant idet Brocas området betragtes som analog til F5 området i abehjernen, der associeres med den motoriske kontrol over hånden (Rizzolatti &#38; Arbib, 1998). Det synes evident at nævnte, at resultaterne er af betragtelig interesse for undersøgelser og overvejelser over alle former for social eksistens, interdependens, intersubjektivitet, empati, kommunikation og selvoplevelser.</p>
<p>Med disse fund synes en vigtig neural base for en empatisk evne at vise sig. Det overraskende ved disse nye fund er ikke så meget at sådanne mekanismer eksisterer, som den grad af almenhed de synes at besidde. Det filosofiske problem om det fremmedpsykiske afmystificeres i en mimisk kropslig rationalitet. Kroppen er et levende udtryk der ved hver en bevægelser danner form, indhold og udtryk til et givent forsæt. Vi er til stadighed udleveret til og indfoldet i hin-andens mål og med; vi er hinandens udleverede. Relationen etableres og forløber som beskrevet udenom vores vilje og bevidsth