<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>paradoks &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/paradoks/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "paradoks"</description>
	<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 06:40:46 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[@^@]]></title>
<link>http://kesuma4211.wordpress.com/?p=115</link>
<pubDate>Wed, 13 Aug 2008 07:23:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>Snowie</dc:creator>
<guid>http://kesuma4211.wordpress.com/?p=115</guid>
<description><![CDATA[Apakah kamu percaya pada cinta? kalo aku sih percaya. Aku percaya cinta itu ada. Cinta Ibu pada anak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>Apakah kamu percaya pada cinta?</em> kalo aku sih <em>percaya</em>. Aku percaya cinta itu ada. Cinta Ibu pada anaknya. Cinta Qorun pada hartanya. Cinta seorang sufi pada Tuhannya. Cinta seorang Romeo pada Juliet dan banyak lainnya.</p>
<p>Dengan sebanyak itu cinta, apakah kamu memiliki satu diantaranya? beberapa? atau semuanya?</p>
<p>"<strong>Memiliki cinta</strong>" itu, apakah sebuah phrase aktif atau pasif atau saling?<br />
Kamu memiliki cinta, karena kamu dicintai? atau karena kamu mencintai? atau saling mencintai? Sebagai contoh bila kamu seorang ibu, apakah kamu yang mencintai anakmu? atau kamu yang dicintai oleh anakmu? atau kalian saling mencintai satu sama lain?</p>
<p>kalo dengan harta, saat kau mencintai hartamu apakah hartamu itu balik mencintaimu juga?</p>
<p>Lalu saat seorang Romeo mencintai Juliet, Apakah juliet juga balas mencintainya? Tentu saja, karena itu yang ada dicerita. mereka saling mencintai satu sama lain sampai mengorbankan nyawa.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan mu? apakah kamu memiliki cinta sebagai orang yang dicintai atau mencintai, atau kalian memang saling mencintai? mungkin kalo masalah dicintai dan mencintai itu bukan hal yang rumit. tapi bagaimana dengan masalah saling mencintai?</p>
<p>Darimana kamu bisa yakin ketika seseorang yang kamu cintai itu juga mencintaimu? menanyakannya? Mungkin benar, kalo kamu cukup berani melakukannya. Tapi bagaimana jika ketika keberanian itu ada, seseorang itu tidak mau mengakui perasaannya itu, atau sama sekali tidak paham dengan apa yang dirasakannya.</p>
<p>Ide, "<strong>love will find the way</strong>" kah jawabannya? bagaimana jika cinta itu telah tersesat jauh dan tak dapat menemukan jalan kembali? Apakah harus menyerah dan memilih jalan baru untuk ditempuh? melupakan sesuatu yang telah menatinya dijalan yang lama?</p>
<p>tapi, bagaimana dengan sesuatu yang masih menanti kepulangannya di jalan yang lama? apakah karena telah terlalu letih menunggu sesuatu yang sepertinya tak akan kembali, hingga sesuatu itu memtuskan untuk juga memilih jalannya sendiri?</p>
<p>Cinta tak harus memilikikah jawabannya?</p>
<p>lalu, kalo memang dari awal cinta itu tidak bisa saling memiliki, kenapa harus ada cinta dari awalnya? biar segala sesuatunya lebih mudah.</p>
<p>Kenyataan, banyak orang yang saling mencintai, tapi karena takut cintanya tak berbalas dan menanggung perasaan sakit hati malah menyimpan perasaannya itu dan memilih untuk tetap berteman. dilain pihak ada seseorang yang berusaha memaksakan cintanya pada seseorang yang tidak mencintainya lalu berkat usaha kerasnya dapat menyakinkan sang sasaran bahwa ia juga mencintainya.</p>
<p>kenyataan lain, ada seseorang yang terlalu banyak melihat indahnya cinta yang sempurna membuatnya selalu memimpikan mendapatkan hal yang serupa dan tidak bersedia menerima yang kurang dari itu. Dilain pihak ia juga banyak melihat tragisnya sebuah kisah cinta, banyaknya cinta palsu dan permainan atas nama cinta membuatnya tak percaya pada cinta.</p>
<p>___________________________</p>
<p>Aku percaya pada cinta tapi juga tidak percaya. entahsampaikapan.<br />
*unstable mind and feeling*</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Paradoks]]></title>
<link>http://birdusunce.wordpress.com/?p=114</link>
<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 12:35:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>ezikcilek</dc:creator>
<guid>http://birdusunce.wordpress.com/?p=114</guid>
<description><![CDATA[Âh’ımı duyurmadan biterse eğer ömrüm,
Elif ile hemzeyle nefesimle yükselen
Gönlümden çı]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Âh’ımı duyurmadan biterse eğer ömrüm,<br />
Elif ile hemzeyle nefesimle yükselen<br />
Gönlümden çıkan sıcak buğularım ile ben<br />
Göğe kadar çıkarım, ak bir bulut olurum.<br />
Nerede olsan seni bulurum ve istersen<br />
Hep peşinden gelirim sen nereye gidersen.</p>
<p>Senin gülmediğini görsem ben de gülemem,<br />
Karanlığa bürünür ak suratım, ağlarım…<br />
Küserim yeryüzüne, yağmur olup yağarım,<br />
Kusarım içimdeki sıkıntıyı… Bilemem<br />
Faydası olacak mı? Dinmez hıçkırıklarım,<br />
Fırtına atım olur, şimşekler kor oklarım</p>
<p>Ağlamak rahatlatır bu bîçâre bulutu,<br />
Ancak böyle düşerim saçlarına ben senin,<br />
Elini öpüp, yaşı olurum gözlerinin.<br />
Beni kendine çeker toprağının vücûdu,<br />
Yere inerim hayat veririm senin için,<br />
Tekrar göğe çıkarım içinde nefesinin.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Det kommunale selvstyre er paradoksalt]]></title>
<link>http://valentinshjerterum.wordpress.com/?p=359</link>
<pubDate>Mon, 14 Jul 2008 07:57:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mette Valentin</dc:creator>
<guid>http://valentinshjerterum.wordpress.com/?p=359</guid>
<description><![CDATA[Debatindlæg i Kristeligt Dagblad, Mandag 14 Juli 2008
KOMMUNALPOLITIK Kommunerne får så få penge]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>Debatindlæg i Kristeligt Dagblad, Mandag 14 Juli 2008</em><br />
<strong>KOMMUNALPOLITIK </strong><em>Kommunerne får så få penge fra staten, at de ikke kan leve op til de mål, som selvsamme stat har udstukket </em></p>
<p><strong>Det kommunale selvstyre er paradoksalt</strong></p>
<p>Af Mette Valentin<br />
DET KOMMUNALE selvstyre er efterhånden blevet en teoretisk størrelse et paradoks.I virkelighedens verden består det kommunale selvstyre af en række nøje afmålte cigarkasser, hvis indhold af tildelte, statslige ressourcer langtfra kan omsættes sådan, at kommunerne kan leve op til de krav, mål og forventninger som, selvsamme stat har udstukket for dem. Det må da siges at være et paradoks.</p>
<p>Jamen, så må kommunerne jo bare prioritere, planlægge og effektivisere mere og bedre, siger visse stemmer på højrefløjen i dansk politik med en komatøs bemærkning om, at der ikke er noget at komme efter der.</p>
<p>Sandheden er, at kommunerne ikke må og kan effektivisere, planlægge og prioritere bedre, samtidigt med at krav og mål overholdes, indenfor de rammer som de knapt udstukne ressourcer giver mulighed for.</p>
<p>Man <strong><em>kan </em></strong>ikke plukke hår af en skallet - og når cigarkassen er tom, er der helt reelt ikke mere at komme efter der! Kommunerne må ikke omfordele mellem kasserne, tjene penge på at drive virksomhed, sætte skatter op eller på anden vis selv udbedre forholdene. Kommunerne er underlagt 1 årige kommuneaftaler der gør det umuligt at planlægge og prioritere langsigtet.</p>
<p>Overskrides de urealistiske og meget stramme budgetter sanktioneres der med tabt bloktilskud og kommunerne skal betale hver krone der er blevet brugt for meget, tilbage dobbelt til staten. Der er endvidere indført skattestop, anlægsloft, serviceloft og en uforholdsmæssig stor administrations - og kontrolbyrde samtidigt med at man har lovfæstet inhumane regler som starthjælp, 300 timers regel og kontanthjælpsloft, der tvinger kommunerne til at sende deres borgere lige lukt ud i tiltagende armod, fattigdom og social deroute.</p>
<p>Det er der ikke meget selvstyre over. Det vil det nærmest vel være et paradoks, at kalde det.</p>
<p>N.B : Jeg kan varmt anbefale at man læser denne artikel på Kritisk Debat : <a href="http://www.kritiskdebat.dk/artikel.php?id=572">http://www.kritiskdebat.dk/artikel.php?id=572</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Moralitas yang Anarki]]></title>
<link>http://suharyanto.wordpress.com/?p=77</link>
<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 02:20:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>suharyanto</dc:creator>
<guid>http://suharyanto.wordpress.com/?p=77</guid>
<description><![CDATA[

 http://www.suaramerdeka.com


Oleh: Suharyanto
 
 Moral, sering dimaknakan positif. Orang yang ti]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl class="wp-caption alignleft">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://suharyanto.wordpress.com/files/2008/08/sm1hl4barua.jpg"><img class="size-medium wp-image-121" src="http://suharyanto.wordpress.com/files/2008/08/sm1hl4barua.jpg?w=100" alt="http://www.suaramerdeka.com" width="200" height="141" /></a> http://www.suaramerdeka.com</dt>
</dl>
</div>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Oleh: Suharyanto</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Moral, sering dimaknakan positif. Orang yang tidak bermoral berarti orang tersebut negatif dalam tindakan dan tutur katanya. Ketika menaikkan harga BBM, Presiden SBY pernah menjawab dalam sebuah wawancara eksklusif tentang popularitasnya terkait dengan pemilu 2009 dengan menaikkan harga BBM. <span lang="SV">SBY bilang (lebih kurang) begini ”justru saya tidak bermoral apabila pemerintah tidak menaikkan BBM demi popularitas untuk 2009”. Kata ”moral” ini juga memperlihatkan bagaimana status kata itu, yaitu bermakna positif. Dengan demikian maka orang bermoral adalah orang telah dan sedang bertindak dan bertutur kata positif.<!--more--></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Moralitas sudah menjadi kesepakatan universal meskipun standarnya bisa berbeda-beda, tetapi hampir semua sepakat bahwa tindakan bisa masuk bermoral atau tidak bisa dirasakan. Umat manusia bisa saja berbeda dalam segala hal, tetapi ketika berkaitan dengan moral maka nyaris sepakat dan ”sama”. Tak heran bila kemudian muncul seruan-seruan moral untuk kembali mengedepankan moral dalam bertindak dan bertutur kata. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Celakanya terkadang kita susah membedakan mana yang moralis dan demoralis karena dalam keseharian, orang yang melakukan tindakan ”demoralisasi” justru sering menyerukan moralitas. Atau, orang yang menyandang penjaga moralitas justru berperilaku amoral. Sehingga di tengah-tengah masyarakat sudah hilang kepercayaan terhadap para penyeru ini. Status moralitas ini sudah sama saja antara penyeru dan yang diserukan. Bila sudah demikian maka lahirlah permisifisme. Lahirlah masyarakat yang permisif yang penting tidak menganggu satu sama lain. TST sajalah, Tahu sama Tahu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Moral sering terkait dengan etika dan norma. Norma dan etika itu sendiri erat kaitannya dengan adat istiadat, budaya dan agama karena adat-budaya dan agama yang memiliki standar norma dan etika tertentu. Jadi orang yang melanggar adat dan agama berarti telah melanggar norma dan etika, dan dengan demikian berarti tidak bermoral. Sayangnya, ini sering direduksi menjadi wilayah seksualitas saja dalam penilaian moralitas. Sementara wilayah kehidupan lain seperti korupsi, <em>illegal logging</em> (maling kayu hutan), suap dan lain sebagainya nyaris tidak menjadi seruan moralitas. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Seruan moralitas tidak menyentuh kepada wilayah-wilayah seperti korupsi, kolusi, nepotisme, maling kayu hutan, suap menyuap, perusakan fasilitas umum dan lain sebagainya. Dalam kondisi yang seperti ini kemudian ditambah dengan permisifitas yang terbentuk tadi maka suburlah hipokritisme. Makanya wajar saja bila ada fenomena ”main telpon-telponan” antara pengusaha dengan jaksa. Jaksa alih profesi menjadi pedagang permata (baca; penjual perkara), kayu hasil curian dianggap limbah. Bila diverifikasi maka oknum-oknum ini menjawab dengan berputar-putar padahal aksinya nyata dan jelas melanggar moralitas, merugikan negara!. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Fenomena yang lain lagi adalah demonstrasi menjadi anarki (justru dilakukan oleh kaum pengusung moralitas). Sekarang sudah tidak bisa dibedakan antara unjuk rasa dan anarki. Justru keadaannya semakin bertambah parah, setiap ada demontrasi maka yang ada di benak masyarakat adalah membakar ban mobil, merusak pagar, melempar batu laksana intifada saja, memecahkan kaca, menggulingkan kendaraan dan membakarnya. Inilah makna baru demontrasi oleh salah satu segmen penyeru moralitas. Fakta bahwa moralitas telah menjadi anarkisme.[]</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dimuat pada kolom Harian Bengkulu Ekspress, Jumat 27 Juni 2008</span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Postoji li okrugla kocka? Ateizam ili jadizam?]]></title>
<link>http://putuislam.wordpress.com/?p=18</link>
<pubDate>Thu, 03 Jul 2008 10:01:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>ebusadzid</dc:creator>
<guid>http://putuislam.wordpress.com/?p=18</guid>
<description><![CDATA[Ko se oprobao kao prosvjetni radnik predajući predmet islamska vjeronauka u srednjim ili osnovnim ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ko se oprobao kao prosvjetni radnik predajući predmet islamska vjeronauka u srednjim ili osnovnim &#353;kolama, naslu&#353;ao se svakakvih pitanja koja su postavljali<span>&#160; </span>učenici. Iako ona najvi&#353;e zavise od uzrasta same djece, većina tih pitanja su bezazlena i naivna, najče&#353;će postavljena iz radoznalosti i istinske želje da se sazna ne&#353;to novo, i da se otkloni trenutna nejasnoća ili sumnja. </span></p>
<div align="justify">
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ponekad se predavač istinski začudi zrelosti i ozbiljnosti pitanja, kao da ga postavlja akademski obrazovana osoba, a ne dijete koje je tek u osnovnoj &#353;koli. Ipak, možda to i nije tako čudno, jer pred svim nastavnicima i profesorima, a samim tim i vjeroučiteljima, sjede generacije budućih doktora, političara, računarskih stručnjaka, a možda i svjetski poznatih naučnika. Kako se kaže: Ko zna &#353;ta se u dječijoj glavici krije... </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Nažalost, ponekad će predavaču islamske vjeronauke, ili bilo kojem drugom muslimanu koji ima čest kontakt s raznim kategorijama ljudi, biti upućeno pitanje koje je u svojoj osnovi provokatorsko, i kojem je prvenstveni cilj zbuniti i u nedoumici ostaviti vjernika, te pokazati kako ''napredni ateizam'' ima uvijek čime da se nosi s ''nazadnom religijom''. Ako ga postavlja dijete, onda je to pitanje najče&#353;će vje&#353;to 'instalirano' od strane neke odrasle osobe bliske djetetu, koja preko njega želi zaliječiti ili barem ublažiti svoju opterećenost vjerom koja bi ''trebala biti dalje od &#353;kole i državnih ustanova'' i koja je ''opterećenje za djecu'' i bla, bla&#8230;, a ako ga postavlja odrasla osoba, onda je stvar puno jasnija. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Prilikom odgovora na sve vrste pitanja, bila ona provokatorska ili ne, musliman treba uzeti u obzir cjelokupnu situaciju u kojoj se nalazi, te odvagati na koji način i kako da odgovori, jer će možda od njegovog trenutačnog odgovora zavisiti budući odnos pojedinca prema islamu u cijelosti. Nekad je odgovor dobro i izbjeći, ne zbog toga &#353;to on u islamu ne postoji, već vi&#353;e iz razloga &#353;to zbog svog uzrasta ili intelektualnog nivoa, ''vrli pitac'' nije u mogućnosti razumjeti ono &#353;to mu se govori.</span><span dir="rtl"></span><span lang="HR" style="font-size:10pt;" dir="rtl"><span dir="rtl"></span> </span><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">U protivnom, izrečena islamska dogma, vjerski propis ili ne&#353;to &#353;to je u islamu općepoznato i priznato, pojedincima u tom trenutku može biti neshvatljivo, te će isto odbiti, ili čak, ako se radi o vjerniku, zanijekati Allaha i Poslanika, s.a.v.s. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Zbog toga je Alija, r.a., govorio: <em>''Ljudima govorite ono &#353;to će shvatiti! Zar želite da zaniječu Allaha i Njegovog Poslanika?'' </em>(Buharija, br. 127) </span><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>&#160;</span> </span></p>
<h1 style="text-align:justify;"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">PARADOKSALNA PITANJA </span></h1>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Malo koji religiozni čovjek makar jednom u životu nije bio upitan poznato ateističko paradoksalno pitanje, kojem je za cilj zanijekati Božiju svemoć, a koje se najče&#353;će postavlja nakon &#353;to oponentu nestanu svi mogući argumenti, te hvatajući za slamku, nastoji da se i&#353;čupa iz beskrajnih hodnika ateističkih puteva beznađa i zablude, i samoga sebe, po ko zna koji put nasilu uvjeri da je sve ipak nastalo iz ničega. To se pitanje uglavnom formulira na takav način da će potvrdni ili negativni odgovor obavezno značiti da Bog ne&#353;to ne može. Primjer koji se najče&#353;će navodi jeste: ''Ako je Bog svemoguć, može li onda stvoriti kamen koji ne može podići?'', ili tome slično.<span>&#160; </span> </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Na ovo pitanje najbolje je ''odgovoriti'' drugim pitanjem, vrlo sličnim onome koje je ateist postavio. Pitanje će biti postavljeno na istom principu na kojem je postavljeno i njegovo pitanje, odnosno na principu paradoksa. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ovdje se svakako podrazumijeva da onaj kome se pitanje uzvraća nije svemoguć, ali je isti (uvjetno rečeno), u stanju da uradi ''sve'' &#353;to se od njega traži u jednom vrlo uskom i ograničenom području iz djelića jedne oblasti. Uzmimo naprimjer jednog matematičkog genijalca, koji je po svim pravilima i zakonima u stanju da sabere ili oduzme dva prosta broja, ali ako mu se pitanje postavi na sljedeći način, bit će doveden u situaciju da bilo kakvim odgovorom zaniječe svoje i osnovno znanje o matematici. Naprimjer: ''Može li najveći matematički genije na svijetu sabrati dva prosta broja, recimo 1+1, a da mu rezultat ostane nepoznat?'' </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ako odgovori da ne može, onda to znači da takav genijalac ne zna sabrati dva obična broja, a ako odgovori da može, to implicira da genijalac ne zna da je zbir tih brojeva dva. Iako nisu identična, ovom pitanju nalikuju bliska paradoksalna pitanja poput: Može li vrhunski arhitekta nacrtati okruglu kocku ili trokut s četiri ugla, može li plavooki Nijemac imati crne oči itd. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Primjera za ovo ima dosta, a svaka prosječno inteligentna osoba može ih smisliti bezbroj. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ono &#353;to je zanimljivo i vrlo interesantno jeste činjenica da ateisti ili ljudi koji u svojim prsima nose ogromnu sumnju u postojanje Kreatora i Stvoritelja kosmosa, stalno iznalaze nove metode i načine da vjernike poku&#353;aju uvjeriti da Bog ne postoji, pa makar i na način da izmi&#353;ljaju ovako besmislena pitanja, koja i samima njima nisu nikakav dokaz da Bog ne postoji. Logično pitanje koje se samo nameće glasi: Zbog čega neko tro&#353;i ogroman trud, napor i energiju da opovrgne postojanje nečega &#353;to po njegovom vjerovanju uopće ni ne postoji?<span>&#160; </span>Na ovo pitanje će nam najbolje odgovoriti jedna biv&#353;a ateistkinja koja kaže: </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">''<em>Dok sam izazivala one koji su vjerovali u Boga, duboko u sebi sam se bojala kako bi me oni mogli uvjeriti u suprotno. Jedan dio mojih nastojanja i&#353;ao je u smjeru da se oslobodim pitanja o Bogu. Ako mogu uvjerljivo dokazati vjernicima da su u krivu, problem je rije&#353;en i mogu slobodno nastaviti sa svojim životom.''</em> </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Iako je ova biv&#353;a ateistkinja nažalost za sada svoga Boga prona&#353;la u Isusu, koga će Allah na Sudnjem danu upitati: </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoBodyText"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">&#34;O Isa, sine Merjemin, jesi li ti govorio ljudima: &#8217;Prihvatite mene i majku moju kao dva boga uz Allaha!&#8217; &#8211; on će reći: 'Hvaljen neka si Ti! Meni nije priličilo da govorim ono &#353;to nemam pravo. Ako sam ja to govorio, Ti to već zna&#353;; Ti zna&#353; &#353;ta ja znam, a ja ne znam &#353;ta Ti zna&#353;; Samo Ti jedini sve &#353;to je skriveno zna&#353;.''' </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Pa će Isa, a.s., Allahu odgovoriti: </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">''Ja sam im samo ono govorio &#353;to si im Ti naredio: &#8217;Klanjajte se Allahu, i mome i svome Gospodaru!&#8217; I ja sam nad njima bdio dok sam među njima bio, a kad si mi Ti du&#353;u uzeo, Ti si ih jedini nadzirao; Ti nad svim bdi&#353;.''</span></strong><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> (El-Maide, 116-117) - </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">ipak je, na osnovu svog velikog iskustva, rekla jednu veliku istinu. Strah da tamo poslije smrti ''ipak ima ne&#353;to'', najlak&#353;e se liječi poku&#353;ajem da se svi drugi uvjere da od toga nema ni&#353;ta. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mi muslimani svjesni smo jo&#353; jedne činjenice vezane za ovakvo pona&#353;anje ateista. Rekao je Poslanik, s.a.v.s.: </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">''Svaki sin Ademov rađa se u fitri (prirodnoj urođenoj vjeri islamu) pa ga njegovi roditelji (svojim odgojem) učine židovom, kr&#353;ćaninom ili vatropoklonikom&#8230;'' </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">(Buharija, br. 1358, i Muslim, br. 2658, od Ebu Hurejre, r.a.) </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Riječ ''fitra'' (urođena vjera) koja se spominje u hadisu, odnosi se na činjenicu da su sve du&#353;e priznale Allaha kao svoga Gospodara, o čemu nas Allah obavje&#353;tava u Kur'anu, pa kaže u prijevodu značenja: </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">''I kad je Gospodar tvoj iz kičmi Ademovih sinova izveo potomstvo njihovo i zatražio od njih da posvjedoče protiv sebe: 'Zar Ja nisam Gospodar va&#353;?' &#8211; oni su odgovarali: 'Jesi, mi svjedočimo' &#8211; i to zato da na Sudnjem danu ne reknete: 'Mi o ovome ni&#353;ta nismo znali.'''</span></strong><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> (Al-A&#8217;raf,<span>&#160; </span>172) </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span></span>Međutim, sredina u kojoj živi to dijete najče&#353;će je presudna u njegovom odgoju, pa će dijete, iako rođeno u islamu (čistom monoteizmu), pod utjecajem okoline prihvatiti vjeru, odnosno ideologiju koja je zastupljena u dotičnoj sredini. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Zbog toga se za nevjernika u arapskom jeziku koristi riječ ''kafir'', koja vodi porijeklo od korijena ''kefere'' &#353;to znači &#8211; potrpati, zatrpati, pokriti. Odnosno, čovjek postaje kafir &#8211; nevjernik nakon &#353;to u sebi pokrije i zatrpa prirodnu i urođenu vjeru sa kojom je rođen. </span></p>
<h1 style="text-align:justify;"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">ATEIZAM &#8211; JADIZAM </span></h1>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tako su dakle i ateisti, ''naučnim otkrićima'' (mislimo na navodne dokaze o istinitosti teorije evolucije) kao i mnogim drugim, nikad dokazanim, nebuloznim teorijama o postanku života, svemira itd., dobro prekrili urođenu vjeru s kojom su do&#353;li na ovaj svijet, i sada žele sve oko sebe uvjeriti u isto. Na tom putu su ustrajni onoliko koliko samo može biti ustrajna osoba koja je u očitoj zabludi, poput recimo alkoholičara ili narkomana koji je u dubini du&#353;e svjestan pogubnosti (ne)djela koja čini, ali i dalje se trudi da ostane dosljedan svojim principima, i da jo&#353; koga zajedno sa sobom povuče u svoju zabludu. Umjesto da se potrude da sa svojih du&#353;a otklone svu pra&#353;inu i plijesan ateizma, kako bi nakon toga svakim naučnim otkrićem samo povećavali svoje ubjeđenje o savr&#353;enosti Stvoritelja, oni se i dalje trude da sve protumače naučnim teorijama ''jer za sve postoji logično obja&#353;njenje''. Dok traže ''kariku koja nedostaje'' (ili čitav lanac karika?) ateisti će se usput, u upornom uvjeravanju vjernika da Bog ne postoji, pripomoći i spomenutim paradoksalnim pitanjima, ili bilo čim drugim &#353;to im padne na pamet. </span></p>
<p><span lang="HR" style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Jadna je bijedna ideologija koja je nakon kraha darvinizma i propasti teorije o slučajnom nastanku života iz nežive materije, prisiljena da se od strane svojih &#353;tovatelja brani i održava, između ostalog, i ovakvim i sličnim paradoksalnim pitanjima, koja ne samo da ni&#353;ta ne dokazuju, već vi&#353;e nemaju snage da zbune ni prosječnog osnovca.<span>&#160; </span></span></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Musuh kita adalah diri kita sendiri]]></title>
<link>http://mayapadha.wordpress.com/?p=27</link>
<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 10:47:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>mayapadha</dc:creator>
<guid>http://mayapadha.wordpress.com/?p=27</guid>
<description><![CDATA[Musuh kita adalah diri kita sendiri, kebodohan, kemiskinan, dan egoisme.
Nasionalisme Indonesia adal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Musuh kita adalah diri kita sendiri, kebodohan, kemiskinan, dan egoisme.</p>
<p style="text-align:left;">Nasionalisme Indonesia adalah keinginan untuk terlibat dalam pembebasan orang-orang kecil di Indonesia dari eksplorasi kaum kaya-kuasa dalam segala bentuk oleh siapa pun, termasuk oleh oknum/lapisan bangsa Indonesia sendiri (JB Mangunwijaya, 1996).</p>
<p style="text-align:left;">Setiap generasi mempunyai tantangan berbeda, karena itu diperlukan cara berbeda untuk mengatasinya.Kini, spirit kebangsaan diperlukan untuk menghadapi tantangan generasi, yakni melawan diri sendiri. Spirit untuk tetap bersatu sebagai bangsa mandiri pada era perubahan yang begitu cepat harus tetap terjaga guna mewujudkan dan menumbuhkan kembali sisa nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<p style="text-align:left;">Kini tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia adalah situasi ekonomi global yang begitu kuat memengaruhi perilaku kehidupan, gaya hidup, konsumtif, hedonisme, kapitalisme, egoisme, dan situasi dalam keterpurukan ekonomi, kemiskinan, pengangguran, dan kecemasan menghadapi ketidakpastian masa depan.</p>
<p style="text-align:left;">Kini bangsa ini ada dalam situasi paradoks. Pemerintah sebagai sosok yang seharusnya memikirkan dan menyejahterakan rakyat, menciptakan lapangan kerja, serta mencerdaskan rakyat justru sibuk membuat kebijakan yang memiskinkan, menjadikan pekerja menganggur, melakukan pembodohan, dan memikirkan diri sendiri. Ekonomi dikabarkan terpuruk. Kemiskinan diberitakan bertambah. Namun, setiap hari kenyataan berbeda.</p>
<p style="text-align:left;">Hal ini mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan yang seharusnya membuat pandai telah berubah menjadi teror bagi murid, guru, dan orangtua hanya karena ritual rutin bernama <em>ujian nasional.</em></p>
<p style="text-align:left;">Pemerintah, yang seharusnya menampung aspirasi dan keluhan rakyat tentang pendidikan yang sulit, mahal, dan tidak menjamin masa depan, justru tampil seperti manusia keras kepala tanpa telinga. Hukum yang tanpa keadilan, aparat negara yang tidak mengayomi rakyatnya, dan kekerasan dilakukan atas nama ajaran agama dan lainnya.</p>
<p style="text-align:left;">Mengingat masa lalu adalah menghadirkan spirit agar dapat menata hari ini dan menyiapkan masa depan. Karena itu, diperlukan gagasan besar dan visi jauh ke depan. Nasionalisme nyata hari ini adalah kepedulian atas kemiskinan, kesenjangan, dan kebodohan di tengah globalisasi atau gombalisasi.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Niedoszły proces półinteligenta]]></title>
<link>http://proces.wordpress.com/?p=1097</link>
<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 16:12:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>procesVII</dc:creator>
<guid>http://proces.wordpress.com/?p=1097</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Pana W.&#8221; obejrzałem w peerelowskiej telewizji, jeszcze z nieodżałowanym Dyzmą, Anio]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>"Pana W." obejrzałem w peerelowskiej telewizji, jeszcze z nieodżałowanym Dyzmą, Aniołem - Gospodarzem czyli z Romanem Wilhelmim. W drugiej połowie lat osiemdziesiątych, czyli w tym czasie, o którym traktuje ma Historia pewnego Playboya. Obraz powstał na podstawie noweli "Pan Wacław" Bogdana Madeja z tomu "Maść na szczury".<br />
O filmie, który pamiętam jak przez mgłę, bo obejrzałem go tylko raz, nie będę pisał. Często lepsze wrażenie zostaje, gdy obejrzymy film tylko raz, bo drugi albo i trzeci jeszcze, odkrywają często niedoskonałości, które - na przykład mnie - zrażają. Lepiej jest dobudować coś w swej wyobraźni.<!--more--><br />
Pan W., grany przez Wilhelmiego podejmuje się załatwienia niezwykle trudnej z pozoru sprawy, mianowicie chce nakłonić świadków pobicia ich kolegi do wycofania zeznań. W. nie jest zawodowym obrońcą, ale jest - powiedzmy w skrócie - kimś szanowanym i prawdopodobnie wykształconym, obracającym się w kręgach drobnych przestępców i rzezimieszków.<br />
Sprawa Szpindla, drobnego przestępcy, wydaje się być z początku przesądzona: świadkowie, milicja, która została wezwana. Pójdzie siedzieć za pobicie, nie ma mocnych.  Szpindel pobił uniwersyteckiego wykładowcę, o ile dobrze pamiętam, zupełnie bez powodu. Po prostu wkurwiło go jego gadanie, które ten peerelowski mini gangster, odebrał jako wymądrzanie się. I mu przypieprzył. Sprawa oczywista: świadkowie, sąd i wyrok. Film opowiada o tym jak Pan W. nakłania świadków, bodajże trzech, do zaniechania zeznań. Świadkowie są inteligentami i kolegami pobitego. Szemrany mecenas próbuje rozbić inteligencką koalicję i przekonuje kolegów pobitego - świadków, by nie stawali przed sądem. Udaje mu się to. Osiąga to nie poprzez zastraszanie czy coś w tym stylu. Zupełnie drobne korupcje, a nade wszystko spryt i umiejętność perswazji, i argumentacji w negocjacjach, które prezentuje Pan W., ocalają Szpindla od pudła.<br />
Na końcu padają, z ust "adwokata" słowa (coś w stylu): oni są wykształceni, mają dużo więcej niż my, stąd my musimy być solidarni. I w tym momencie chyba pada to charakterystyczne "no" z uniesioną dłonią Wilhelmiego, rodem z "Kariery Nikodema Dyzmy". Ale być może sam sobie to dopisałem w wyobraźni. Myślę, że podczas rozmów i całych tych negocjacji, nikomu nie przyszło nawet do głowy, że W. wcale prawnikiem nie jest.</p>
<p>Ludzie niewykształceni, mniej inteligentni, są bardziej skłonni do lojalności, wierności i kooperacji. Myślą prościej niż inteligentni. Nie jestem zapewne odkrywcą żadnej prawdy, zauważając, że strajkujący: górnicy, stoczniowcy czy rolnicy osiągają lepsze efekty niż strajkujący lekarze czy nauczyciele.<br />
W sieci spotykam się często z ludźmi, prawdopodobnie inteligentnymi, którzy narzekają na słabą siłę przebicia wartościowej myśli w internetowej dyskusji. Część tych niepowodzeń wynika z całą pewnością z niskiego poziomu chęci do kooperacji inteligencji. By jakąś myśl propagować, otworzyć dla innych, trzeba ją w sieci reklamować. Założyć kilka loginów na Blogboksach, Wykopach i innych forach. I solidarnie wspierać inteligencję. Dresiarze wirtualni i inny drobny element przestępczy Internetu już  to zrobili, opanowali większość serwisów społecznościowych, forów, syndykatów, czatów, w których inteligent czuje się wyalienowany i narzeka. Bo  jedyna siła masy tkwi w jedności i ona szybko i instynktownie to pojmuje. Człowiek inteligentny będzie miał zawsze wątpliwości. Będzie nieufny i niezdecydowany.<br />
Szarm (kto go jeszcze pamięta?) powiedział mi kiedyś, że nigdy nie uda mi się stworzyć dużego forum, bo jestem inteligentny. Myślę, że miał rację w połowie, co oznaczałoby mniej więcej, że jestem półinteligentem. Dlaczego? Bo sam jest człowiekiem inteligentnym, więc musiał dokonać prawidłowej oceny, z drugiej strony oceniam siebie - być może błędnie - jako osobnika mającego wyższy niż średni poziom zdolności do kooperacji.<br />
Postrzegani przez innych, intersubiektywnie, jako ludzie sukcesu, myślą najczęściej niezwykle prosto, stąd wybierają najkrótszą, optymalną drogę do celu. Dlatego wygrywają.<br />
Do zaniżania średniej czatów, blogosfery i forów przyczynia się także rywalizacja inteligencji, nierzadko o pozycję lidera, a najczęściej o status mentora kogoś kto przewodzi. Przeważnie wygrywa ten trzeci - najgłupszy, zgodnie ze starym, prostym przysłowiem.<br />
Serwisy Agory S.A próbują obalić tezę jakoby fraza "inteligentny administrator" była oksymoronem. Będzie to niezwykle trudne, bo człowiek inteligentny będzie miał wciąż - zgodnie z tezą Russella - wątpliwości, a banować i cenzurować trzeba szybko.<br />
Zgodnie  z powyższymi rozważaniami, chcąc by tezy zawarte w nich były prawdziwymi, musiałbym zgodzić się z tym, że moja ocena jest bezstronna. Nie może jej dokonać inteligent, ale nie może też głupek.<br />
Patrzę na to co napisałem, sumuję i wychodzi mi na to, że jestem półinteligentem albo półgłówkiem. Z całą pewnością muszę znajdować się gdzieś na tej borderline, jeśli chcę utrzymywać, że to nad czym rozmyślam ma sens.<br />
No i nie mogę zapomnieć o teorii perspektywy: czy ja jestem tylko w połowie inteligentny, czy aż do połowy pusty?</p>
<p>proces7</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[bukuku sayang, bukuku malang]]></title>
<link>http://salimisme.wordpress.com/?p=16</link>
<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 05:17:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>salimisme</dc:creator>
<guid>http://salimisme.wordpress.com/?p=16</guid>
<description><![CDATA[
Hei Sobat, maaf banget baru kali ini sempat posting lagi. habis bertapa di Gunung Muria yang sepi n]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Hei Sobat, maaf banget baru kali ini sempat posting lagi. habis bertapa di Gunung Muria yang sepi nyenyet tanpa koneksi internet, he,he,he. masih pada baik kan kabarnya? Alhamdulilah.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemerintah sejak dulu gembar-gembor masalah peningkatan kualitas pendidikan di negeri tercinta ini. salah satunya dengan menganggarkan biayanya sekian persen, namun, pada kenyataannya yang digelontorkan dicukupkan sepersekian koma sepersekian persennya saja (jadi mumet). memang i'tikad itu sangatlah baik. tapi realitanya di lapangan sangatlah bertolak belakang dengan i'tikad itu. jadinya ya... wallahu a'lam.</p>
<p style="text-align:justify;">Andai saja dana yang sekian persen itu benar-benar terealisasi, bisa jadi tidak ada sekolah yang gulung tikar alias kepingin cepat-cepat ambruk. andai saja dana itu benar-benar terwujud, kita tak perlu pusing-pusing lagi karena dilangkahi oleh negeri-negeri tetangga. Andai saja dana itu benar-benar terealisasikan, tentu tak ada lagi WNI yang buta aksara.</p>
<p style="text-align:justify;">yah, itu kalau bicara masalah dana. dari dulu di negeri tercinta ini masalah dana selalu seret. ibarat kran air, ngucurnya sedikiiit banget. Apa sudah jadi budaya, ya?</p>
<p style="text-align:justify;">lalu, sobat, ada lagi yang kian menggelitik benak daku ini. masalah buku! Benar. Terlihat dari judul tulisan ini. Seirirng dengan kenaikan BBM, semuanya pun tak urung jadi ikut naik. Harga-harga melangit. sedihnya, harga buku juga diisukan ikut melonjak. Duh, tahu kan kalau hobi saya itu mengunyah buku...</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, gimana mau pinter kalau buku mahal? Gimana mau mendapat cukup pengetahuan kalau tak mampu beli buku? Ah, saya menemukan paradoks lagi. Masyarakat dituntut maju dan cerdas, tetapi alat untuk cerdas itu malah dipersulit pemakaiannya. lalu harus bagaimana ya? apakah buku juga akan menjadi sesuatu yang teramat mahal untuk dimiliki?</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://salimisme.files.wordpress.com/2008/06/salims.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17" src="http://salimisme.wordpress.com/files/2008/06/salims.jpg?w=119" alt="read this" width="135" height="106" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Seandainya semuanya bisa mengunyah buku senikmat ini...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sebuah Paradoks]]></title>
<link>http://uripsantoso.wordpress.com/?p=125</link>
<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 06:44:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
<guid>http://uripsantoso.wordpress.com/?p=125</guid>
<description><![CDATA[Ada sebuah paradoks yang cukup menggelikan. Seorang peneliti   dari  suatu perguruan tinggi sedang b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ada sebuah paradoks yang cukup menggelikan. Seorang peneliti   dari  suatu perguruan tinggi sedang berdebat kusir dengan pegawai di suatu dinas tertentu. Berikut percakapannya&#62;<br />
Peneliti     : Saya akan meneliti tentang suatu masalah A, dapatkah anda membantu saya mendapatkan data sekunder tentang hal itu? Saya  yakin disini didokumentasi data-data yang saya perlukan.<br />
Petugas    : Baik, nanti saya bantu. Tapi pak ada biaya administrasi.<br />
Peneliti     : OK. Berapa biayanya.<br />
Petugas    : Tahu ajalah.<br />
Peneliti     : Baik. TST ya.<br />
Setelah setuju, maka petugas beranjak dari kursinya mencari dokumen yang dibutuhkan oleh sang peneliti. Setelah beberapa saat petugas menyerahkan sejumlah dokumen yang tebal.<br />
Petugas    : Pak silakan dipilih mana yang cocok. Tapi dokumen ini tidak boleh keluar ruangan ini.<br />
Peneliti     : Kalau begitu tolong dikopi saja yang ini dan yang ini. Berapa biaya fotokopi per lembar pak.<br />
Petugas    : Rp 300,-/lembar<br />
Peneliti     : Kok mahal amat!<br />
Petugas    : Ya begitulah, bapak  butuh atau tidak?<br />
Peneliti     : Apa boleh buat.<br />
---------------0000-----------------<br />
Peneliti segera mempelajari data-data yang tertera dalam dokumen ini. Ada banyak kejanggalan. Banyak data yang jika dicocokkan dengan dokumen lain ternyata tidak sama satu dengan yang lain untuk data yang sama. Ia juga  menemukan beberapa data tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Misalnya disitu tercantum jumlah sapi perah meningkat dari tahun ke tahun, tapi setahu ia sapi perah sudah habis alias nol. Kok bisa jadi begitu. Namun, karena ia tidak punya data lain (yang formal) maka data yang formal itu digunakan sebagai acuan penelitian. Iapun kemudian menganalisis data yang ada dan dibuatlah laporan penelitian. Ia tahu, ini tidak boleh. Tapi jika tidak melakukan penelitian, dananya harus dikembalikan. Sayang kan?Satu ekslempar diberikan kepada dinas ybs.<br />
Peneliti     : Pak, saya lihat data di dokumen ini banyak yang kurang pas. Apa tidak salah ketik?, kata peneliti sambil menyerahkan laporan penelitiannya.<br />
Petugas    : Tidak, itu tidak salah ketik. Memang begitulah.<br />
Peneliti     : Tapi pak,  data ini kok tampaknya tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.<br />
Petugas    : Siapa bilang? Ini yang benar!<br />
Peneliti     : Atau data yang tercantum mungkin fiktif.<br />
Petugas    : Tak tahulah.<br />
Peneliti     : Huh, ternyata data yang anda buat penuh dengan kebohongan. Fiktif.<br />
Petugas    : Lah, sudah tahu datanya fiktif kok anda pakai juga. Bodoh dong!<br />
Peneliti     : Apa boleh buat. Tidak ada yang lain, jawabnya dengan muka bersemu merah<br />
Petugas    : Jadi, penelitian anda ini juga fiktif. Dari data fiktif tidak mungkin diperoleh hasil yang akurat.<br />
Peneliti      : ????? Bengong.<br />
Rangkaian percakapan di atas sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sesuatu kejadian yang berlawanan. Di satu sisi orang ingin melakukan hal yang terbaik, di sisi lain ia melakukan hal yang berlawanan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ketawa dan Meringis, Karena Kartun Orang Batak]]></title>
<link>http://tobadreams.wordpress.com/?p=250</link>
<pubDate>Wed, 28 May 2008 18:10:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>tobadreams</dc:creator>
<guid>http://tobadreams.wordpress.com/?p=250</guid>
<description><![CDATA[
Oleh : Raja Huta
SILAKAN tertawa sepuasnya. Mesem-mesem juga boleh. Gambar kartun di atas memang lu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tobadreams.files.wordpress.com/2008/05/lapobaru.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-251" src="http://tobadreams.wordpress.com/files/2008/05/lapobaru.jpg" alt="" width="468" height="329" /></a></p>
<p><strong>Oleh : Raja Huta</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">SILAKAN tertawa sepuasnya. Mesem-mesem juga boleh. Gambar kartun di atas memang lucu, dan Batak <em>banget</em>. Maksudku, titik berat humor Batak rupanya terletak pada kemampuannya mencopet kelucuan dari ironi, satir atau paradoks. Yang jelas, orang Batak punya kemampuan menertawakan diri sendiri.</span><!--more--><span style="font-family:Arial;"> Banyak miripnya dengan Cina.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Kartun di atas kutemukan di sebuah blog yang baru terbit Maret 2008. Kartun Orang Batak, </span><span style="font-family:Arial;">nama blog </span><span style="font-family:Arial;">dengan  URL : jephman.wordpress.com itu, </span><span style="font-family:Arial;">cukup banyak</span><span style="font-family:Arial;"> penggemarnya. Sayang, pengelola blog itu terlalu pelit berkomunikasi dengan pengunjung. Jarang sekali ditanggapi komentar yang masuk, dan sebagian dari tanggapannya yang terlalu sedikit itu terasa pedas sekali.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Pada keterangan “About” hanya terdapat teks dua alinea, tanpa penjelasan mengenai siapa pengelolanya dan kota domisilinya :</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Batak, salah satu etnis besar di Indonesia namun dipinggirkan, sering didiskriminasi akibat agama, ditertawakan hanya karena logat bicara, dilecehkan karena adat budayanya. “Sudah Batak, Kristen pula” , anggapan pedas yang tak diucapkan namun sering terlontar dari perlakuan dari sesama anak bangsa.</span></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Melalui blog ini seorang Batak mencoba bertutur melalui kartun. Agar image kasar, keras orang Batak membuat kita semua bercermin, mengkoreksi diri. Karena semua manusia dengan segala kekurangan dan kelebihannya adalah sama di mata Tuhan</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Cuma itu keterangan yang ada. Dalam tanggapannya terhadap sebuah komentar, pengelola blog dengan rendah hati mengakui, mutu gambarnya memang masih alakadarnya. Cukup simpatik. Tapi ada satu tanggapannya, satu-satunya tanggapan pada “About”, yang sungguh menghentak :</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;"><span> </span></span><strong><!--[if gte vml 1]&#38;gt;                    &#38;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></strong><strong>jephman</strong> <span style="font-size:10pt;">(01:58:16)</span> :</p>
<p>@ nirwan</p>
<p>Batak ada dimana-mana, bung<br />
Batak memang banyak di Medan<br />
Bukan berarti Batak=Medan<br />
Medan terlalu kecil buat mengukur kebatakan<br />
paham?</p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Arial;"><strong>* * *</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">SEBAGAI penggemar kartun, aku hanya bisa menikmati beberapa dari puluhan kartun yang ada di dalam blog itu. Satu hal, produktivitasnya memang mengagumkan. Ide-idenya pun ada beberapa yang kuat dan orisinil, namun sayang kurang berhasil divisualisasikan. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Selain itu, yang agak menyurutkan gairah berhumor-ria, sebagian besar kartun yang ditampilkan sangat terkesan sebagai pamflet dan hampir mendekati sinisme; terutama mengenai isu diskriminasi agama. Kalau saja kritik itu diolah lagi menjadi sentilan yang menggelitik, barangkali pesannya akan lebih bisa diterima, bahkan oleh yang dikritik sekali pun.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Ini adalah satu lagi kartunnya yang aku sukai :</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"> </span><a href="http://tobadreams.files.wordpress.com/2008/05/doa.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-252" src="http://tobadreams.wordpress.com/files/2008/05/doa.jpg" alt="" width="468" height="316" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">TIDAK banyak yang tahu, terutama yang bukan <em>halak hita</em>, sebenarnya orang Batak punya rasa humor yang gawat. Tahun 80-an, hanya dengan menyebutkan nama-nama yang tidak masuk akal berikut ini : <em>Si Sayur Balati (</em>sayur belati)<em>, Si Timba Laut</em> (tukang timba laut), <em>Si Sangkui Sahitna</em> (yang mengantongi penyakitnya), dan Nai Malvinas; sudah bisa bikin orang Batak terbahak atau tersenyum geli. Itu adalah nama-nama peran dalam cerita lawak Batak yang diedarkan dalam bentuk kaset.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:Arial;">Si Suar Sair</span></em><span style="font-family:Arial;">, kartun di koran Sinar Indonesia Baru,  sangat  populer di kalangan orang Batak pada tahun 70-an. Begitu hebatnya popularitas kartun itu, sampai terbawa ke dalam percakapan sehari-hari. Kalau mau menggambarkan nasibnya yang belum beruntung, orang Batak pada masa itu akan mengatakan,"<em>Songonma nasibhu, songon </em>Si Suar Sair (Beginilah nasibku, seperti Si Suar Sair." Memang, tokoh kartun itu selalu bernasib sial.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Sementara itu orang-orang humoris pun tak kalah banyaknya di kalangan orang Batak. Mungkin terlihat aneh, tampang macho tapi jago berkelakar. Nyatanya memang begitu. Salah satu rahasia mengapa orang Batak betah <em>markombur </em>(ngobrol) lama-lama adalah karena banyaknya stok cerita lucu, atau sekadar parodi dari kenyataan yang sebenarnya pahit.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Baru-baru ini, dalam percakapan santai selepas rapat di TobaDream, tuan rumah Monang Sianipar sempat bingung mendengar celetukan Laris Naibaho, dedengkot Asosiasi Loper koran Indonesia. Ucapan Pak Monang,"...<em>tanomonta ma antong hau di dalan</em> (nanti kita akan tanam pohon di jalan)," kontan disanggah oleh Laris, dengan ekspresi wajah sangat serius,"<em>Unang antong di dalan, ba gabe soboi be annon mobil lewat </em>(janganlah di jalan, nanti mobil tidak bisa lewat). <em>jala molo ditanom do, ai busuk doi</em> (dan kalau ditanam, nanti akan busuk)."</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Bisa Anda bayangkan perubahan roman muka Pak Monang. Mulai dari merasa heran karena memang tidak ada ucapannya yang perlu dikoreksi, kemudian jengkel karena meresa "diusilin", lalu tersenyum lebar setelah menangkap titik lucunya; dan akhirnya dengan sigap melontarkan guyonan yang tak kalah lucunya. Wakakakakak….</span></p>
<p style="text-align:justify;">sumber : <a href="http://jephman.wordpress.com/">Kartun Orang Batak</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>link :</strong></p>
<p>http://jephman.wordpress.com/2008/03/13/curahan-hati/</p>
<p style="text-align:justify;">http://jephman.wordpress.com/2008/04/08/doa/</p>
<p style="text-align:justify;">===================================================================</p>
<p style="text-align:center;"><strong>www.tobadreams.wordpress.com</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perayaan Harkitnas dan Perayaan Lapar]]></title>
<link>http://salimisme.wordpress.com/?p=7</link>
<pubDate>Tue, 20 May 2008 23:48:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>salimisme</dc:creator>
<guid>http://salimisme.wordpress.com/?p=7</guid>
<description><![CDATA[tadi malam, sempet lihat TV tentang perayaan harkitnas di stadion Gelora Bung Karno, sambil maem dan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><!--more-->tadi malam, sempet lihat TV tentang perayaan harkitnas di stadion Gelora Bung Karno, sambil maem dan ngerumpi ama temen kos. walhasil, kami terkagum-kagum dengan perhelatan akbar itu. wualah, berapa ribu jiwa menghadiri acara itu, meriah, gegap gempita. koreografi yang busyet indahnya, serasi, selaras, dan tenggang rasa (kaya PPKN aja).</p>
<p style="text-align:justify;">tapi guys...di balik itu saya menjadi sedikit terenyuh juga. ada temen nyeletuk (kalo ga salah Pak Ratno) "coba yang dishoot jangan perayaan itu saja, coba wajah-wajah kelaparan di luar GBK, wajah-wajah kemiskinan di tepi-tepi jalan, wajah-wajah keprihatinan di tengah isu naiknya BBM."</p>
<p style="text-align:justify;">bener banget kan? perayaan itu tentu menelan biaya tak sedikit. gimana kalau dibuat program padat karya misale?  buat nyumbang panti-panti (asal bukan panti pijat <span style="text-decoration:line-through;">plus lagi</span>). itulah salah satu paradoks di negeri  kita ini. kemiskinan, kebodohan bertebaran di mana-mana, tapi seolah kita dibuat nggak sadar (subyektif ya?) bahwa itu sudah mewabah di negeri ini. kita dicekoki dengan berbagai gelimang fantasi yang jauh mengawang. so, can we realize?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kenapa pusing sih?]]></title>
<link>http://tehsore.wordpress.com/?p=171</link>
<pubDate>Thu, 01 May 2008 17:52:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>Lemon S. Sile</dc:creator>
<guid>http://tehsore.wordpress.com/?p=171</guid>
<description><![CDATA[[TULISAN ORANG GILA, JANGAN DIANGGAP SERIUS]

Yakin sudah membaca tulisan merah yang ada di atas? Ka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#ff0000;">[TULISAN ORANG GILA, JANGAN DIANGGAP SERIUS]</span></strong></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:left;">Yakin sudah membaca tulisan merah yang ada di atas? Kalu sudah, silakan lanjutkan. Selamat datang di dunia penuh <strong>kegilaan tanpa aturan</strong>.</p>
<p style="text-align:left;">Bebrapa waktu yang lalu, waktu saya sedang penasaran dengan yang namanya film FITNA. Saya melintas pada sebuah pendapat di dunia blog WP yang cukup menarik. Tapi mungkin juga pendapat ini bisa ditelajangi oleh pihak-pihak yang getol banget menyiarkan Islam di bumi Indonesia yang berwarna-warni ini. Pendapatnya sederhana dan memang ketimbang bersifat agamis lebih bersifat humanis. Tidak bisa dibilang berorientasi pada kemenangan suatu agama, hanya berorientasi untuk kerukunan dan perenungan perspektif.</p>
<p style="text-align:left;">Yang mau saya utarakan di sini adalah yaa... masalah perspektif itu. Perpsektif apa yang kita gunakan ketika dihadapkan pada sebuah masalah mengenai kerukunan antar agama dan kekuatan (kemurnian, keabsolutan, apapun Anda menyebutnya) suatu agama. Apakah itu? Mungkin lebih mudah jika langsung disebutkan kasusnya.</p>
<p style="text-align:left;"><!--more--></p>
<p style="text-align:left;">Kasusnya (dan juga secara implisit bisa ditelaah apa pendapat yang pernah saya temukan itu):</p>
<p style="text-align:left;padding-left:30px;">Dalam kasus film FITNA kemarin kita tahu banyak yang berpendapat bahwa film itu dibuat oleh "Barat" (Pak Geert Wilder lebih tepatnya) untuk menginjak-injak Islam. Menyikapi itu banyak ormas Islam yang memboikot Pak Geert di Indonesia, ada pula yang naik darah setinggi-tingginya karena sesuatu yang disebut penghinaan itu. Katanya itu adalah penghinaan terbesar yang pernah dilakukan.</p>
<p style="text-align:left;padding-left:30px;">Lalu coba kembali beberapa tahun yang lalu. Saya akan mencoba menggali sedikit ingatan saya yang bobrok ini ke masa-masa SMP dulu (rasanya saya sudah tua sekali). Sekolah saya pernah mendatangi seorang penceramah, saya ingat siapa beliau tetapi saya tidak mau menyebutkan siap demi alasan nam baik. Beliau adalah seorang mualaf dan kebetulan ceramah beliau berkisar pada kisah bagaimana beliau meninggalkan keyakinan lamanya dan menjadi seorang ahli agama Islam. Tidak terlalu pentinglah bagaimana kisah itu, yang menarik adalah pesan yang beliau tinggalkan setelahnya. Mengenai isu kristenisasi Indonesia. Dari yang diberitahu beliau kabarnya umat Kristen di Indonesia mengarahkan kristenisasi Indonesia dengan cara-cara yang sepintar dan secerdik mungkin untuk mencapai target 40% (kalau tidak salah) Indonesia akan memeluk Kristen di sekitar akhir dasawarsa pertama abad ke 21. Informasi ini sudah cacat karena termakan waktu di neuron otak saya, jadi maaf kalu ada kesalahan. Ini juga <strong>tidak dimaksudkan untuk memojokkan pihak Kristiani</strong> (itu pun kalau saya benar menyebutnya). Maka dari itu diharapkan kesetiaannya untuk membaca sampai habis.</p>
<p style="text-align:left;">Baiklah, dari kasus/masalah/kondisi tadi bisa mengerti apa maksudnya? Kalau saat ini Anda adalah seorang muslim dan menggunakan perspektif Islam agaknya akan wajar jika Anda terbawa suasana "jihad" untuk meluruskan dan menyebarkan agama Allah. Tentu saja sembari melawan segala bentuk ancaman yang merugikan agama Allah yaitu Islam tercinta dan penuh cinta ini. Itu wajar, berhubung memang Tuhan Islam, Allah SWT, memerintahkan hal itu pada umatnya. Sebagai agamis hal inilah yang terjawab. Namun sebagai humanis yang menyempatkan diri melihat sesuatu dari arah lain terasa sesuatu yang janggal di sini. Ada sebuah paradoks jika mengingat keberadaan Dajjal, Imam Mahdi, dan kiamat.</p>
<p style="text-align:left;">Paradoks yang dimaksud adalah. Jika memang Allah SWT memang sudah menjanjikan kemenangan umat Islam di hari akhir kenapa saat ini Beliau masih memerintahkan perintah seperti itu?--menyebarkan ajaran-Nya--</p>
<p style="text-align:left;">Sebelum itu kembali ke masalah perspektif. Bila Anda muslim, membaca kisah dari pencermah tadi mungkin wajar. Kemudian menunjukkan kemarahan ketika menonton FITNA dan mencaci-maki Pak Geert mungkin wajar. Tetapi pernahkah terbayang bagaimana bila Anda bukanlah seorang muslim dan membaca kisah seperti tadi. Di lain saat Anda marah-marah ketika George W. Bush menvonis Islam sebagai agama teroris dan pernahkah terbayang bagaimana perasaan umat Kristiani yang mendengarkan penceramah masjid menghina-dina agama mereka (dan segala usaha "kristenisasi" mereka). <strong>Saya tidak membela umat Kristiani</strong> dalam hal ini. Saya hanya menjadika diri saya seorang manusia yang egois dan jujur. Menghendaki dunia yang jujur tanpa perselisihan belakang. Alangkah lebih baiknya jika segala sesuatu bisa dilakukan sesederhana mungkin dan tanpa harus menikam dari belakang.</p>
<p style="text-align:left;">Memang umat Islam diperintahkan untuk menyebarkan agama Allah. Saya pun yakin setiap agama yang yakin bila agamanya itu adalah kebenaran memiliki pemikiran yang sama. Karena manusia selalu memiliki keinginan untuk kebenaran. Di sisi lain manusia pula adalah makhluk aneh yang memiliki ketertarikan pada kebenaran dan mengetahui apa yang salah atau berbahaya Kembali ke pembicaraan sebelumnya mengenai paradoks. Di sini saya mengambil perspektif umat Islam.</p>
<p style="text-align:left;">Dalam paradoks yang saya utarakan tadi tidak ada maksdu dari diri saya untuk membiarkan saja Islam dihina-dina. Islam memang ya tetap perlu ditegakkan sebatas kebenaran dan memang itu adalah agama yang benar. Tetapi apakah perlu hingga mencaci-maki agama lain? Dari tadi saya selalu menjauh dari paradoks, sekarang saya coba kembali.</p>
<p style="text-align:left;">Disebutkan tadi bahwa untuk apa susah-susah menybarkan agama Islam kalu toh Allah SWT sudah menjanjikan kemenangan? Memang logikanya kemenangan akan mustahil kalau umatnya sudah terlanjur musnah. Tetapi bukankah karena itu Tuhan ada? Tuhan memiliki konsep <em>creatio ex nihilo</em>, kenapa berpusing-pusing kalau toh Tuhan memiliki kemampuan itu. Tidak usah khawatir kalau ternyata Islam "gagal" bertahan sampai akhir zaman karena Tuhan memiliki kemampuan itu. Tuhan bisa dengan mudah memunculkan Islam kembali dan menepati janji-Nya. Tuhan memiliki kemampuan apapun (omnipotensi) dan Tuhan telah menjanjikan kemenangan.</p>
<p style="text-align:left;">Maka dari itu mengapa harus sebegitu besarnya rasa ngotot yang dimiliki radikalis Islam Indonesia dalam menyebarkan Islam? Islam juga menghendaki cara yang damai, tenang, dan bersahabat dalam penyebaran. Dalam sejarahnya pun Islam menyebar di muka Indonesia (dengan sukses?) karena pendekatan yang cerdik dan damai. Melihat penyebaran Islam sekarang rasanya tidak lebih dari usaha brutal dan pemaksaan kehendak. Saya tidak bermaksud menyindir, tetapi apa yang saya kira beginilah penyebaran Islam di Indonesia sekarang. Juga saya tidak mengharapkan sikap pasif terhadap usaha luar untuk mengganggu ketenteraman beragama. Apa yang saya utarakan adalah penciptaan kerukunan beragama dengan mewujudkan adanya kesadaran untuk tidak melakukan pemaksaan kehendak atau cara-cara licik dalam penyebaran "kebenaran".</p>
<p style="text-align:left;">Sekianlah. Apapun yang diutarakan di atas murni hanya pemikiran gila seorang yang bahkan tidak tahu tentang dirinya sendiri. Sebelum berpendapat, ada baiknya dicerna baik-baik secara utuh. Dikunyah minimal 27 kali lalu telan pelan-pelan. Jangan dikunyah sambil bicara atau melakukan hal lain, nanti bisa tersedak.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kata Bijak]]></title>
<link>http://danalingga.wordpress.com/?p=172</link>
<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 23:16:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>dana</dc:creator>
<guid>http://danalingga.wordpress.com/?p=172</guid>
<description><![CDATA[Kali ini saya secara tak sengaja mendengar seseorang berucap :
Kesempurnaan adalah milik Allah semat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kali ini saya secara tak sengaja mendengar seseorang berucap :</strong></p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><strong>Kesempurnaan adalah milik Allah semata, dan kesalahan adalah milik kita manusia.</strong></span></p></blockquote>
<p><strong>Sebuah kalimat yang terdengar bijak. Sebuah kalimat yang seolah meninggikan Allah di ketinggian tempat Dia memang layak . Apalagi coba yang lebih tinggi dari kesempurnaan.</strong></p>
<p><strong><!--more benarkah? -->Tapi benarkah demikian? Kok saya merasa ada yang salah. Bukankah semua itu adalah milik Allah, dan tidak ada satupun yang milik kita? Jadi bagaimana mungkin kita menjadi sebegitu berkuasanya sehingga dapat memiliki kesalahan. Dan jadinya seolah-olah kita menjadi setara dengan Tuhan. Setara dalam artian kita juga memiliki sesuatu seperti Tuhan memiliki. Bedanya hanya kita memiliki kesalahan, sedangkan Tuhan memiliki kesempurnaan. </strong></p>
<p><strong>Padahal, sekali lagi, apa sih yang kita miliki? Bukankah semua hal tidak ada yang milik kita ? Yah, hanya Allahlah yang memiliki, sedangkan kita hanya dititipi atau pengguna. Bahkan apa yang kita sebut kesalahan itu sendiri. ;)</strong></p>
<p><strong>Eh, jadi Allah bisa salah dunk? Ah... itu kan salah dan benar di mata kita manusia. Sedangkan dalam Tuhan sendiri, kita tidak tahu bukan? Bahkan ada kabar yang terhembus bahwa di dalamNya hanya ada Dia, tidak ada yang lain. Apalagi hanya sekedar salah dan benar. Itu hanya ilusi yang kita butuhkan untuk bersandiwara di dunia ini. Tidak lebih.</strong></p>
<p><strong>Lagian kan anggapan Allah itu sangat salah oleh manusia tidak berarti apa-apa. Sebab dianggap seperti apapun Dia tetap adalah Allah. Tidak lantas berubah menjadi Iblis atau manusia. :mrgreen:</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[favourite google maps places]]></title>
<link>http://isotamm.wordpress.com/?p=50</link>
<pubDate>Sat, 19 Apr 2008 20:52:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>isotamm</dc:creator>
<guid>http://isotamm.wordpress.com/?p=50</guid>
<description><![CDATA[kui aga olev ei naase apeironisse (e. toodab ennast oma piiride tekkimisest saati lõmatult tulevikk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>kui aga olev ei naase apeironisse (e. toodab ennast oma piiride tekkimisest saati lõmatult tulevikku), pole piir olemisele tema über, vaid ainult taga – puudub hävimise piir või see pole määratletav. selle oleva piir on apeiron, piiritus. taastootmine ajas võimaldab lükata tekkimise piiri unustusse. nii on ta justkui olev, kuid hävitab enda olemise piire. ei mõtle ma aga üksikut olevat, sest pole ju apeirongi ainsuses. üks õun võib küll tekkida ja hävida, kuid tal on palju kestvama oleva – õunad – osa.</p>
<p>puutumata loodus on inimesest rikkumata. puhas loodus on inimestevaba. sa ei saa minna täiuslikku loodusesse, sest sinu kohalolek rikub ideaalse (ideelise) looduse.</p>
<p>et saada luba metsa maha raiuda, tuleb tegeleda paberimajandusega. bürokraatias kasutusel olev paber on aga samuti metsast pärit.</p>
<p align="right"><span style="color:#ff9933;"><span style="font-size:x-small;">olenemata sellest,<br />
kui sagedasti sa mu blogi külastad,<br />
on nüüd aeg selja taha vaadata</span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dansk dunse parti og Kvindekampen mod "SYMBOLET på undertrykkelse"]]></title>
<link>http://jacobx.wordpress.com/?p=21</link>
<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 09:25:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>jacobx</dc:creator>
<guid>http://jacobx.wordpress.com/?p=21</guid>
<description><![CDATA[Hvad fanden er problemet?
Har netop set en genudsendelse af debatten fra DR2. Emnet var Tørklæde i]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hvad fanden er problemet?</strong></p>
<p><strong>Har</strong> netop set en genudsendelse af debatten fra DR2. Emnet var Tørklæde i folketinget og de deltagende var: Pia K, Inger Støjberg, Magrethe Vestager, Asmaa Abdol-Hamid, Karen West (kvinde "forkæmper"). Et lineup der umiddelbart burde dække alle nuancer til dette 30 g store stykke stof.</p>
<p><strong>MEN</strong> - Mage til indsnævret lortedebat skal man sq lede længe efter. Pia K forsætter i sine Hitler-inspirerede, følelsespornoistisk, populistisk, Arisk-race hyldende, undertrykkende overbærenhed , mens Inger Støjberg fremhæver Venstres styrke: Der er ikke noget, at komme efter. Magrethe Vestager var særdeles nuanceret og åben for frisind, men hendes manglende agitatoriske evner gjorde udslaget for hvorfor hun heller ikke formåede, at brænde igennem. Karen West vil jeg ikke nævne alt for meget om - Kvindelig "feminist" der på trods af 30 års erfaring ikke kan sætte sig ind i, at muslimske kvinder KUNNE TÆNKES eventuelt, at bære et tørklæde af egen fri vilje. Det er ikke engang en mulighed. Kvinder undertrykkes nemlig igennem dette stof og ikke igennem selve debatten omkring undertrykkelsen. Er det mændene eller kvinderne der undertrykker andre kvinder, med tørklæde, mest?</p>
<p><strong>Jeg</strong> tror personligt, at Asmaa Abdol-Hamid følte mere afmagt over for Dansk Poltiik ved Karen West kommentarer omkring; "at stoffet symboliserer en undertrykkende kultur", end ved Pia K's propagandistiske tilgang til "danske begreber": "Demokrati og Frisind er GIDSLER i sagen om det ISLAMISTISKE tørklæde - Tænk på alle de (hulk hulk) kvinder der bliver TÆVET i AFGHANISTAN, IRA(N/K) (hulk hulk)".</p>
<p><strong>Senere</strong>, i et nærmest tantrisk øjeblik af kvindelig PMS, brokker Pia K sig videre over, at muslimske kvinder ikke kommer på arbejdsmarkedet pga. hovedbeklædning. Argumentet munder ud i, seriøs agitering for, at højesteret skal underkende folketingets præsidiums godkendelse af hovedbeklædning på folketingets talerstol (og dermed danske arbejdspladser).</p>
<p>For lige at få argumentationen helt ned på jorden:</p>
<p><strong>Problemer med hovedbeklædte muslimske kvinder på arbejdsmarkedet = &#60; Pia K løsnings forslag &#62;</strong></p>
<p><strong>x</strong></p>
<p><strong>= &#60; Højesteret skal underkende et enigt præsidium (OMG) &#62;</strong></p>
<p>Hele konklusionen på alt dette, er sådan set meget klar (i hvert fald i mit forskruede, idealistiske hoved):</p>
<p><strong>Dansk Folkeparti</strong> er truet på sit eksistens grundlag idet der er sket en legitimering af selve symbolet på den hadske mentalitet som Dansk Folkeparti, i min bog, står for. Bliver det lovliggjort, at bære hovedbeklædning (tørklæde, hat, svedbånd) i det "offentlige" mister Pia K pludselig sit vigtigste politiske symbol. Det Danske Flag og "hygge" kan være nok så vigtige, og i øvrigt sættes i "tæt forbindelse" med DF, men det ændrer ikke ved, at et parti baseret på had - Styrkes af optrukne "poler" i samfundet. <strong><em>Pia K lever på had. Hun er en igle. Fjern ressourcen og hun dør stille ud.</em></strong></p>
<p><strong>Alle</strong> nedennævnte citater er sagt eller skrevet af medlemmer/tidligere medlemmer af Dansk Folkeparti i de offentlige medier eller til offentlige møder. Nogle er hentet direkte fra Pia Kjærsgaards egne nyhedsbreve. De fleste citater er hentet fra <a class="title" href="http://kortlink.dk/2ghx" target="blank">pluralist.dk</a> hvor du kan se, hvem der har sagt det, og hvor.</p>
<p>Resten har jeg hentet fra avisernes læserbreve, interview m.v.  hvor medlemmer af DF ytrer sig.</p>
<p>Jeg har ikke andet ord for den slags end højreekstremisme.</p>
<p>Men døm selv! Her kommer en lille håndfuld.</p>
<ul>
<li><em>»Det frø af ugræs, der er føget ind over den danske grænse – islamister og løgnere.«</em></li>
<li><em>»Alle Vestens lande er infiltreret af muslimerne - nogle af dem taler pænt til os, mens de venter på at blive nok til at slå os ihjel.«</em></li>
<li><em>»Det drejer sig om at drive denne ondskabens ideologi ud af den vestlige civilisation. Aldrig skal islam få plads i vore lande.«</em></li>
<li><em>»Koranen er jo nærmest religiøs nazisme.«</em></li>
<li><em>»Lad os tydeliggøre problemet ved at sammenligne med en kræftlæges dagligdag. Hvis lægen skulle helbrede sine patienter med det der svarer til 'integration' ville det betyde, at han skulle forsøge at overtale kræftcellerne til at blive gode.«</em></li>
<li><em>»I sådan en moské vil der blive præket had til os danskere. Og den dag, de er mange nok, vil de simpelt hen udrydde os.«</em></li>
<li><em>»Muslimer skal bo i muslimland – og det er ikke her.«</em></li>
<li><em>»Alle muslimer skal smides ud af Danmark. Vi kan ikke stole på muslimerne.«</em></li>
<li><em>»De er avlet af svin, og tænker som svin ... de skal bare blive nede i Kloakistan, hvor de hører hjemme.«</em></li>
<li><em>»Næh, jeg siger bare, at kameler hører til i Sahara og pingviner hører til på Antarktis. Selv om Mustafa er nok så flink, bliver han aldrig dansk.«</em></li>
<li><em>»Islam er ved at kolonisere Europa bid for bid.«</em></li>
<li><em>»Det er et enormt problem, at vi i Danmark har fået en betragtelig befolkningsgruppe, der ikke anerkender dansk lov, men alene anerkender islams love og regler. Det ville ikke undre mig, hvis flere af de muslimske byrådsmedlemmer, som sidder rundt omkring i landet, gemmer på samme synspunkter som Fatima Shah (red: ifølge Pia:går ind for håndsafhugning, stening og dødsstraf ).«</em></li>
<li><em>»Danske partier er blevet varmestuer for muslimer med ekstreme synspunkter.«</em></li>
<li><em>»Islam har siden sin begyndelse været en terrorbevægelse.«</em></li>
<li><em>»Vi taler ikke længere om integration, men om knæfald for islam, som hastigt er ved at kolonisere Danmark.«</em></li>
<li><em>»Den islamiske kultur ødelægger ethvert samfund.«</em></li>
<li><em>»Islam hører ikke til i Europa og vores første prioritet må være at repatriere muslimerne.«</em></li>
<li><em>»Islam truer vores fremtid, og vi vil hindre, at islam sætter nogen dagsorden i Europa. Den tro hører til i en mørk fortid og dens politiske mål er lige så ødelæggende som nazismens.«</em></li>
<li><em>»Muslimerne udgør på grund af deres kultur et stort problem i alle vestlige lande. De færreste af dem ønsker integration, for de er kommet med en kultur, som de tror skal erobre verden.«</em></li>
<li><em>»Det er nærliggende at konkludere, at Islamisk Trossamfund er befolket med ynkelige, løgnagtige mænd med et bekymrende betændt demokrati- og kvindesyn. De er fjenden indefra. Den trojanske hest i Danmark. En slags islamisk mafia.«</em></li>
<li><em>»Den egentlige årsag til den store arbejdsløshed blandt muslimerne er, at disse mennesker stammer fra en kultur, der slet ikke arbejder som vi, og hvor det er forbundet med prestige ikke at bestille noget.«</em></li>
<li><em>»Den altovervejende del af muslimerne er ikke kommet for at blive integreret. De agter aldeles ikke at blive danskere. De er kommet for at overtage Danmark.«</em></li>
<li><em>»Muslimer kommer med tiggerstaven i hånden, og så snart de er inde i varmen bliver den til en stok, der skal banke os på plads.«</em></li>
<li><em>»Islam er den største trussel mod verdensfreden siden kommunismen faldt. Det er en direkte trussel mod Vesten, æder os op indefra og destabiliserer vores samfundsstruktur på ægte gøgeungemaner.«</em></li>
<li><em>Om butikker ejet af indvandrere: »Lad det blive et nationalt bud, at ingen ordentlig dansker sætter sine ben i ukrudtsbutikkerne.«</em></li>
<li><em>»Vor naive indstilling til humanitet og menneskerettigheder gør os alle til lette ofre for en totalt menneskefjendsk religion.«</em></li>
<li><em>»Selvfølgelig er jeg racist – det er alle gode danskere. Enten er man racist, eller også er man landsforræder.«</em></li>
<li><em>»Jeg er for udlicitering af muhammedanere. Ligesom med affald til u-landene.«</em></li>
<li><em>»Alle muslimerne skal ud af Danmark. Det er hårdt sagt, der er jo også mennesker blandt dem. Men hvordan skal vi sortere?«</em></li>
<li><em>»Vi skal først lægge os ned i støvet og sige undskyld for de enorme krænkelser et par billeder af en tosse fra de islamiske rækker har påført masserne.«</em></li>
<li><em>»En moské vil efter al sandsynlighed blive et arnested for ekstreme synspunkter.«</em></li>
<li><em>»Lige siden Mohammed proklamerede denne falske religion og dermed lagde store dele af menneskeheden i total mørke.«</em></li>
<li><em>»Islam er Danmarks største problem.«</em></li>
<li><em>»Den muslimske fremrykning i Danmark, som på sigt kun kan medvirke til, at Danmark mister sin integritet og bliver som alle andre steder, hvor de kristne og muslimerne bor dør om dør, et land med evig krig, terror og alt, hvad fanatisk religiøsitet ellers fører med sig.«</em></li>
<li><em>»At titusindvis og atter titusindvis af mennesker, der tilsyneladende civilisatorisk, kulturelt og åndeligt befinder sig i 1005.«</em></li>
<li><em>»Bistandsloven er passé, fordi den passede til en dansk familietradition og arbejdsmoral og ikke til muslimer for hvem, det er hæderligt at blive forsørget af andre, mens konen føder en masse børn. Børnechecken udnyttes, da en indvandrer opnår rekordindtægt i kraft af en lille snes børn. Massevoldtægter må gives nye strafferammer, fordi problemet først er kommet med de mange asociale andengenerationsindvandreres hærgen.«</em></li>
<li><em>»Hvor islam hersker, er det derimod den højere selvretfærdighed, der rent logisk ender ud i et alt-ædende had og en uhyggelig trang til at udrydde andre mennesker.«</em></li>
<li><em>»På vores plakat hævder vi, at det multietniske samfund er ensbetydende med et samfund præget af massevoldtægter, grov vold, utryghed, tvangsægteskaber, kvindeundertrykkelse og bandekriminalitet.«</em></li>
<li><em>»Tørklædet er et klart signal om, at man vil have indført sharia-lovgivningen her til lands.«</em></li>
<li><em>»Der er mange lighedspunkter mellem Hitler og islam.«</em></li>
<li><em>»Vi har sagt, at islam skal bekæmpes, for selvfølgelig skal den da det, ligesom nazismen og kommunismen skulle bekæmpes.«</em></li>
<li><em>»Islam er en tikkende bombe under den vestlige verden.«</em></li>
<li><em>»Hisb-ut-Tahrir, som åbenlyst erklærer krig mod alt, hvad der er vestligt. Det må da stå helt klart, at det ikke bare er nogle få stykker. Der er virkelig mange muslimer, der sympatiserer med disse galninge og er klar til at myrde løs på danskerne.«</em></li>
<li><em>»Islam er en fascistisk ideologi.«</em></li>
<li><em>»Med sin ukontrollerbare befolkningstilvækst, oliefinansierede terrorisme og voksende fanatisme udgør den islamiske verden en stigende trussel mod freden og mod Vesten.«</em></li>
<li><em>»Islam er ikke en religion i traditionel forstand. Det er en terrororganisation, som prøver at opnå verdensherredømmet ved vold.«</em></li>
<li><em>»Det er nærliggende at konkludere, at Islamisk Trossamfund er befolket med ynkelige, løgnagtige mænd med et bekymrende betændt demokrati- og kvindesyn. De er fjenden indefra. Den trojanske hest i Danmark. En slags islamisk mafia.«</em></li>
<li><em>»Det frø af ugræs, der er føget ind over den danske grænse – islamister og løgnere.«</em></li>
<li><em>»Jeg ville betragte det som en provokation, hvis en muslim meldte sig ind hos os. (Red: DF og sagt af Pia Kjærsgaard)«</em></li>
<li><em>»Det, vi står over for, er ikke blot en kortvarig militær operation. Det drejer sig om at drive denne ondskabens ideologi ud af den vestlige civilisation. Aldrig skal islam få plads i vore lande.«</em></li>
<li><em>»Hvordan havde Afrika eksempelvis set ud i dag, hvis europæerne ikke havde koloniseret området? Alt taler for, at vi fortsat havde haft slaveri og kannibalisme på det store kontinent. Hvem skulle have lært afrikanerne, at dette var forkert, hvis ikke europæerne? De arabiske muslimer praktiserer jo fortsat slaveri.«</em></li>
<li><em>»Når man vælger at skifte sin kristne tro ud med islam, er det som regel ud fra radikale bevæggrunde. Det er et advarselssignal på samme måde, som hvis man begynder at bære hagekors eller udvise selvmordstendenser.«</em></li>
<li>
<hr /></li>
<li><em>” En voldsom indvandring fra lande, der står fjernt fra den danske og europæiske kultur og livsform, har tilført landet en betydelig og støt voksende gruppe af mennesker, der ikke lader sig integrere i det danske samfund.”</em></li>
<li><em>” … Analfabetisme og kvindeundertrykkelse er blevet en del af den danske hverdag.” ”… Mange indvandrere fra ikke-vestlige lande har en volds- og berigelseskriminalitet, der ligger adskillige gange højere end danskernes. …”</em></li>
<li><em>”… Mange af indvandrerne er præget af religioner og vaner, som har gjort deres egne samfund fattige, ufrie og utålelige at leve i.”</em></li>
<li><em>”… indvandrernes underhold, rejser, undervisning, sundhed og belastning af politi, retsvæsen og forvaringsinstitutioner påfører danskerne milliardudgifter.”</em></li>
<li><em>”Mange (indvandrere og flygtninge, red.) savner elementære kundskaber og er – selv i deres eget land – hæmmet af et forældet menneskesyn og mangel på tolerance over for anderledes tænkende.”</em></li>
</ul>
<p>Kilde: Dansk Folkepartis arbejdsprogram<br />
”Fælles værdier – fælles ansvar”, september 2001</p>
<p>http://www.flix.dk/modules.php?name=News&#38;file=article&#38;sid=3277</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pertanian dan Paradoks Beras Miskin Dalam Perspektif Praksiologi]]></title>
<link>http://akaldankehendak.wordpress.com/?p=163</link>
<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 17:35:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>Anon</dc:creator>
<guid>http://akaldankehendak.wordpress.com/?p=163</guid>
<description><![CDATA[|  Giyanto |
Setiap pulang kampung, saya terkadang disuruh ibunda tercinta untuk mengambil jatah ber]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>&#124;  Giyanto &#124;</strong></p>
<p><a title="Beras Bulog" href="http://akaldankehendak.wordpress.com/files/2008/03/berasbulog.jpg"><img src="http://akaldankehendak.wordpress.com/files/2008/03/berasbulog.thumbnail.jpg" alt="Beras Bulog" vspace="6" align="right" /></a>Setiap pulang kampung, saya terkadang disuruh ibunda tercinta untuk mengambil jatah beras miskin di Balai Desa. Barangkali karena administratur desa mengkategorikan kami sebagai keluarga miskin, jadi kami mendapat jatah beras miskin.  Saat mengambil jatah beberapa waktu lalu, di jalanan sambil naik sepeda, saya bertanya-tanya. "Bukankah bapak saya petani dan punya beras sendiri? Mengapa kami dikasih beras miskin? Memangnya pemerintah lagi panen padi, <em>kok </em>ngasih beras murah?"</p>
<p>Itulah paradoks.  Situasi dikatakan paradoks ketika sesuatu itu dianggap benar dia mengandung kesalahan, juga ketika dianggap salah, dia mengandung kebenaran. Artinya, pengertian tersebut saling bertentangan. Kenyataan bahwa kami dikasih beras miskin dengan alasan kami miskin bisa jadi merupakan alasan yang benar, tapi bisa juga keliru karena kami petani yang <em>notabene</em> punya beras sendiri.</p>
<p>Antonim dari istilah kemiskinan ialah kesejahteraan. Di seantero jagad, pemaknaan terhadap kesejahteraan berbeda-beda dalam setiap wilayah. Di Afrika, khususnya Nigeria, orang dikatakan makmur ketika memiliki banyak hewan ternak. Sedangkan di Swedia, orang dikatakan sejahtera ketika memiliki banyak waktu senggang untuk keluarga---dengan syarat sudah memiliki pendapatan yang cukup bagi kehidupan sehari-hari. Di Amerika, orang dikatakan kaya jika memiliki banyak <em>duit</em>. Sedangkan di India, orang cukup memiliki perasaan bahagia itu sudah dianggap sejahtera. Berbeda lagi dengan masyarakat <em>Iban </em>di Malaysia, orang dikatakan sejahtera bila hasil panen padi melimpah ruah. [1] Dengan demikian, dalam ukuran kesejahteraan di berbagai belahan dunia itu berbeda-beda. Tergantung pada persepsi budaya masing-masing.</p>
<p>Lalu apa yang menjadi acuan bagi pengertian kesejahteraan yang didefinisikan pemerintah kita? Barangkali ini yang menjadi alasan mengapa kita dikasih beras miskin, karena sehari-hari kita makan nasi. Saya menyebutnya sebagai pandangan populer.</p>
<p><strong>Petani sebagai Komoditas Politik </strong></p>
<p>Semenjak negara ini mengenal politik, semua permasalahan dilihat dari sudut pandang politik. Termasuk agen-agen politik, dari aparatur desa, pemerintahan kabupaten, pemerintah pusat serta lembaga-lembaga yang mengatasnamakan persatuan organisasi petani---walaupun petani tidak pernah mengenal mereka. Semuanya "menjual" nama petani untuk mendapatkan isu yang bisa jadi alat ampuh untuk meraih popularitas, yang ujung-ujungnya bagi usaha meraih kekuasaan.</p>
<p>Mari mencoba merefleksi, sebenarnya apa solusi permasalahan pangan kita? Bukankah sumber daya alam kita sangat subur, karena berada di daerah vulkan yang sangat sesuai untuk lahan pertanian? Bukankah jumlah masyarakat petani kita cukup banyak? Bukankah, tidak seperti di wilayah lain di dunia, sawah kita bisa menghasilkan panen per tiga bulan atau satu tahun bisa tiga kali panen?</p>
<p>Yang menjadi awal mula isu pangan menjadi <em>heboh</em>, ialah terkait proses alamiah dari kenaikan harga-harga beras. Harga beras naik itu, biasanya, berhubungan penurunan stok, seperti terkondisi oleh belum datangnya musim panen, dan lain hal. Penurunan stok beras di pasar menyebabkan harga beras sedikit naik. Apabila hal tersebut diserahkan secara alamiah kepada mekanisme pasar, dalam waktu dekat <em>toh </em>harga beras akan kembali normal seiring dengan kenaikan stok, misalnya dengan datangnya musim panen yang di berbagai tempat dan waktu di seluruh pulau Jawa  sangat bervariasi. Apalagi bila hal itu dibandingkan dengan seluruh kawasan di Indonesia. [Bagaimana dengan kenaikan permintaan?]</p>
<p>Kalaupun ada kenaikan permintaan terhadap beras yang menyebabkan harga naik, setidaknya ada dua kemungkinan. Pertama, karena adanya pertambahan penduduk secara pesat, sehingga menyebabkan permintaan beras menjadi lebih banyak. Yang kedua, disebabkan oleh permintaan oleh tengkulak yang berharap menimbun beras.</p>
<p>Bagi kemungkinan pertama, untuk jaman sekarang, saya kira pengaruhnya tidak terlalu signifikan dikarenakan sudah banyak keluarga yang ikut program KB, dan apabila ada pertumbuhan penduduk yang rata-rata 1-2% per tahun. Bukanlah lahan  di luar jawa masih banyak yang belum tergarap? Atau, bukankah hasil penelitian terbaru mengenai benih unggul yang dapat memperpendek masa tanam?, atau apakah benar jumlah penduduk semakin bertambah, kalau demikian, lihat saja piramida penduduk Amerika ataupun Rusia yang menunjukkan penurunan?, toh kalau <em>mentok</em>, masih banyak kemungkinan adanya diversifikasi bahan makanan, karena kita mempunyai ikan dilaut yang belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk alternatif pengganti makanan pokok selain beras.</p>
<p>Bagi kemungkinan kedua, hanya pengusaha atau spekulan beras yang kurang pengalaman saja yang menyimpan beras atau gabah berlama-lama. Karena fluktuasi harga beras yang tidak pasti, kemungkinan spekulan tidak mau mengambil resiko menyimpan beras terlalu lama. Saya sering mendapat pengalaman memiliki tetangga spekulan yang sering mengeluh karena sebelumnya saat membeli beras harganya tinggi tapi setelah beberapa saat harganya turun. Sehingga beliau mengalami kerugian. Jadi seandainya ada anggapan bahwa penimbun selalu untung, itu hanya orang yang tidak pernah menjadi spekulan.  Karena spekulan juga tidak tahu pasti mengenai masa depan akan fluktuasi harga beras.</p>
<p>Dengan demikian, sangat tidak beralasan  bahwa reaksi-reaksi yang disebabkan oleh fluktuasi harga beras membuat kita khawatir serta takut akan kekurangan pangan. Seandainya ini terlalu dibesar-besarkan, bukan tidak mungkin akan menjadi isu yang seksi bagi politisi maupun pemerintah untuk mengambil kebijakan yang bisa jadi merugikan petani. Walaupun hal tersebut didasarkan dengan niat baik ataupun untuk mencari popularitas. Dengan demikian akan mempermudah politisi untuk bersilat lidah demi keuntungan dirinya sendiri.</p>
<p><strong>Berawal dari Persoalan Epistemologis</strong></p>
<p>Alasan lain pemicu pengambilan kebijakan pangan serta pertanian yang paradoksial ialah, tentu, adanya dukungan berupa hasil-hasil penelitian akademis. Namun, sejauh penulusuran yang saya lakukan, terlepas dari segala keterbatasannya, belum ada yang menggunakan praksiologi (<em>praxeology</em>). Kalaupun ada penelitian yang metodenya menyerupai metode tersebut, proporsinya masih amat minim. Salah satunya adalah hasil penelitian Yunita T. Winarto, seorang antropolog UI. Dalam penelitiannya di daerah persawahan pantai utara Jawa Barat, beliau menyimpulkan, bahwa petani ternyata memiliki kemampuan sendiri untuk meningkatkan produktivitas pertanian.[2]</p>
<p>Saya bisa memahami kecermatan hasil penelitian tersebut, karena hanya para antropolog yang mengawali penggunaan metode <em>grounded research</em>. Metode yang digunakan adalah "terjun" langsung ke lapangan, serta melibatkan diri secara langsung dengan para petani desa untuk beberapa tahun dan bahkan bertahun-tahun. [3] Jadi, sebagaimana dalam gugatan saya terhadap epistemologi ilmu sosial dalam artikel <em>Menggugat Epistemologi Ilmu Sosial</em> [<a href="http://akaldankehendak.com/2008/02/25/menggugat-epistemologi-ilmu-sosial-bag-1/" target="_blank">1</a> dan <a href="http://akaldankehendak.com/2008/03/03/menggugat-epistemologi-ilmu-sosial-bag-2/" target="_blank">2</a>], salah satu kesalahan terbesar kita ialah penggunaan angka-angka serta menggeneralisasi manusia yang sebenarnya memiliki sifat  masing-masing dan "keunikan" tersendiri.</p>
<p>Landasan bagi penggunaan individualisme metodis sangat sederhana. Bahwa individu, dalam hal ini petani, sebenarnya dapat membuat pilihannya sendiri.[4]  Dengan mengamati pilihan-pilihan individu yang tercermin dari cara-cara mereka dalam meraih tujuan, sebenarnya cukup mudah untuk mendapatkan gambaran realitas secara keseluruhan. Apabila obyek kita pertanian dan para petani, kita tidak dapat menanggalkan pengamatan terhadap apa-apa dan bagaimana perilaku petani sehari-hari. Bagi saya, hal yang demikian sudah sangat mendarah daging, karena sebelum masuk Taman Kanak-Kanak, saya sudah bergumul dengan petani baik masa-masa bahagia maupun masa-masa sulit (walaupun sebenarnya lebih banyak masa sulitnya).</p>
<p>Perbedaan <em>grounded research</em> dengan praksiologi adalah pada penekanannya. <em>Grounded research</em> masih memandang individu dalam kerangka kolektif, sedangkan praksiologi melihat individu sebagai makhluk yang otonom. Dalam pandangan sejumlah pemikir-termasuk Rothbard, praksiologi bersifat individualisme metodis. Metode ini dilandasi prinsip bahwa hanya individulah  yang mempunyai pikiran, memiliki kemampuan meraba, melihat, serta indera dan perasa. Dengan demikian, hanya individu tersebutlah yang dapat melakukan penilaian-penilaian atau membuat pilihan-pilihan, yang pada akhirnya mengambil tindakan. Dalam pemahaman ini, hanya individu-individulah yang sebenarnya bertindak, bukan kesatuan kolektif. [5]</p>
<p>Konsekuensi logis dari penggunaan metodologi ini ialah bahwa kita sebelumnya perlu menerima dan meyakini subyektivitas ilmu pengetahuan sosial, yang legalitasnya mendapat dukungan dari beberapa filsuf kontemporer seperti Fritjof Capra ataupun Thomas S Khun. Dengan demikian, penggunaan angka-angka hanya diperlukan jika hal demikian tidak terkait secara langsung dengan manusia. Misalnya: dalam perhitungan luas lahan pertanian, perhitungan anggaran biaya pertanian dan lain sebagainya yang terkait dengan benda-benda mati.</p>
<p><strong>Pamanfaatan Pengetahuan Masyarakat </strong></p>
<p>Asumsi yang mendasari kebijakan beras miskin adalah bahwa pengetahuan atau informasi hanya dimiliki oleh pemerintah (pusat).  Oleh karena itu informasi dan pengetahuan mengenai pasokan beras dianggap hanya dimiliki oleh Bulog, BPS serta Kementerian Ekonomi. Dengan demikian hal-hal tersebut memberikan alasan dan pembenaran bagi kebijakan impor beras ataupun operasi pasar, kendati sebenarnya asumsi yang demikian mudah dibantah.</p>
<p>Saya memiliki argumen lain. Ada pengetahuan yang tidak dapat dimiliki oleh satu otoritas, baik oleh pakar ekonomi maupun pemerintah, yaitu pengetahuan seputar waktu dan tempat. [6]</p>
<p>Pengetahuan mengenai tempat misalnya. Saya kira, Ibu pemilik warung di sebelah tempat kos, atau rata-rata penduduk dewasa di Semarang, lebih mengetahui bahwa beras dari <em>Dlangu </em>Klaten dan Tegal itu lebih cocok dengan lidah orang Semarang. Atau, <em>tengkulak</em> dari Pati barangkali lebih peka terhadap informasi berkurangnya stok beras di Yogyakarta, sehingga menarik dia untuk <em>melempar </em>beras ke <em>Jogja</em>. Bisa jadi <em>penebas</em> dari Kudus lebih gesit mencari informasi bahwa di Bandung sedang musim panen, sehingga <em>menggoda</em> dia untuk men-spekulasi-kan modalnya untuk menebas padi di sana.</p>
<p>Pengetahuan-pengetahuan seperti itu hanya dimiliki oleh para <em>tengkulak, penebas, serta penjual nasi</em>. Jadi tidak beralasan jika data-data yang sering disiarkan di televisi serta media cetak tersebut bisa sesuai dengan realitas. Jika semua data ini dijadikan landasan bagi kebijakan-kebijakan pertanian serta pengendalian harga beras, validitasnya perlu ditanyakan lagi.</p>
<p>Dalam hal pengetahuan mengenai waktu, misalnya, petani-petani di daerah memahami hal ini lebih dari siapapun. Dalam menghadapi ketidakpastian akan masa depan, mereka biasanya menyimpan beras di rumah masing-masing. Setelah musim panen, tidak semua hasil panen itu langsung dijual. Karena masa depan tidak pasti, bapak saya biasanya akan menyimpan sebagian <em>gabahnya</em> untuk persiapan modal musim tanam selanjutnya; sedangkan sisanya dicadangkan sebagai sarana antisipasi bagi kebutuhan-kebutuhan lain yang mendesak.</p>
<p>Dengan demikian, apa yang dikhawatirkan Bulog bahwa stok beras kurang sebenarnya jauh dari realita. Coba <em>cek</em> dan <em>geledah</em> rumah-rumah petani di pedesaan. Biasanya, mereka memiliki <em>stok</em> pasokan gabah sebagai tabungan. Dengan demikian mereka <em>toh</em> suatu saat pasti menjualnya entah untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk modal musim tanam maupun penyemaian, dan biaya-biaya rutin dari proses pengolahan pertanian selanjutnya.</p>
<p>Akan tetapi persoalan menjadi lain ketika terjadi intervensi terhadap harga beras oleh pemerintah. Tabungan dalam bentuk beras, nilainya semakin turun karena harga beras, secara riil tetap dan bahkan turun, karena adanya intervensi kebijakan-kebijakan pemerintah yang menyebabkan inflasi. Termasuk di sini program kredit palsu, percetakan uang fiat,  serta program beras miskin dan lain sebagainya, yang pada akhirnya menyebabkan harga-harga komoditas yang lain terus naik, termasuk faktor-faktor produksi dan sarana-sarana produksi pertanian; sementara, harga beras mengalami penurunan akibat program beras miskin dan segala bentuk operasi pasar.</p>
<p>Alasan klise diterapkannya kebijakan beras miskin, lebih banyak, terkait laporan media mengenai busung lapar atau <em>malnutrisi</em>. Tanpa mengecek lebih dahulu, laporan-laporan tersebut langsung menjadi justifikasi bagi para "spekulator legal" untuk mendatangkan beras dari negeri tetangga. Alih-alih untuk mengatasi kelaparan, momen tersebut bisa langsung dijadikan pembenaran bagi perjuangan imoral yang hanya dimotifkan demi keuntungan dirinya sendiri, tanpa mempertimbangkan efeknya pada tingkat mikro.</p>
<p><strong>Kesimpulan </strong></p>
<p>Penjelasan di atas menyiratkan bahwa menganggap pemerintah sebagai satu-satunya otoritas yang wajib menentukan semua pengendalian terhadap kebutuhan masyarakat sebenarnya sangat berbahaya. Juga menganggap institusi akademik sebagai menara gading ataupun menara air bagi kiblat ilmu pengetahuan dapat merupakan mimpi yang jauh dari kenyataan. Satu  faktanya ialah bahwa pengetahuan, khususnya seputar waktu dan tempat, sebenarnya bukan sepenuhnya menjadi otoritas pengetahuan ilmiah. Telah lama masyarakat memiliki pengetahuan yang didapat dari proses <em>trial and error</em>. Pengetahuan tersebut hanya bisa bermanfaat jika keputusan-keputusan tersebut dikembalikan dan diserahkan kembali kepada pribadi-pribadi masing-masing sebagai agen ekonomi. Jadi apabila pemerintah sekarang melakukan berbagai bentuk intervensi, hal tersebut bukan semakin menyelesaikan permasalahan, melainkan malah membunuh dan menusuk langsung ke jantung agen yang paling produktif di negeri kita: yaitu para petani. [ ]</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><em>(* Kontributor adalah penggiat </em><a href="http://komunitasembunpagi.blogspot.com" target="_blank">Komunitas Embun Pagi</a><em>. </em></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><em>Hak cipta ada pada penulis.)</em></span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Referensi</span>:</p>
<p>[1] <em>Geography of Wealth</em>. <a href="http://www.nationalgeographic.com/">www.nationalgeographic.com</a>.</p>
<p>[2] Winarto, YT. "Pengendalian Hama Terpadu Setelah Lima Belas Tahun Berlalu: Adakah Perubahan dan Kemandirian?<em>" </em>Dalam <em>Jurnal Analisis Sosial Vol 11</em>: <em>Tantangan Masa Depan Pertanian </em><em>Indonesia</em>. Yayasan AKATIGA: Bandung.</p>
<p>[3] Mustain. <em>Petani vs Negara: Gerakan Sosial Petani Melawan Hegemoni Negara</em>. (Pendapat Disertasi ini tidak saya cantumkan dalam artikel diatas karena kajiannya terfokus pada <em>Sejarah Reklaiming</em> petani terhadap lahan di Jawa Timur. Karena Ilmu Sejarah berbeda dengan Praksiologi).</p>
<p>[4] Gene Callahan. <em>Economics for Real People</em>: <em>An Introduction to the </em><em>Austrian</em><em> </em><em>School</em><em>, </em>2nd Edition. Ludwig von Mises Institute: Auburn,  Alabama.</p>
<p>[5] Murray N. Rothbard. <em>Praxeology as the method of social sciences</em>. (dalam mendefinisikan Praksiologi antara Rothbard dengan Mises ada perbedaan. Jika Mises lebih memandang Praksiologi sebagai satu cabang ilmu tindakan manusia, Rothbard lebih mengartikannya sebagai metode. Hal ini bisa dimengerti karena masa hidup dari kedua tokoh ini berbeda. Mises hidup ketika ilmu-ilmu sosial belum berkembang pesat seperti di jaman Rothbard). Bisa sebagai tambahan, lihat Amir Azad. <em>Economic</em> <em>Development: An Individualist Methodology</em> (artikel singkat menyinggung <em>sejarah</em> <em>perdebatan</em> <em>metodologi</em> dari jaman Socrates hingga Rothbard, dari Pemikiran Yunani hingga Aliran Skolastik di Spanyol serta Hegel dan Marx dari Jerman).</p>
<p>[6] F.A. Hayek. "Pemanfaatan Pengetahuan Masyarakat". <em>Jurnal Kebebasan Akal dan Kehendak</em>, Sanctuary Publishing: Ciputat.</p>
<p align="center"><a href="http://del.icio.us/post?url=http://akaldankehendak.com/2008/03/31/pertanian-dan-paradoks-beras-miskin-dalam-perspektif-praksiologi/;title=Pertanian%20dan%20Paradoks%20Beras%20Miskin%20Dalam%20Perspektif%20Praksiologi"><img src="http://akaldankehendak.wordpress.com/files/2008/04/delicious.png" alt="add to del.icio.us" /></a> : <a href="http://www.blinklist.com/index.php?Action=Blink/addblink.php&#38;Description=&#38;Url=http://akaldankehendak.com/2008/03/31/pertanian-dan-paradoks-beras-miskin-dalam-perspektif-praksiologi/;Title=Pertanian%20dan%20Paradoks%20Beras%20Miskin%20Dalam%20Perspektif%20Praksiologi"><img src="http://akaldankehendak.wordpress.com/files/2008/04/blinklist.png" alt="Add to Blinkslist" /></a> : <a href="http://www.furl.net/storeIt.jsp?u=http://akaldankehendak.com/2008/03/31/pertanian-dan-paradoks-beras-miskin-dalam-perspektif-praksiologi/;t=Pertanian%20dan%20Paradoks%20Beras%20Miskin%20Dalam%20Perspektif%20Praksiologi"><img src="http://akaldankehendak.wordpress.com/wp-admin/%3Cbr%20/%3Ehttp://akaldankehendak.wordpress.com/files/2008/04/furl.gif" alt="add to furl" /></a> : <a href="http://digg.com/submit?phase=2&#38;url=http://akaldankehendak.com/2008/03/31/pertanian-dan-paradoks-beras-miskin-dalam-perspektif-praksiologi/"><img src="http://akaldankehendak.wordpress.com/files/2008/04/16x16-digg-guy.gif" alt="Digg it" /></a> : <a href="http://ma.gnolia.com/bookmarklet/add?url=http://akaldankehendak.com/2008/03/31/pertanian-dan-paradoks-beras-miskin-dalam-perspektif-praksiologi/;title=Pertanian%20dan%20Paradoks%20Beras%20Miskin%20Dalam%20Perspektif%20Praksiologi"><img src="http://akaldankehendak.wordpress.com/files/2008/04/magnolia.png" alt="add to ma.gnolia" /></a> : <a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://akaldankehendak.com/2008/03/31/pertanian-dan-paradoks-beras-miskin-dalam-perspektif-praksiologi/&#38;title=Pertanian%20dan%20Paradoks%20Beras%20Miskin%20Dalam%20Perspektif%20Praksiologi"><img src="http://akaldankehendak.wordpress.com/files/2008/04/su.png" alt="Stumble It!" /></a> : <a href="http://www.simpy.com/simpy/LinkAdd.do?url=http://akaldankehendak.com/2008/03/31/pertanian-dan-paradoks-beras-miskin-dalam-perspektif-praksiologi/;title=Pertanian%20dan%20Paradoks%20Beras%20Miskin%20Dalam%20Perspektif%20Praksiologi"><img src="http://akaldankehendak.wordpress.com/files/2008/04/simpy.png" alt="add to simpy" /></a> : <a href="http://www.newsvine.com/_tools/seed&#38;save?url=http://akaldankehendak.com/2008/03/31/pertanian-dan-paradoks-beras-miskin-dalam-perspektif-praksiologi/;title=Pertanian%20dan%20Paradoks%20Beras%20Miskin%20Dalam%20Perspektif%20Praksiologi"><img src="http://akaldankehendak.wordpress.com/files/2008/04/newsvine.png" alt="seed the vine" /></a> : <a href="http://reddit.com/submit?url=http://akaldankehendak.com/2008/03/31/pertanian-dan-paradoks-beras-miskin-dalam-perspektif-praksiologi/;title=Pertanian%20dan%20Paradoks%20Beras%20Miskin%20Dalam%20Perspektif%20Praksiologi"><img src="http://akaldankehendak.wordpress.com/files/2008/04/reddit.gif" alt="" /></a> : <a href="http://cgi.fark.com/cgi/fark/edit.pl?new_url=http://akaldankehendak.com/2008/03/31/pertanian-dan-paradoks-beras-miskin-dalam-perspektif-praksiologi/;new_comment=Pertanian%20dan%20Paradoks%20Beras%20Miskin%20Dalam%20Perspektif%20Praksiologi"><img src="http://akaldankehendak.wordpress.com/files/2008/04/fark.png" alt="" /></a> : <a title="TailRank" href="http://tailrank.com/share/?text=&#38;link_href=http://akaldankehendak.com/2008/03/31/pertanian-dan-paradoks-beras-miskin-dalam-perspektif-praksiologi/&#38;title=Pertanian%20dan%20Paradoks%20Beras%20Miskin%20Dalam%20Perspektif%20Praksiologi"><img src="http://akaldankehendak.wordpress.com/files/2008/04/tailrank.gif" alt="TailRank" /></a> : <a href="http://www.facebook.com/sharer.php?u=http://akaldankehendak.com/2008/03/31/pertanian-dan-paradoks-beras-miskin-dalam-perspektif-praksiologi/&#38;t=Pertanian%20dan%20Paradoks%20Beras%20Miskin%20Dalam%20Perspektif%20Praksiologi"><img src="http://akaldankehendak.wordpress.com/files/2008/04/facebookcom.gif" alt="post to facebook" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pas på med sprutten - også alligevel ikke..]]></title>
<link>http://larsja.wordpress.com/2008/03/23/pas-p-med-sprutten-ogs-alligevel-ikke/</link>
<pubDate>Sun, 23 Mar 2008 13:02:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>Lars Jakobsen</dc:creator>
<guid>http://larsja.wordpress.com/2008/03/23/pas-p-med-sprutten-ogs-alligevel-ikke/</guid>
<description><![CDATA[Sådan kan man sige når man læser om en 45 årige mand fra Århus, som tre aftner i træk havde hu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sådan kan man sige når man læser om en 45 årige mand fra Århus, som tre aftner i træk havde huseret omkring et busskur et sted i byen. Da han blev bragt ind på skadestuen konstanterede man at hans kropstemperatur var på 26 grader, og han havde en alkoholpromille på 4. Havde han ikke haft alkolhol i blodet var han formentlig død..</p>
<p><a href="http://stiften.dk/apps/pbcs.dll/article?AID=/20080323/AAS/861202299/1002" title="http://stiften.dk/apps/pbcs.dll/article?AID=/20080323/AAS/861202299/1002">http://stiften.dk/apps/pbcs.dll/article?AID=/20080323/AAS/861202299/1002</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Szczere przytyki do polityki]]></title>
<link>http://dobraksiazka.wordpress.com/?p=230</link>
<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 21:59:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>Yves P.</dc:creator>
<guid>http://dobraksiazka.wordpress.com/?p=230</guid>
<description><![CDATA[Szczere przytyki do polityki
Autor:  Emil Perse
 Zbiór blisko trzystu zwięzłych metaforycznych pr]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Szczere przytyki do polityki</strong><br />
<em>Autor:  Emil Perse</em></p>
<p><a href="http://www.lideria.pl/sklep/opis?nr=76739&#38;idp=356" rel="nofollow"><img src='http://dobraksiazka.wordpress.com/files/2008/03/szczere-przytyki.jpg' alt='Szczere przytyki do polityki' style="float:left;margin-right:10px;" /></a> Zbiór blisko trzystu zwięzłych metaforycznych prezentacji polityki - jej aspektów generalnych, niuansów i paradoksów. Jest to propozycja syntetycznego spojrzenia na uniwersalne znaczenie tego ponadczasowego fenomenu, jakim jest polityka, zarówno ta w wymiarze krajowym, jak i w skali międzynarodowej, czy też w układach lokalnych. <!--more--> </p>
<p>W dziesięciu częściach tematycznych autor przedstawia własne krytyczno-realistyczne ujęcie problematyki. Poszczególne sentencje mogą stanowić pretekst do refleksji o konkretnej polityce, ale przedstawione przytyki są niezależne od czasu i miejsca, w którym istnieją lub mogą wystąpić konkretne interesy, układy sił i gry polityczne. <a href="http://www.lideria.pl/sklep/opis?nr=76739&#38;idp=356" rel="nofollow">Zobacz książkę &#187;</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[paradoks]]></title>
<link>http://sokpomaranczowy.wordpress.com/2008/03/07/paradoks/</link>
<pubDate>Fri, 07 Mar 2008 18:46:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>Martika</dc:creator>
<guid>http://sokpomaranczowy.wordpress.com/2008/03/07/paradoks/</guid>
<description><![CDATA[Dziś się dzieją od rana rzeczy niezrozumiałe. Ja, miłośniczka wszelkiego jedzenia, naleśnikó]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dziś się dzieją od rana rzeczy niezrozumiałe. Ja, miłośniczka wszelkiego jedzenia, naleśników, lasagne, pizzy, makaronów, chleba, czekolady i soku pomarańczowego dzisiaj jestem bez prawa do jedzenia go. Mój żołądek stanowczo odmawia bliższego kontaktu z bardziej skomplikowanymi wytworami kulinarnymi. Rano nawet woda była zbyt skomplikowana.<br />
Tak więc z uroczymi sińcami pod oczami i przeźroczystą skóra pogryzam herbatniki i marzę o daniu bogów z płatami makaronowymi. Połykając pieczywo ryżowe myślę o jajecznicy, której tak mi brakuje w bursie, a pijąc niegazowaną wodę... Dobra koniec. Przestaję się dobijać.</p>
<p>I dzięki wszystkim za smsy, telefony itd. :) miłe, naprawdę, nawet się nie spodziewałam. :) Odpowiedz zbiorowa: czuję się chuj*wo</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MEDYTACJA A EGOIZM]]></title>
<link>http://zenforest.wordpress.com/?p=364</link>
<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 23:16:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>zenforest</dc:creator>
<guid>http://zenforest.wordpress.com/?p=364</guid>
<description><![CDATA[
Osho &#8220;Chrzescijaństwo&#8230;&#8221;

Pewien sanjasin powiedział mi, że jego rodzice, a szc]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://zenforest.wordpress.com/files/2008/03/ecstasundereye.jpg" /></p>
<p><i>Osho "Chrzescijaństwo..."<br />
</i><br />
Pewien sanjasin powiedział mi, że jego rodzice, a szczególnie matka, dokuczają mu bardzo, kiedy medytuje. Matka mówi: "Dlaczego marnujesz czas, siedzisz i nic nie robisz? Kogo chcesz oszukać, zamykając oczy? Lepiej poczytaj Biblię, idź do kościoła, pomódl się do Boga lub zrób jakiś cnotliwy uczynek. To, co nazywasz medytacją, to po prostu egoizm". Sanjasin zapytał mnie, co sam bym na to odpowiedział. Należy tu zrozumieć wiele rzeczy.</p>
<p>Po pierwsze, pozostając w nieświadomości nie jesteśmy w stanie wykonać żadnego cnotliwego czynu. Cnota pochodzi z głębokiej medytacji. Cnota jest kwiatem urzeczywistnienia, które mówi, że jesteś wieczny, nieśmiertelny, że jesteś boski. Cnotą jest czerpanie z tej boskości. W egzystencji, w istnieniu nie ma żadnej innej cnoty.</p>
<p>Ale wszystkie religie, szczególnie zaś chrześcijaństwo, podkreślają: "Wykonuj cnotliwe działania. Nie siedź w ciszy, to jest egoistyczne". Muszę więc powiedzieć, że kiedy odnosisz sukces, stajesz się bogatym człowiekiem, nikt ci nie powie, że jest to egoistyczne. Wszyscy cię chwalą, mówią, że to coś wielkiego. Kiedy odniosłeś sukces w polityce i zostałeś prezydentem czy premierem, nikt nie mówi, że jest to egoistyczne, wszyscy cię chwalą.</p>
<p>Na uroczystość celebrującą sukces prezydenta Busha wydano 30 milionów dolarów. Sukces nie jest egoistyczny, widzisz w czym rzecz? Bycie superbogatym nie jest egoistyczne, produkowanie materiałów do zniszczenia świata nie jest egoistyczne, gromadzenie broni nuklearnej nie jest egoistyczne...</p>
<p>Pewien mnich buddyjski wpadł do studni, pod którą akurat przebywał chrześcijański misjonarz. Misjonarz przyniósł wiadro i długą linę. Rzucił wiadro do studni i wyciągnął mnicha. Mnich powiedział:<br />
- Jesteś jedynym religijnym człowiekiem.<br />
- W istocie to je powinienem być tobie wdzięczny - stwierdził misjonarz - Ponieważ jeśli nie wpadłbyś do studni, to nie mógłbym się wykazać cnotą.<br />
Jestem przeciwny konfucjańskiej idei, która głosi, że każda studnia powinna być obmurowana. Gdyby tak było, nikt nie mógłby wpaść do środka! :) Żadne mury nie są potrzebne; w przeciwnym razie wszelka cnota, cała "moralność" i potrzeba służby zniknęłyby ze świata.<br />
<i><br />
Osho "Chrzescijaństwo..."</i></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[paradoks hari ulang tahun]]></title>
<link>http://zer0toinfty.wordpress.com/?p=20</link>
<pubDate>Fri, 29 Feb 2008 10:32:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>glubot</dc:creator>
<guid>http://zer0toinfty.wordpress.com/?p=20</guid>
<description><![CDATA[
paradoks hut merupakan salah satu paradoks yang muncul sebagai salah satu akibat olahan intelektual]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="Section1">
<p class="MsoNormal"><span class="SpellE"></span><span class="SpellE"></span><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Birthday_attack" title="kata wiki" target="_blank"><span class="SpellE"><span class="GramE">paradoks</span></span> hut</a> <span class="SpellE">merupakan</span> <span class="SpellE">salah</span> <span class="SpellE">satu</span> <span class="SpellE">paradoks</span> yang <span class="SpellE">muncul</span> <span class="SpellE">sebagai</span> <span class="SpellE">salah</span> <span class="SpellE">satu</span> <span class="SpellE">akibat</span> <span class="SpellE">olahan</span> <span class="SpellE">intelektual</span> <span class="SpellE">pada</span> <span class="SpellE">teori</span> <span class="SpellE">peluang</span>. <span class="SpellE">Paradoks</span> <span class="SpellE">ini</span> <span class="SpellE">sebenarnya</span> <span class="SpellE">merupakan</span> <span class="SpellE">teori</span> yang <span class="SpellE">muncul</span> <span class="SpellE">sebagai</span> <span class="SpellE">jawaban</span> <span class="SpellE">secara</span> <span class="SpellE">khusus</span> <span class="SpellE">masalah</span> <span class="SpellE">peluang</span> <span class="SpellE">kemunculan</span> <span class="SpellE">dua</span> <span class="SpellE">orang</span> <span class="SpellE">mempunyai</span> <span class="SpellE">hari</span> <span class="SpellE">lahir</span> yang <span class="SpellE"><span class="GramE">sama</span></span>. <span class="SpellE">Berdasarkan</span> <span class="SpellE">prinsip</span> <span class="SpellE">sarang</span> <span class="SpellE">burung</span> <span class="SpellE">merpati</span> <span class="SpellE">dalam</span> <span class="SpellE">kelompok</span> 366 <span class="SpellE">orang</span> <span class="SpellE">dan</span> <span class="SpellE">asumsi</span> <span class="SpellE">setahun</span> <span class="SpellE">ada</span> 365 <span class="SpellE">hari</span> <span class="SpellE">pasti</span> <span class="SpellE">ada</span> minimal <span class="SpellE">dua</span> <span class="SpellE">orang</span> yang <span class="SpellE">lahir</span> <span class="SpellE">pada</span> <span class="SpellE">hari</span> yang <span class="SpellE"><span class="GramE">sama</span></span>. <span class="SpellE"><span class="GramE">Prinsip</span></span><span class="GramE"> <span class="SpellE">ini</span> <span class="SpellE">jelas</span> <span class="SpellE">berbicara</span> <span class="SpellE">kepastian</span>, <span class="SpellE">tetapi</span> <span class="SpellE">dalam</span> <span class="SpellE">kehidupan</span> <span class="SpellE">nyata</span> <span class="SpellE">peristiwa</span> <span class="SpellE">alami</span> <span class="SpellE">erat</span> <span class="SpellE">hubungannya</span> <span class="SpellE">dengan</span> <span class="SpellE">ketidakpastian</span>.</span> <span class="SpellE">Bagaimana</span> <span class="SpellE">jika</span> <span class="SpellE">kita</span> <span class="SpellE">menginginkan</span> <span class="SpellE">sejumlah</span> <span class="SpellE">orang</span> <span class="SpellE">dikumpulkan</span> <span class="SpellE">sehingga</span> <span class="SpellE">peluang</span> <span class="SpellE">dua</span> <span class="SpellE">orang</span> <span class="SpellE">berulang</span> <span class="SpellE">tahun</span> <span class="SpellE"><span class="GramE">sama</span></span> paling <span class="SpellE">tidak</span> lima <span class="SpellE">puluh</span> <span class="SpellE">persen</span>. <span class="SpellE">Jawabannya</span> <span class="SpellE">merupakan</span> <span class="SpellE">inti</span> <span class="SpellE">dari</span> <span class="SpellE">paradoks</span> hut, <span class="SpellE">yaitu</span> <span class="SpellE">cukup</span> 23 <span class="SpellE">orang</span> <span class="SpellE">dikumpulkan</span>. <span class="SpellE"><span class="GramE">Jawaban</span></span><span class="GramE"> <span class="SpellE">ini</span> <span class="SpellE">tentu</span> <span class="SpellE">saja</span> <span class="SpellE">tidak</span> <span class="SpellE">mengada-ada</span> <span class="SpellE">semuanya</span> <span class="SpellE">logis</span> <span class="SpellE">secara</span> <span class="SpellE">matematika</span>.</span> <span class="SpellE"><span class="GramE">Teori</span></span><span class="GramE"> <span class="SpellE">inilah</span> yang <span class="SpellE">menjadi</span> <span class="SpellE">pendukung</span> <span class="SpellE">utama</span> <span class="SpellE"></span><span class="SpellE"></span> <span class="SpellE">masalah</span> <span class="SpellE">pertukaran</span> <span class="SpellE">memori</span> <span class="SpellE">dan</span> <span class="SpellE">waktu</span> <span class="SpellE">sebagai</span> <span class="SpellE">salah</span> <span class="SpellE">satu</span> <span class="SpellE">metode</span> <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cryptanalysis" title="kata wiki" target="_blank"><span class="SpellE">kriptanalisis</span></a>.</span> <span class="SpellE">Dengan</span> <span class="SpellE">batas</span> <span class="SpellE">kepercayaan</span> yang <span class="SpellE">cukup</span> <span class="SpellE">signifikan</span> <span class="SpellE">seperti</span> <span class="SpellE">ini</span> <span class="SpellE">kita</span> <span class="SpellE">dapat</span> <span class="SpellE">melakukan</span> <span class="SpellE">komputasi</span> yang <span class="SpellE">jauh</span> <span class="SpellE">lebih</span> <span class="SpellE">efisien</span> <span class="SpellE">dibandingkan</span> <span class="SpellE">jika</span> <span class="SpellE">kita</span> <span class="SpellE">melakukan</span> brute-forcing <span class="SpellE">secara</span> <span class="SpellE">menyeluruh</span> (ups, <span class="SpellE">bagaimanapun</span> brute-forcing <span class="SpellE">secara</span> <span class="SpellE">menyeluruh</span> <span class="SpellE"><span class="GramE">merupakan</span></span> <span class="SpellE">tindakan</span> <span class="SpellE">konyol</span>). <span class="SpellE">Melihat</span> <span class="SpellE">masalah</span> <span class="SpellE">diatas</span> <span class="SpellE">kita</span> <span class="SpellE">hanya</span> <span class="SpellE">perlu</span> <span class="SpellE">mencari</span> <span class="SpellE">dari</span> 23 <span class="SpellE">orang</span> <span class="SpellE">dibandingkan</span> <span class="SpellE">dengan</span> 366 <span class="SpellE">orang</span> <span class="SpellE">untuk</span> <span class="SpellE">mencari</span> <span class="SpellE">eksistensi</span> <span class="SpellE">dua</span> <span class="SpellE">orang</span> <span class="SpellE">berulang</span> <span class="SpellE">tahun</span> <span class="SpellE"><span class="GramE">sama</span></span>.</p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal">Mari <span class="SpellE">kita</span> <span class="SpellE"><span class="GramE">bergerak</span></span><span class="GramE"><span>  </span><span class="SpellE">lebih</span></span> <span class="SpellE">dalam</span>.</p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><span class="SpellE">Untuk</span> <span class="SpellE">suatu</span> <span class="SpellE">fungsi</span> f: X -&#62; Y, <span class="SpellE">dengan</span> Y <span class="SpellE">adalah</span> <span class="SpellE">himpunan</span> n <span class="SpellE">elemen</span>, <span class="SpellE">masalah</span> <span class="SpellE">secara</span> <span class="SpellE">umum</span> yang <span class="SpellE"><span class="GramE">akan</span></span> <span class="SpellE">kita</span> <span class="SpellE">bahas</span> <span class="SpellE">adalah</span>:</p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><span class="SpellE">Misalkan</span> p <span class="SpellE">adalah</span> <span class="SpellE">peluang</span> <span class="SpellE">suatu</span> <span class="SpellE">kejadian</span> (0 &#60; p &#60; 1), <span class="SpellE">cari</span> <span class="SpellE">nilai</span> k <span class="SpellE">sehingga</span> <span class="SpellE">untuk</span> <span class="SpellE">setiap</span> k <span class="SpellE">pasang</span> x<sub>i</sub>, <span class="SpellE">i</span> = 1<span class="GramE">,2</span>,…,k, <span class="SpellE">anggota</span> X yang <span class="SpellE">berbeda</span> <span class="SpellE">dan</span> <span class="SpellE">perhitungan</span> f(x<sub>i</sub>), <span class="SpellE">i</span> = 1,2,…,k <span class="SpellE">memenuhi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="GramE">P(</span>f(x<sub>i</sub>) = f(<span class="SpellE">x<sub>j</sub></span>)) ≥ p, <span class="SpellE">untuk</span> <span class="SpellE">suatu</span> <span class="SpellE">i</span> ≠ j.</p>
<p class="MsoNormal"><span class="SpellE">Dengan</span> <span class="SpellE">kata</span> <span class="GramE">lain</span>, <span class="SpellE">dalam</span> paling <span class="SpellE">banyak</span> <span class="SpellE">perhitungan</span> <span class="SpellE">fungsi</span> k kali <span class="SpellE">peluang</span> <span class="SpellE">terjadi</span> <span class="SpellE">tumbukan</span> <span class="SpellE">tidak</span> <span class="SpellE">kurang</span> <span class="SpellE">dari</span> p.</p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><span class="SpellE">Fungsi</span> f <span class="SpellE">harus</span> <span class="SpellE">memenuhi</span> <span class="SpellE">kriteria</span> <span class="SpellE">acak</span>, <span class="SpellE">yaitu</span> <span class="SpellE">memetakan</span> <span class="SpellE">nilai</span> yang uniform <span class="SpellE">di</span> X <span class="SpellE">ke</span> <span class="SpellE">nilai</span> yang uniform <span class="SpellE">di</span> Y. <span class="SpellE">Akibatnya</span> <span class="SpellE">perlu</span> #X &#62; #Y, <span class="SpellE">jika</span> <span class="SpellE">tidak</span> <span class="SpellE">mungkin</span> <span class="SpellE">terjadi</span> <span class="SpellE">beberapa</span> <span class="SpellE">fungsi</span> yang <span class="SpellE">tidak</span> <span class="SpellE">terjadi</span> <span class="SpellE">tumbukan</span> <span class="SpellE">sama</span> <span class="SpellE">sekali</span>.</p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><span class="SpellE">Sebagai</span> <span class="SpellE">contoh</span>, <span class="SpellE">misalkan</span> f <span class="SpellE">marupakan</span> <span class="SpellE">fungsi</span> <span class="SpellE">pengambilan</span> <span class="SpellE">sebuah</span> bola <span class="SpellE">dari</span> <span class="SpellE">keranjang</span> <span class="SpellE">berisi</span> n bola yang <span class="SpellE">diwarnai</span> <span class="SpellE">berbeda</span> <span class="SpellE">satu</span> <span class="SpellE"><span class="GramE">sama</span></span> lain, <span class="SpellE">merekam</span> <span class="SpellE">warna</span> bola yang <span class="SpellE">terambil</span>, <span class="SpellE">dan</span> <span class="SpellE">mengembalikan</span> bola <span class="SpellE">ke</span> <span class="SpellE">keranjang</span>. <span class="SpellE"><span class="GramE">Berarti</span></span><span class="GramE"> <span class="SpellE">masalah</span> <span class="SpellE">sekarang</span> <span class="SpellE">adalah</span> <span class="SpellE">mencari</span> k <span class="SpellE">sehingga</span> paling <span class="SpellE">tidak</span> <span class="SpellE">satu</span> <span class="SpellE">kecocokan</span> <span class="SpellE">warna</span> <span class="SpellE">terjadi</span> <span class="SpellE">dengan</span> <span class="SpellE">peluan</span> p.</span></p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><span class="SpellE"><span class="GramE">Misalkan</span></span><span class="GramE"> <span class="SpellE">y<sub>i</sub></span> <span class="SpellE">adalah</span> <span class="SpellE">warna</span> bola <span class="SpellE">pada</span> <span class="SpellE">pengambilan</span> <span class="SpellE">ke-i</span>.</span> Kita <span class="SpellE"><span class="GramE">akan</span></span> <span class="SpellE">pertimbangkan</span> <span class="SpellE">peluang</span> <span class="SpellE">jika</span> <span class="SpellE">tumbukan</span> <span class="SpellE">tidak</span> <span class="SpellE">terjadi</span>. <span class="SpellE"><span class="GramE">Tidak</span></span><span class="GramE"> <span class="SpellE">ada</span> <span class="SpellE">masalah</span> <span class="SpellE">pada</span> <span class="SpellE">pengambilan</span> <span class="SpellE">pertama</span>.</span> <span class="SpellE">Pada</span> <span class="SpellE">pengambilan</span> <span class="SpellE">kedua</span>, agar y<sub>2 </sub>≠ y<sub>1</sub>, <span class="SpellE">peluangnya</span> <span class="SpellE">adalah</span> 1 - 1/n. <span class="SpellE">pada</span> <span class="SpellE">pengambilan</span> <span class="SpellE">ketiga</span> <span class="SpellE">untuk</span> <span class="SpellE">menghindari</span> y<sub>3 </sub>≠ y<sub>1, </sub>y<sub>3 </sub>≠ y<sub>2</sub>, <span class="SpellE">peluangnya</span> <span class="SpellE">adalah</span> 1 - 2/n <span class="SpellE">dan</span> <span class="SpellE">seterusnya</span>. <span class="SpellE">Peluang</span> total <span class="SpellE">setelah</span> <span class="SpellE">pengambilan</span> k bola <span class="SpellE">sehingga</span> <span class="SpellE">tidak</span> <span class="SpellE">terjadi</span> <span class="SpellE">tumbukan</span> <span class="SpellE">adalah</span></p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal">(1 - 1/n)<span class="GramE">( 1</span> - 2/n)…( 1 - (k-1)/n)</p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><span class="SpellE">Untuk</span> n <span class="SpellE">cukup</span> <span class="SpellE">besar</span> <span class="SpellE">dan</span> x <span class="SpellE">relatif</span> <span class="SpellE">kecil</span>, <span class="SpellE">berlaku</span></p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal">(1 + x/n<span class="GramE">)<sup>n</sup></span> ≈ e<sup>x</sup> <span class="SpellE">atau</span> 1 + x/n ≈ e<sup>x/n</sup></p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><span class="SpellE">Jadi</span></p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal">(1 - 1/n)<span class="GramE">( 1</span> - 2/n)…( 1 - (k-1)/n) = ∏(1 + -<span class="SpellE">i</span>/n) ≈ ∏e<sup>-<span class="SpellE">i</span>/n</sup> = e<sup>-k(k-1)/2n</sup>.</p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><span class="SpellE">Kembali</span> <span class="SpellE">ke</span> <span class="SpellE">masalah</span> <span class="SpellE">awal</span>, <span class="SpellE">dengan</span> <span class="SpellE">menggunakan</span> <span class="SpellE">persamaan</span> <span class="SpellE">terakhir</span> <span class="SpellE">kita</span> <span class="SpellE">dapatkan</span> <span class="SpellE">bahwa</span> <span class="SpellE">peluang</span> agar <span class="SpellE">terjadi</span> <span class="SpellE">tumbukan</span> <span class="SpellE">adalah</span></p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal">1 - e<sup>-<span class="GramE">k(</span>k-1)/2n</sup>.</p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><span class="SpellE">Karena</span> <span class="SpellE">kita</span> <span class="SpellE">menginginkan</span> agar <span class="SpellE">nilai</span> <span class="SpellE">diatas</span> paling <span class="SpellE">tidak</span> p, <span class="SpellE">maka</span> <span class="SpellE">kita</span> <span class="SpellE">samakan</span> <span class="SpellE">terlebih</span> <span class="SpellE">dahulu</span> <span class="SpellE">persamaan</span> <span class="SpellE">terakhir</span> <span class="SpellE">dengan</span> p, <span class="SpellE">yaitu</span></p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal">1 - e<sup>-<span class="GramE">k(</span>k-1)/2n</sup> ≈ p.</p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><span class="SpellE">Selesaikan</span> <span class="SpellE">dalam</span> k, <span class="SpellE">diperoleh</span></p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><span class="GramE">k</span> ≈ (2n log(1/(1-p)))<sup>1/2</sup>.</p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><span class="SpellE">Untuk</span> p = 0.5 <span class="SpellE">dan</span> n = 365, <span class="SpellE">kita</span> <span class="SpellE">peroleh</span> k ≈ 22.49 <span class="SpellE">dan</span> <span class="SpellE">paradoks</span> hut pun <span class="SpellE">terpecahkan</span>. <span class="SpellE"><span class="GramE">Memang</span></span><span class="GramE"> <span class="SpellE">pada</span> <span class="SpellE">pandangan</span> <span class="SpellE">pertama</span> <span class="SpellE">hasil</span> <span class="SpellE">ini</span> <span class="SpellE">cukup</span> <span class="SpellE">bertentangan</span> <span class="SpellE">dengan</span> <span class="SpellE">intuisi</span>, <span class="SpellE">tapi</span> <span class="SpellE">pada</span> <span class="SpellE">kenyataannya</span> <span class="SpellE">tidak</span>.</span> <span class="SpellE"><span class="GramE">Malah</span></span><span class="GramE"> <span class="SpellE">hasil</span> <span class="SpellE">ini</span> <span class="SpellE">memberi</span> <span class="SpellE">dampak</span> <span class="SpellE">signifikan</span> <span class="SpellE">dalam</span> <span class="SpellE">mendisain</span> <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cryptosystem" title="kata wiki" target="_blank">cryptosystem</a> <span class="SpellE">dan</span> <span class="SpellE">protokol</span> cryptographic.</span> <span class="SpellE"><span class="GramE">Jika</span></span><span class="GramE"> <span class="SpellE">diberikan</span> <span class="SpellE">ciphertext</span> <span class="SpellE">kita</span> <span class="SpellE">dapat</span> <span class="SpellE">mencari</span> plaintext <span class="SpellE">dengan</span> <span class="SpellE">menghitung</span> <span class="SpellE">nilai-nilai</span> <span class="SpellE">fungsi</span> <span class="SpellE">acak</span> <span class="SpellE">untuk</span> data-data yang <span class="SpellE">juga</span> <span class="SpellE">acak</span> <span class="SpellE">sebanyak</span> k <span class="SpellE">perhitungan</span> yang <span class="SpellE">cukup</span> <span class="SpellE">kecil</span> <span class="SpellE">jika</span> <span class="SpellE">dibandingkan</span> <span class="SpellE">dengan</span> <span class="SpellE">mencacah</span> <span class="SpellE">semua</span> <span class="SpellE">kemungkinan</span> data <span class="SpellE">sebagai</span> <span class="SpellE">masukan</span>.</span> <span class="SpellE"><span class="GramE">Penyerangan</span></span><span class="GramE"> <span class="SpellE">seperti</span> <span class="SpellE">ini</span> <span class="SpellE">dikenal</span> <span class="SpellE">sebagai</span> <span class="SpellE">serangan</span> square-root (<span class="SpellE">perhatikan</span> <span class="SpellE">akar</span> n <span class="SpellE">pada</span> <span class="SpellE">persamaan</span> <span class="SpellE">terakhir</span>) <span class="SpellE">atau</span> <span class="SpellE">serangan</span> birthday.</span></p>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ondskabens problem]]></title>
<link>http://andreasvinther.wordpress.com/?p=13</link>
<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 22:15:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>andreasvinther</dc:creator>
<guid>http://andreasvinther.wordpress.com/?p=13</guid>
<description><![CDATA[Indledning
 
Ondskabens problem er et paradoks, der er opstillet af den græske filosof Epikur. Det]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align:justify;margin:10pt 0 0;"><span style="font-size:small;color:#4f81bd;font-family:Cambria;">Indledning</span></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Ondskabens problem er et paradoks, der er opstillet af den græske filosof Epikur. Det bygger på ideen om teodicieen – Guds retfærdighed. Problemet fremhæver det uforenelige i Guds almægtighed, alvidenhed og algodhed og eksistensen af ondt i verden.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<h3 style="text-align:justify;margin:10pt 0 0;"><span style="font-size:small;color:#4f81bd;font-family:Cambria;">Argumentet</span></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">P1: Gud eksisterer</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">P2: Gud er almægtig</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">P3: Gud er alvidende</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">P4: Gud er algod</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">P5: Algode væsner viser modvilje overfor alt ondt</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">P6: Algode væsner, der kan få ondt til at ophøre, vil straks gøre dette</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">K1: Gud viser modvilje overfor alt ondt (P4; P5)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">K2: Gud kan få alt ondt til at ophøre straks (P2; P6)</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><span><span><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">1.</span><span style="font-family:'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Uanset hvilket slutresultat lidelse har, kan Gud stoppe det med metoder, der ikke indebærer lidelse (P2)</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><span><span><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">2.</span><span style="font-family:'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Gud har ingen grund til ikke at udrydde ondt (K2,1)</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><span><span><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">3.</span><span style="font-family:'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Gud har ingen grund til ikke at handle straks (P6)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">K3: Gud vil udrydde al ondskab straks (K1; K2,2; K2,3)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin